PART 23 : Tanda merah
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit. Kinan yang terbangun karena ingin buang hajat sekaligus berniat membersihkan area pribadinya lantaran masih datang bulan, sontak mengeluarkan decakan saat lagi-lagi mendapati dua kancing teratas piyama yang ia kenakan sudah terbuka.
Tahu siapa pelaku yang selama tiga pagi ini mengacak-acak penampilannya, Kinan lantas memberi lirikan tajam ke samping. Tepatnya pada keberadaan seorang laki-laki yang masih tertidur nyaman sambil memeluk pinggangnya bak guling.
Bagian paling mengesalkan adalah mereka tidak memiliki guling satu pun dan Prabu menolak untuk membelinya.
Iya, dia tahu alasan dibalik penolakan itu. Tentu saja sebagai modus biar bisa memeluknya setiap malam.
Mendesah pelan, Kinan segera menyingkirkan tangan laki-laki itu dari pinggangnya lalu beranjak turun sambil memasang kembali kancing baju tidurnya yang terlepas.
Prabu itu licik sekali. Mentang-mentang dia susah bangun, suaminya itu selalu saja memanfaatkan keadaan dengan sangat baik saat dia sedang tertidur.
"Ihhhh,"
Berdiri di depan cermin kamar mandi usai menuntaskan hajat, Kinan bergidik ngeri melihat hasil kreasi bibir Prabu semalam.
Berbeda dari dua hari sebelumnya yang hanya memberi tanda samar, pagi ini dia bisa melihat dengan sangat jelas tanda kemerahan disekitar leher dan area dadanya.
"PRABU!!!" Serunya jengkel sambil menahan tangis.
Masalahnya, hari ini mereka sudah mulai masuk kuliah. Bagaimana dia akan menutupi tanda-tanda merah ini dari teman-temannya nanti?
"Ish! Udahlah, pake hijab aja ke kampus." Putusnya yang sudah tidak memiliki ide lain.
Kembali menatap tanda kemerahan buatan Prabu, wajah Kinan tiba-tiba saja bersemu meski masih ada dongkol dibalik dada.
Demi apapun, walaupun telah menjadi pasangan suami istri, namun rasa malu itu masih ada.
Ingin marah, tapi Prabu berhak menyentuhnya. Terlebih laki-laki itu sudah memberinya nafkah walaupun sebagai istri dia belum bisa melayani sang suami dengan baik. Bahkan setelah mereka tinggal bersama, Prabu lah yang selalu membeli makanan sementara dia hanya tinggal menyantap saja.
Dan mulai pagi ini, ia bertekad untuk mencoba belajar memasak. Kebetulan kemarin ibu mertuanya sempat mampir ke apartemen dan membawakan bahan pokok untuk keperluan dapur.
Klek.
"Udah mandi?"
Kinan tersentak kaget saat melihat Prabu sudah berdiri di samping pintu kamar mandi.
"Iya, tadi kebelet jadi sekalian mandi. Kamu kapan bangun?" Tanyanya sembari menaruh handuk.
Well, sekarang Kinan mulai membiasakan diri mengganti baju di kamar mandi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab akhir-akhir ini otak Prabu sedang teramat mesum hingga ia harus ekstra hati-hati meski sudah tiga hari ini kecolongan di tengah malam.
"Aku bangun gara-gara nggak ada yang bisa dipeluk lagi."
Kinan mendengkus pelan begitu melihat cengiran lebar Prabu. Laki-laki itu masih betah berdiri di samping pintu sambil bersandar pada tembok.
"Itu merah-merah kenapa Kin? Digigit nyamuk?"
Prabu sengaja menunjuk ke arah leher Kinan yang jelas sekali tanda kemerahan hasil kreasinya tadi malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Kita
Romansa--REPOST-- * Ini adalah kisah milik Prabu Dwi Ranjaya dan Kinandari Adya Rumaisya. Dua mahasiswa semester empat yang harus terjebak ke dalam pernikahan di usia mereka yang baru menginjak 20 tahun. Semua berawal dari kesalahpahaman yang membuat kedua...
