22 | Bad mood

5.3K 420 33
                                        

Yok, yok, ramaikan 🤩✨

***

PART 22 : Bad mood

***

Dulu Kinan bercita-cita ingin bekerja sebagai anak kantoran di perusahaan besar yang memiliki puluhan lantai. Lalu menikah setelah dirasa mapan, kala itu ia menginginkan pernikahan di angka 27 tahun. Tidak pernah memusingkan perihal jodoh karena berpikir nanti akan ada waktunya Tuhan mengirim laki-laki yang mampu menjaganya dengan baik sebagaimana orang tua dan kakak laki-lakinya.

Namun siapa sangka di usianya yang baru menginjak 20 tahun, semesta tiba-tiba saja mengirimkan salah satu teman sekelasnya sebagai lelaki yang kini ia sebut sebagai suami.

Terlalu muda untuk menikah, masa depan mereka pun masih panjang. Namun kekhawatiran orang tua akan pergaulan anak-anak zaman sekarang membuat ia terpaksa menyetujui kemauan mereka untuk menikah muda. Beruntung ia mendapatkan mertua dan ipar yang sangat baik. Sosok laki-laki yang bergelar sebagai suami pun tak kalah baik sebenarnya, hanya saja sedikit menyebalkan karena hobi sekali menggodanya.

Menikah muda tak selamanya indah, pun tak selamanya buruk. Seperti halnya ombak, pasti ada pasang surutnya. Bukan hanya bagi mereka pasangan muda, tetapi juga semua kalangan dari muda bahkan sampai tua. Masing-masing dari mereka pasti memiliki masalah rumah tangga, namun yang membedakannya adalah bagaimana cara mereka menyikapinya.

Sebagai anak bungsu, Kinan yang terbiasa dimanja kini harus menjelma bak seorang kakak yang dipaksa untuk sabar menghadapi adik-adiknya yang sedang tantrum. Bedanya, saat ini bukan seorang bocah yang harus ia hadapi, melainkan laki-laki yang telah bergelar suami.

Prabu sedang bad mood hingga menolak untuk bicara hanya karena dia mendapatkan tamu bulanan tepat sebelum mereka memutuskan pulang ke apartemen. Dia tidak menyangka bahwa Tuhan langsung mengabulkan doanya.

Berbanding terbalik dari ekspresi wajahnya yang sumringah, Prabu justru memasang wajah cemberut disepanjang jalan. Bahkan setibanya mereka di apartemen, laki-laki itu mendadak sewot hanya karena dia menanyakan perihal kamar dan pada akhirnya menjadi sumber pertengkaran.

"Loh, kamarnya cuma satu?"

Kinan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat tinggal barunya lantas mengernyit saat tidak mendapati kamar lain di unit apartemen mereka.

"Memangnya kamu berharap ada berapa banyak kamar?" Prabu bertanya dengan nada suara yang terdengar agak sewot.

"Setidaknya ada dua."

Laki-laki itu mencebik lalu memberikan lirikan tajam ke samping.

"Maksudnya kamu nggak mau kita tidur sekamar?"

Sebenarnya Kinan tidak bermaksud begitu meski ada niatan sedikit. Hanya sedikit sungguh. Dengan adanya dua kamar setidaknya yang satu bisa mereka gunakan sebagai tempat penyimpanan barang. Maksud Kinan seperti itu, tapi Prabu yang sedang bad mood malah berpikiran lain.

"Kamu kenapa sih Kin, kayaknya benci banget ke aku? Bukannya kita udah sepakat buat saling menerima ya?"

"Bukan gitu maksudku Prabu,"

"Halahhh, bilang aja kamu masih nggak terima dengan pernikahan kita. Kan gara-gara nikah sama aku, kamu jadi nggak bisa pacaran sama Kieran."

Sontak Kinan memutar bola mata.

Dia memang pernah mengharapkan menjadi kekasih Kieran, tapi itu jauh sebelum membuat kesepakatan bersama Prabu. Sekarang dia sudah mulai menerima jalan hidupnya termasuk pernikahan yang tidak pernah disangka-sangka akan terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Tentang KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang