PART 27 : Confession
***
Terbangun dalam keadaan tubuh yang hanya berbalut selimut tebal hingga menutupi leher, sepasang suami istri muda yang mulai terbiasa bangun dalam posisi saling berpelukan, pagi ini tampak malu-malu dengan adanya jarak tipis diantara keduanya.
Jarum jam telah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Namun keduanya tampak masih enggan untuk bangkit dari tempat tidur.
Alih-alih segera membersihkan diri, sepasang suami istri itu justru sibuk mencuri pandang lalu kompak memalingkan wajah lantaran malu yang tiba-tiba menggerogoti jiwa.
Sadar bahwa dirinya yang harus memulai percakapan, Prabu yang ikut-ikutan mencengkram ujung selimut lantas menoleh ke samping. Tepatnya pada keberadaan istrinya yang kini telah resmi menjadi seorang wanita.
Baru juga membuka mulut, Prabu kembali menutupnya lantaran tak kuat menahan senyum. Ia perhatikan wajah polos Kinan dari samping dengan senyum yang semakin mengembang lebar.
Kenapa sih, dia baru menyadari memiliki teman sekelas secantik Kinan setelah mereka menikah?
Demi apapun, Kinan memang cantik. Tapi pagi ini, kecantikan gadis--ah, maksudnya wanita itu semakin tumpah ruah yang membuatnya tersihir sampai-sampai tidak sanggup mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Masih sakit?"
Menggenggam tangan Kinan yang berada di atas selimut, Prabu bertanya dengan suara lembut hingga berhasil membuat wanita di sampingnya menolehkan kepala.
"Heum, sedikit." Jawab Kinan malu-malu lalu segera menundukkan kepala demi menepis rona di pipi.
"Maaf."
Wanita itu menggeleng.
"Nggak apa-apa."
Bukan salah Prabu. Toh mereka melakukannya setelah ia memberikan izin. Hanya saja laki-laki itu mengingkari janji. Semalam Prabu melakukannya lebih dari satu kali dan sekarang ia tengah mengkhawatirkan satu hal.
"Kalau aku hamil gimana?"
Kinan mengangkat kepala dengan ekspresi kalutnya.
Mereka memang telah menikah dan seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Lagi pula kalaupun hamil ia memiliki seorang suami. Hanya saja status mereka yang masih menjadi mahasiswa lah yang membuat ketakutan itu melingkupi diri.
"Aku takut, Prabu. Nanti kalau aku nggak bisa lanjutin kuliah gimana?"
Prabu memberi senyuman menenangkan lalu mengusap lembut surai panjang istrinya.
"Harusnya kita nggak perlu takut kalau tiba-tiba punya anak ya Kin? Tapi status kita yang masih jadi anak kuliahan yang membuat segalanya ruwet." Lalu ia terkekeh kecil. "Kalaupun hamil, ada aku yang siap bertanggungjawab. Tapi semoga aja jangan dulu ya, Kin?"
Sejujurnya Prabu pun tengah diliputi perasaan serupa. Sebab tadi malam ia ingat betul mengeluarkannya di dalam. Bukan disengaja, ia hanya terlalu berdebar hingga lupa bahwa mereka melakukannya tanpa persiapan apapun.
"Tapi kamu nggak usah terlalu khawatir Kin, semalam kita juga masih grasak-grusuk jadi nggak mungkin langsung jadi." Prabu meyakinkan sambil memamerkan cengiran lebarnya.
"Kalau kamu masih ragu, gimana kalau minum pil aja? Nanti aku yang pergi ke apotek."
Kinan menggeleng pelan.
"Nggak usah. Kamu benar, kita terlalu grasak-grusuk jadi nggak mungkin langsung jadi anak 'kan?"
Prabu mengangguk kuat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Kita
Romance--REPOST-- * Ini adalah kisah milik Prabu Dwi Ranjaya dan Kinandari Adya Rumaisya. Dua mahasiswa semester empat yang harus terjebak ke dalam pernikahan di usia mereka yang baru menginjak 20 tahun. Semua berawal dari kesalahpahaman yang membuat kedua...
