36 | Setengah gila

4.5K 546 100
                                        

Jangan lupa vote & komen ..

***

PART 36 : Setengah gila

***

Tak mempedulikan rasa pusing setelah semalam hanya tidur selama tiga jam lalu berlanjut melawan angin pagi untuk mencari obat di apotek, pagi ini Prabu sudah sibuk berada di dapur untuk membuatkan istrinya bubur. Berbekal dari video youtube, laki-laki itu tampak serius mengikuti setiap langkah dengan penuh kehati-hatian.

"Kurang asin," gumamnya setelah mencicipi hasil kreasi bubur pertamanya lalu kembali menambahkan garam dan mencicipinya ulang.

"Ini baru pas."

Agak sedikit asin sebenarnya, tapi masih ditahap wajar.

Ya, menurutnya.

Tersenyum senang melihat hasil masakannya, Prabu segera menyiapkan bubur ke dalam mangkuk dan obat untuk Kinan yang tadi hanya keluar mengambil air wudhu lalu kembali mengurung diri di dalam kamar tanpa memberinya waktu untuk bicara.

Tok. Tok. Tok.

"Sayang, aku udah buatin kamu bubur buat sarapan sama bawain obat. Tolong buka pintunya ya?"

Mengusap titik-titik keringat menggunakan lengan tangan yang bebas, Prabu tidak menyerah dan kembali mengetuk pintu kamar.

"Kinan, kamu baik-baik aja 'kan? Aku bawain sarapan sama obat."

Satu menit.
Dua menit.

Tiga menit Prabu berdiri di depan pintu kamar tanpa adanya respon dari dalam buat laki-laki itu mendesah panjang.

"Aku memang salah, aku minta maaf, Kinan. Kamu boleh marah, kamu boleh nggak mau ngomong sama aku, silakan hukum saja aku. Tapi tolong, jangan hukum diri kamu juga. Kamu harus minum obat biar sembuh. Sekarang buka pintunya ya? Aku janji cuma nganterin bubur sama obat, habis itu aku langsung pergi."

Namun lagi-lagi tak ada tanggapan dari dalam yang semakin membuat Prabu frustasi.

"Kalau kamu nggak mau buka pintunya, aku bakal dobrak."

Bukan bermaksud mengancam, justru karena ia khawatir dan takut terjadi hal buruk pada Kinan yang tidak mengeluarkan suara apapun.

"Kinan, kamu baik-baik aja 'kan? Aku serius bakal dobrak pintu ini kalau kamu masih nggak mau buka atau ngomong sesuatu." Ujarnya sungguh-sungguh. "Aku hitung sampai tiga. Kalau dalam hitungan ketiga kamu--"

"AKU NGGAK MAU MAKAN!"

Teriakan dari dalam kamar berhasil membuat Prabu menghela napas.

Apa harus diancam dulu baru istrinya mau buka suara?

"Aku tahu sekarang kamu lagi benci banget sama aku. Tapi kamu harus tetap makan, Kinan. Obat yang tadi aku beliin juga belum kamu minum."

Prabu memijit pelipis saat tak lagi mendengar suara istrinya.

"Oke, aku bakal pergi. Tapi kamu harus janji, nanti keluar buat sarapan sama minum obat."

Tak ada respon apapun dari dalam.

"KINAN, KAMU DENGER AKU? AKU BAKAL PERGI ASAL KAMU MAU KELUAR BUAT MAKAN."

Istrinya masih tidak sudi berdekatan dengannya, jadi satu-satunya cara untuk membuat Kinan keluar kamar adalah dia harus mengalah dengan pergi dari apartemen.

"Kalau kamu nggak jawab berarti kamu nggak denger. Itu artinya aku bakal tetap berdiri di depan pintu sampai kamu keluar gara-gara kebelet pipis."

"IYAAAAA.."

Tentang KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang