35 | Jarak

5.2K 482 77
                                        

PART 35 : Jarak

***

Lima bulan yang lalu, mereka hanyalah teman sekelas yang tak pernah bertegur sapa. Saling menganggap satu sama lain sebagai orang asing. Sampai kemudian takdir membawa mereka bertemu sebagai partner untuk tugas kuliah.

Siapa sangka, jika disana lah awal mula benang merah mereka terjalin.

Semesta tidak hanya menjadikan mereka sebagai partner kerja kelompok, tetapi juga partner hidup di usia mereka yang masih muda.

Rasa yang awalnya belum hadir meski telah berstatus sebagai suami istri, perlahan berhasil menyusup dibalik dada seiring kebersamaan mereka selama lima bulan terakhir.

Prabu yang hari ini melakukan kesalahan fatal dan merasa tidak layak untuk membela diri yang jelas-jelas telah melukai Kinan, menerima dengan lapang dada saat istrinya tiba-tiba keluar dari kamar hanya untuk memberikan ia satu buah bantal. Yang itu artinya, malam ini ia berakhir tidur di sofa ruang tv.

Menghembuskan napas panjang, Prabu melirik ke arah tembok yang menyembunyikan tubuh Kinan yang masih belum memaafkan dirinya. Ia pun segera merubah posisi menyamping, menghadap tembok seolah yang ia tatapan saat ini adalah sosok sang istri.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun ia masih terjaga lantaran hati dan pikiran yang belum sepenuhnya tenang meski tubuh rasanya sudah terlampau lelah.

"Kinan, aku minta maaf." Racaunya sambil memainkan jemari di atas meja.

"Aku salah karena udah ninggalin kamu buat nemuin Maura. Maafin aku yang udah lupain keberadaan kamu. Aku ngaku salah, Kin."

Menarik napas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, Prabu mengusap cepat air matanya.

Entah mengapa setelah insiden tadi sore, dia menjadi lebih sensitif dan mudah sekali menitikkan air mata. Dulu saat neneknya meninggal saja dia tidak sampai menangis walaupun sangat bersedih.

"Kinan, jangan diemin aku lagi."

Padahal baru beberapa jam Kinan mendiaminya, tapi rasanya sudah seperti berbulan-bulan lamanya.

"Besok pukul aku sepuas kamu asal nggak usah diemin aku kayak tadi."

Tidak peduli jika Kinan sudah tertidur pulas, Prabu masih sibuk mengoceh walaupun laki-laki itu tahu tidak ada orang yang mendengarnya.

"Maura cuma punya Bintang, makanya waktu tahu dia melakukan percobaan bunuh diri, aku sangat khawatir. Aku yang nggak mikir apapun langsung nemuin dia di rumah sakit." Lalu menghembuskan napas panjang sekali lagi. "Padahal kita mau naik bianglala ya, Kin? Tapi aku malah lupain kamu. Aku memang keterlaluan." Ia pukul-pukul kepalanya.

"Otakku kira-kira lagi kenapa ya, Kin? Kok bisa-bisanya lupa hampir satu jam. Biasanya nggak nyampe lima belas menit juga udah inget, ini malah kebangetan lamanya." Kini ia hanya bisa mentertawakan kebodohannya sendiri.

"Kamu wajar marah, wajar ngambek. Tapi Kin, boleh nggak kalau aku minta keringanan? Aku nggak masalah kamu pukuli sesuka hati asal jangan diemin aku. Rasanya aneh liat kamu yang biasanya cerewet tiba-tiba berubah jadi pendiam."

Prabu mengusap kasar wajahnya lalu terkekeh kecil.

"Padahal aku tahu kamu udah tidur, tapi aku malah sibuk ngoceh tanpa henti." Ia kembali terlentang dan menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.

"Kinan, aku minta maaf." Gumamnya yang perlahan mulai memejamkan mata.

Rasanya baru terlelap sebentar, Prabu terbangun saat mendengar suara berisik dari arah kamar mandi.

Tentang KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang