37 | Asing

4.3K 516 37
                                        

Jangan lupa vote & komen ..

***

PART 37 : Asing

***

Sudah tiga malam mereka tidur terpisah. Kinan yang masih ngambek menolak untuk berada satu kamar bersama Prabu yang sudah tiga malam ini tidur di sofa ruang tamu.

Sebenarnya ada perasaan tak tega mengingat laki-laki itu juga bekerja hingga malam. Namun yang ia lakukan justru membiarkan Prabu tidur di tempat yang sempit. Ingin menyuruh suaminya pindah ke kamar, tapi terlalu gengsi untuk mengatakannya. Padahal ia sendiri juga kesulitan tidur karena terus kepikiran Prabu yang pasti tidak nyaman tidur di sofa.

Dia yang seharusnya marah malah iba melihat kesabaran sang suami dalam menghadapi kemarahannya. Alih-alih balik mendiaminya, Prabu justru memperlakukan ia dengan sangat baik.

Tahu dirinya sedang marah, setiap pagi Prabu akan mengambil alih semua tugas. Termasuk memasak dan mencuci pakaian mereka, padahal dia sudah berniat membawanya ke laundry. Setiap pagi dia juga sengaja keluar kamar agak siang, namun lagi-lagi Prabu tidak marah. Laki-laki itu tetap menyambutnya dengan senyuman hangat.

Seperti pagi ini. Kinan yang semalam baru bisa memejamkan mata saat jarum pendek menunjukkan pukul satu dini hari, keluar dari kamar dengan wajah lesu. Wanita itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan lalu mendapati Prabu yang mengangkat sebelah tangan dari arah dapur. Tidak ketinggalan juga senyuman lebar laki-laki itu yang turut menyambut paginya.

"Aku lagi bikin nasi goreng, kamu tunggu di sofa sebentar ya?"

Menghela pendek, Kinan urung melangkah lalu kembali masuk ke dalam kamar.

Prabu yang melihat kepergian istrinya hanya bisa tersenyum kecut namun hal itu tidak menurunkan semangatnya sama sekali. Dia tidak akan menyerah hanya karena Kinan terus mendiaminya selama hampir tiga hari ini.

"Ck! Kenapa lo malah jadi nggak tega gini sih, Kin?" Gerutu Kinan yang sudah duduk bersandar di pinggiran ranjang.

Niat hati ingin mandi karena hari ini ia putuskan kembali kuliah setelah dua hari mengambil libur lantaran kepala yang masih pusing, justru dibuat tidak nyaman dengan sikap hangat Prabu yang tidak pernah kapok memberinya senyuman lebar kendati ia selalu mengabaikan laki-laki itu.

Bahkan beberapa hari yang lalu, Prabu rela pergi ke apotek jam tiga pagi hanya untuk membelikan ia obat setelah tahu ia muntah-muntah di kamar mandi.

Disisi lain dia masih marah, namun sisi lainnya merasa terenyuh dengan segala bentuk perhatian yang Prabu beri selama dirinya sakit.

Klek.

"Kinan, ayo sarapan. Nasi gorengnya udah jadi."

Menyembul dibalik pintu, laki-laki itu memberikan senyuman manis.

"Um, atau kamu mau sarapan yang lain? Biar aku beliin."

Kinan masih diam tanpa menoleh sama sekali.

"Kamu masih sakit?"

Prabu memasuki kamar untuk hampiri sang istri yang masih merajuk. Kinan benar-benar menolak berbicara dengannya selama tiga hari ini. Kalaupun bicara, pasti cuma sekadarnya saja. Namun subuh tadi ia dibuat senang karena sang istri sudah tidak lagi mengunci pintu kamar dan memperbolehkan ia masuk walaupun cuma sekadar mengambil baju atau basa-basi yang tidak ditanggapi.

"Nanti ambil baju sendiri di kamar. Aku lagi malas."

Walaupun Kinan berkata dengan nada dingin, tapi cukup membuat hatinya berbunga yang selama tiga hari terakhir ini, sangat sulit melakukan interaksi bersama sang istri. Jangankan mengobrol, baju miliknya saja ditaruh di sofa seolah Kinan sedang memperjelas keengganan wanita itu berada di satu ruangan bersamanya. Namun pagi ini ia seolah mendapat lampu hijau untuk hubungan mereka yang semoga saja bisa membaik karena ia benar-benar merindukan istrinya yang cerewet.

Tentang KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang