25 | Pajamas

4.7K 416 29
                                        

Jangan lupa vote & komen ..

***

PART 25 : Pajamas

***

Prabu benar-benar mengajaknya berkencan. Namun bukan pergi ke tempat-tempat romantis ala anak muda, melainkan festival jajanan yang seketika membuat binar bahagia di mata Kinan menyala-nyala.

Memiliki tinggi badan 158 cm dengan berat 54 kg, kadang Kinan masih suka mengeluh lantaran lemak yang hobi sekali menunjukkan eksistensinya terutama pada bagian perut dan pipi. Bagian paling menyebalkan adalah diet yang tak kunjung konsisten. Melihat makanan enak sedikit, mulut dan perut seketika mengkhianati niat.

Sama seperti yang terjadi pada siang menuju sore hari ini. Berbagai cemilan yang terhampar disepanjang mata memandang, membuat Kinan kalap dan akhirnya membeli banyak jajanan yang kini telah berada di dalam perut.

Bayangkan, ada banyak cemilan menggiurkan dan ia dibebaskan membelinya secara gratis. Maksudnya Prabu dengan suka rela mentraktir apapun yang dirinya mau.

Siapa yang akan menolak gratisan?

Ya, begitu lah akhirnya yang membuat Kinan tiba di apartemen dengan wajah lemas lantaran perut yang telah terisi penuh oleh makanan.

Memilih tiduran di sofa dengan kerudung yang sudah tidak lagi menutupi kepala, Kinan menoleh tanpa minat pada keberadaan kue pancong dan pisang lumer yang sebelumnya terlihat menggiurkan namun kini terpaksa ia bawa pulang mengingat perutnya sudah tidak mampu lagi menampung makanan.

"Gue pengin muntah," gerutunya sambil menggosok-gosok hidung. "Pokoknya kalau timbangan gue naik itu salah Prabu!" Ia mendumel yang disusul hela napas.

Demi apapun, rasanya dia tidak sanggup berdiri. Meski tubuh sudah gerah dan membutuhkan mandi, namun kenyataannya ia tidak sanggup untuk sekadar duduk.

Mendadak kenyang membuatnya ngantuk.

"Belum mandi juga?"

Prabu yang keluar dari kamar dengan wajah segar dan penampilan rapi, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Kinan yang masih bermalas-malasan di sofa.

"Aku nggak sanggup berdiri." Keluh istrinya sambil mengusap-usap perut. "Perutku rasanya mau meledak."

Sambil terkekeh geli, Prabu berjalan menghampiri Kinan yang kini memejamkan mata dengan sebelah kaki berada di lantai sementara satunya lagi selonjoran di sofa.

"Kan udah aku bilang, jangan kalap beli semuanya." Kekehnya sembari mengusap surai panjang istrinya yang dibiarkan tergerai. "Lagian kamu kayak orang nggak makan sebulan, apa aja dimakan."

"Salah kamu ngajakin aku kesana." Kinan membuka mata sambil memasang bibir cemberut.

"Pokoknya kalau timbangan aku naik, kamu harus tanggung jawab!"

"Loh, kenapa jadi aku?" Prabu mengerutkan dahi. "Perasaan yang minta dibelikan ini itu kamu deh,"

"Kan kamu yang ngajakin aku ke festival jajanan. Coba kalau kita nggak pergi kesana, mana mungkin aku kalap."

Memijit pelipis dengan senyum gelinya, Prabu hanya geleng-geleng kepala saja.

"Aku berangkat ke kedai sekarang ya?" Pamitnya yang langsung membuat Kinan mendongak.

"Pulang jam sebelas lagi?"

Seperti beberapa malam yang lalu, Prabu selalu pulang nyaris tengah malam dan biasanya Kinan sudah tidur nyaman di atas kasur mereka. Dan di saat-saat itu lah biasanya Prabu melancarkan aksi memberi tanda kemerahan di tubuhnya.

Tentang KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang