38 | Positif rindu

4.3K 532 73
                                        

PART 38 : Positif rindu

***

Tidak tahan dengan bau parfum salah seorang mahasiswa yang berjalan melewatinya, Kinan urung menyusul Prabu yang sedang beristirahat di ruang kesehatan. Wanita itu berlari cepat menuju kamar mandi terdekat untuk memuntahkan isi perut. Namun lagi-lagi yang keluar hanya saliva.

"Hoek, hoek,"

Berjongkok di pinggiran kloset, Kinan menyembunyikan wajah dibalik lekukan kaki usai membersihkan pinggiran mulutnya. Sudah beberapa hari ini dia selalu dibuat tersiksa oleh rasa mual yang sering kali datang tiba-tiba. Terutama bila mencium aroma yang terlalu menyengat.

"Gue sih yakin, Prabu kepaksa nikahin tuh cewek. Paling juga udah diapa-apain makanya di kawinin."

Kinan mengangkat kepala saat mendengar suara dari luar kamar mandi yang ia tebak sedang membicarakan dirinya. Mengingat tadi ada dua orang gadis yang melihatnya masuk dengan tatapan sengit.

"Biasa lah, keliatan banget nggak pernah di deketin cogan makanya sekali ada yang deket langsung rela di unboxing. Kalau Prabu cinta, nggak mungkin tuh cowok masih peduli sama Maura. Sekali murahan yang tetap aja murahan."

"Yoi, makanya gue nggak pernah percaya kalau PARF sesuci yang anak-anak bilang. Mereka sama aja kayak yang lain, demen main cewek."

Mengepalkan tangan di atas pangkuan, Kinan yang sudah tidak tahan mendengar tuduhan orang-orang padanya, segera berdiri lalu membanting kasar pintu kamar mandi.

BRAK!!

Kontan hal itu mengejutkan dua orang gadis yang sedari tadi membicarakannya dengan sengaja karena tahu ia ada di dalam salah satu bilik kamar mandi.

"KALIAN!"

Ia menunjuk keduanya bergantian.

"NGGAK USAH FITNAH ORANG! SEBELUM KENA AZAB, MENDING KALIAN TAUBAT." Ujarnya penuh penegasan sebelum berlalu keluar sambil menahan emosi.

Demi apapun, rasanya dia ingin menjambak dua orang tadi. Sayangnya dia sedang malas berurusan dengan orang bodoh yang dijelaskan sedemikian rupa akan tetap menganggap dirinya benar.

Berhenti melangkah sejenak untuk meredam amarah yang masih meletup-letup, Kinan mengigit bibir bawah sembari berusaha menahan laju air mata.

"Nggak usah cengeng Kin, lagian yang mereka bilang juga nggak bener." Ia berusaha menyemangati diri sendiri.

Masalahnya, sejak pagi dia sudah dibuat tidak nyaman dengan tatapan orang-orang yang mengasihinya setelah melihat postingan Maura yang memamerkan kepedulian Prabu pada gadis itu.

Mengingat Maura berstatus sebagai mantan kekasih suaminya, tentu saja postingan itu menjadi ramai.

Belum juga kemarahannya pada Prabu mereda, sikap menyebalkan orang-orang malah membuat ia semakin kesal pada laki-laki itu. Walaupun disisi lain juga merasa tidak tega pada suaminya yang sedang sakit.

"Emang paling bener ya rebahan di kamar ketimbang kuliah. Udah bikin pusing, hati malah makin emosi." Gerutunya sembari melanjutkan langkah.

Tahu begini ia ambil libur saja untuk seminggu ke depan sembari menenangkan pikiran.

"Gue pikir lo tadi langsung kesini Kin," Raka yang baru kembali dari kantin sambil membawa dua botol air mineral, tak sengaja berpapasan dengan Kinan di depan pintu ruang kesehatan.

"Mampir ke toilet dulu. Gimana keadaan Prabu, Ka?"

"Laki lo badannya masih panas tapi nggak mau minum obat. Dibawa ke klinik juga nolak."

Tentang KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang