• 𝐒𝐐𝐔𝐄𝐋𝐋 𝐆𝐄𝐍𝐙𝐎 •
❌ DILARANG KERAS PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN ‼️
-
Perihal jatuh cinta semesta jagonya curang. Mempertemukan dua hati tanpa rasa lalu memisahkannya saat hati itu sudah sepenuhnya terpaut.
Gevano Zalahein Allyson-yang belum...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semakin mendekati hari pensi, semakin sering juga Shazana bertemu Samudra. Akhir-akhir ini bahkan Hari-harinya lebih banyak bersama Samudra ketimbang bersama Gevano pacarnya sendiri.
Tapi tenang saja, Shazana selalu izin kok. Shazana juga sudah beri Gevano pengertian. Walaupun tetap saja kadang cemburunya Gevano masih terlihat.
Ngomong-ngomong untuk latihan hari ini mereka memilih rumah Samudra untuk tempatnya. Sang tuan rumah pun tak keberatan.
Tak hanya mereka berdua, bahkan Viola, Raga dan Varo pun ikut kemari. Kalau Varo jelas kehadirannya disini sebagai penanggung jawab, karena bagaimanapun dia ini ketua kelasnya. Kalau untuk Raga dan Viola sebenarnya tak ada kepentingan, tapi biarlah dua orang itu hanya ingin ikut.
Di dalam kamar Samudra kelimanya duduk melingkar. Kamarnya tak terlalu besar, juga tak terlalu kecil. Kamar dengan nuansa biru muda itu terlihat lebih hidup daripada pemiliknya.
Awal masuk Shazana sempat terkejut, sebab warna biru muda seperti bukan warna Samudra sekali. Dibayangan Shazana tuh Samudra identik dengan warna hitam, abu-abu atau warna gelap lainnya.
"Nyokap bokap kemana Sam?" Varo bertanya sebab dari awal kedatangan mereka, dia tak melihat adanya orang tua dari Samudra.
"Bokap udah gak ada." Jawabnya.
"Eh? Sorry, gak bermaksud." Varo tak enak hati.
"Santai."
Sementara Shazana yang mendengarnya entah mengapa dadanya tiba-tiba sesak tanpa sebab. Nafasnya memburu, jantungnya berdegup lebih cepat seakan dia baru berlari dengan kencang.
"Na."
Shazana pejamkan keduanya matanya. Berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya dengan perlahan.
"You okey?"
Suara Samudra memecah konsennya. Kemudian Shazana menggeleng pelan. Aneh, Shazana tak tahu mengapa tubuhnya bereaksi seperti itu kala mendengar ucapan Samudra barusan.
"Nih, minum." Samudra menyerahkan segelas air dingin pada Shazana yang langsung diterima baik oleh sang empunya.
Samudra sudah tak sekaku saat awal berinteraksi dengan Shazana. Dia sudah mau lebih banyak merespon, bukan hanya sekedar anggukan atau gelengan kepala.
"Ini gue ditanyain panitia buat konfirmasi nama yang jadi perwakilan buat pensi." Ujar Varo memperlihatkan room chat nya.
"Nama panjang lo Shazana Zia Amerta?"
Shazana mengangguk membenarkan. Kemudian Varo beralih menatap Samudra.
"Lo siapa Sam?"
"Samudra." Balasnya singkat.
Raga dan Viola berdecak.
"Yeh Panjul! Nama panjang Sam buset dah." Raga greget sendiri jadinya.