BAGIAN DUA PULUH DELAPAN

95K 3.9K 315
                                        

"Nana lagi sama Gev, gak sayang?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Nana lagi sama Gev, gak sayang?"

Dari seberang telepon Zola bertanya dengan nada khawatir.

"Iya Mommy."

"Dia gak kenapa-napa Na? Soalnya Mommy denger dia turun arena malam ini."

Shazana tolehkan kepalanya pada Gevano yang berada disampingnya. Laki-laki itu menggeleng, memberi kode bahwa Shazana agar jangan memberitahu pada Mommy nya.

"Nggak Mommy. Gev ada ini sama Nana."

"Syukur deh. Mommy udah khawatir dia turun arena malam ini. Soalnya kan abis hujan, jadi pasti licin, bahaya kalo balapan."

"Iya Mommy bener bahaya."

Sengaja Shazana tekankan kata 'bahaya' sembari matanya melirik sinis kearah sang kekasih.

"Iya makanya Mommy khawatir. Syukur kalo dia gak balapan."

"Iya Mommy."

"Yaudah makasih ya sayang, Mommy tutup teleponnya ya Naa."

Setelah sambungan telepon itu terputus Shazana langsung jauhkan tangan Gevano dari pinggangnya.

"Na ihhh."

Shazana menggeleng. Dia jelas marah, kesal, khawatir, campur aduk. Shazana sudah mewanti-wanti agar Gevano tidak turun ke arena malam ini, karena hujan pasti jalanan licin. Akan sangat berbahaya jika Gevano nekat untuk tetap balapan.

Tapi yang namanya Gevano, si turunan Daddy Genta keras kepalanya sama persis. Gevano anggap enteng larangan Shazana.

"Siniii." Gevano coba raih pergelangan tangan Shazana.

Karena tarikan Gevano yang lumayan, buat Shazana hampir oleng menubruk dada bidangnya. Shazana berdecak kesal menyingkirkan lengan Gevano yang menarik tangannya.

"Gak usah ngedecak gitu." Gevano sentil bibir Shazana.

"Sakit." Shazana memberengut.

"Maaf-maaf." Ibu jarinya mengusap-usap bibir yang tadi dia sentil.

Posisi duduk keduanya jadi lebih dekat. Bahkan satu kaki Shazana jadi naik pada paha Gevano.

Keduanya diam beberapa detik, saling tatap tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Sampai Shazana hela nafas berat. "Capek."

Kepala Gevano menggeleng cepat. "Naa ihh." Dia panik, takut Shazana beneran capek dengan tingkahnya.

"Aku capek marah, kesel, khawatir. Semuanya campur aduk buat aku capek."

Gevano jatuhkan kepalanya dibahu Shazana. Memejamkan mata ketika jemari Shazana usap lembut rahang tegasnya.

"Aku tuh marah, kesel karena khawatir. Takut, takut kamu kenapa-napa."

"Kan aku nya gak kenapa-napa sayang." Gevano makin benamkan wajahnya pada perpotongan leher kekasihnya.

GEVANO [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang