19 | Kembali

4.3K 417 41
                                        

Jangan lupa vote & komennya ceunahhhh

***

PART 19 : Kembali

***

Seperti halnya Raflesia, yang terlihat indah di mata namun kala mendekat maka bau tak sedap langsung menyapa. Begitu pula dengan keluarga yang Maura sebut sebagai rumah.

Dari luar tampak indah hingga siapapun merasa iri pada kehidupan yang ia miliki. Keluarga harmonis dan tidak kekurangan uang sedikitpun.

Sayangnya rumah yang orang-orang kira dipenuhi oleh kebahagiaan itu, menyimpan segudang luka yang tak mampu terlihat dari kejauhan.

Ayah dan ibunya yang katanya sudah tidak saling cinta memilih tetap bertahan demi anak. Namun kenyataannya mereka tidak pernah peduli lagi pada keberadaannya dan sang adik. Alasan bertahan hanyalah dusta demi menutupi kehancuran yang ada di dalam rumah mereka. Bahkan bisa dihitung berapa kali mereka bertemu dalam satu minggu. Orang tuanya kelewat sibuk hingga lupa bahwa anak-anak masih membutuhkan kasih sayang keduanya.

Selama ini, Maura hanya memiliki Prabu yang selalu memberi perhatian dan sangat mempedulikannya. Tak hanya pada dirinya, tetapi juga pada adik laki-lakinya yang kini telah berusia 8 tahun. Hingga terkadang ia merasa cemburu karena Prabu lebih banyak menghabiskan waktu di kedai alih-alih bersama dengannya.

Ya, Maura akui dirinya kekanakan. Bahkan meski ia telah melontarkan kata putus berulangkali, Prabu masih akan selalu kembali.

Namun kali ini tampaknya dia benar-benar kehilangan sosok itu dalam hidupnya. Dan semua itu karena keegoisan yang ia buat sendiri.

"Bintang kangen banget sama kamu, makanya dia minta datang kesini." Maura mengusap lembut kepala adik laki-lakinya yang sedang menerima suapan dari Prabu. "Seharian ini Bintang juga susah makan."

"Sakit lagi?"

Maura menggeleng.

"Ngambek soalnya Papa nggak jadi pulang. Padahal dari minggu kemarin udah janji mau ngajakin Bintang jalan-jalan."

Entah kesibukan apa yang dilakoni kedua orang tuanya sampai-sampai mereka jarang sekali pulang. Tapi dibanding sang ayah, ibunya lebih sering kembali ke rumah walaupun paling banyak tiga kali dalam satu minggu.

"Bintang yang nurut sama Kak Maura ya?" Prabu menasehati bocah laki-laki yang selalu menurut padanya itu. "Kalau nggak makan, nanti bisa masuk rumah sakit lagi loh, memangnya Bintang mau?"

Bocah laki-laki itu menggeleng.

"Bintang nggak suka bau rumah sakit Kak."

"Nah makanya Bintang harus makan yang banyak biar nggak sakit lagi."

"Tapi kalau Bintang sakit, Papa sama Mama jadi pulang, terus Bintang nggak kesepian deh."

Prabu terdiam. Begitu pula dengan Maura yang terlihat menghela napas.

"Bintang nggak boleh sakit." Prabu menggeleng tegas. "Nanti Kak Maura sedih. Memangnya Bintang mau ya, lihat Kak Maura nangis?"

"Nggak mau."

"Pinter, kalau gitu Bintang harus sehat. Oke?"

"Tapi Papa sama Mama jadi jarang pulang, Kak."

"Papa sama Mama 'kan lagi cari uang yang banyak biar Bintang sama Kak Maura selalu makan enak, terus bisa sekolah yang tinggi. Bintang cukup menjadi anak yang sehat biar kerja keras Papa sama Mama nggak sia-sia."

Bocah delapan tahun itu sempat terdiam sebelum kemudian menganggukkan kepala penuh semangat.

"Iya Kak."

Tentang KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang