• 𝐒𝐐𝐔𝐄𝐋𝐋 𝐆𝐄𝐍𝐙𝐎 •
❌ DILARANG KERAS PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN ‼️
-
Perihal jatuh cinta semesta jagonya curang. Mempertemukan dua hati tanpa rasa lalu memisahkannya saat hati itu sudah sepenuhnya terpaut.
Gevano Zalahein Allyson-yang belum...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pekan pentas seni segera tiba. Itu artinya setiap kelas berlomba-lomba ingin menampilkan yang terbaik di pensi sekolah tahun ini.
Pendaftaran sudah dibuka dari dua hari yang lalu. Tapi belum seluruhnya yang mendaftar. Karena masih ada beberapa kelas yang masih bingung ingin menampilkan apa di pensi nanti.
"Jadi deal ya kelas kita bawain lagu Rewrite The Stars? Gue daftarin nih ya." Tania bertanya.
Vero sebagai ketua kelas mengangguk menyetujui. Tatapannya beralih pada Shazana yang terlihat masih ragu.
"Oke gak Na? Suara lo kan bagus. Cocok buat duet bareng Sam."
Samudra yang merasa namanya dari tadi disebut akhirnya menoleh. Lelaki irit bicara itu tak banyak protes saat tadi dirinya dipasangkan untuk bernyanyi bersama Shazana.
"Gak apa-apa Na. Sesekali berjasa buat kelas." Sahut Raga.
Shazana memutar bola matanya malas. Dia bukan gak mau berjasa buat kelas. Hanya saja agak sedikit ragu saat dipasangkan dengan Samudra. Bukan Shazana meragukan kemampuan bernyanyi Sam, bukan. Dia hanya bingung bagaimana nanti membangun chemistry dengan lelaki pendiam itu.
"Yaudah." Pasrahnya.
"Yang ikhlas Na."
"Ikhlas ini gue Ver anjir lah."
Vero tertawa. Kemudian menyuruh Tania untuk segera mendaftar.
"Cowok lo oke kan tapi?" Viola tiba-tiba bertanya.
Shazana menepuk jidatnya. Dia lupa kerisauan nya sedari tadi itu bukan hanya tentang Samudra. Tapi juga tentang Si Cupang!
"Gue lupa Vi."
Viola menghela nafas. "Udahlah. Ngambek itu laki lu nanti."
"Coba aja jelasin kalo ini buat kelas. Ngerti pasti lah si Gepanong." Raga menimbrung.
Shazana mengangguk, akan ia bicarakan dengan Gevano selepas pulang sekolah nanti.
Punggungnya dia sandarkan. Mata Shazana mengedar memperlihatkan teman-temannya yang lain sedang membagi tugas untuk pensi nanti.
Sampai matanya tak sengaja menatap manik mata hitam legam milik samudra. Lelaki sok misterius bagi Shazana. Sam tak punya teman dekat di sekolah. Bagaimana ingin punya teman jika bertegur sapa saja seakan sulit baginya. Shazana jarang sangat jarang berinteraksi dengan Samudra, bahkan bisa terhitung jari keduanya mengobrol, ah bukan mengobrol lebih tepatnya Shazana yang bertanya dan Sam menjawab sekedarnya.
Penampilan Samudra bukan seperti lelaki pendiam kutu buku pada umumnya. Malahan penampilannya urakan seperti anak berandal sekolah. Rambutnya tak pernah tersisir rapi, pasti selalu berantakan.
Merasa terlalu lama keduanya bertatapan. Samudra lebih dulu memutus. Sebelum kembali fokus dengan handphonenya, dapat Shazana lihat Samudra menunjukkan senyuman miringnya.