• 𝐒𝐐𝐔𝐄𝐋𝐋 𝐆𝐄𝐍𝐙𝐎 •
❌ DILARANG KERAS PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN ‼️
-
Perihal jatuh cinta semesta jagonya curang. Mempertemukan dua hati tanpa rasa lalu memisahkannya saat hati itu sudah sepenuhnya terpaut.
Gevano Zalahein Allyson-yang belum...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Udah wangi buset dah." Janu geleng kepala.
Setelah menyemprotkan parfum kebeberapa bagian, Gevano dudukan dirinya diantara teman-temannya yang lain.
"Aduh deg-degan gue bangsat."
"Lo bukan mau kawin bjir." Glen sikut perut Gevano.
"Sama aja deg-degan tai." Gevano coba atur nafasnya.
"Cepet dah sana keburu kemaleman." Athala berucap.
Gevano mengangguk. Mengambil kunci mobil dan handphonenya. Dia masukan kedalam saku celananya.
"Nitip apart gue. Jangan diancurin ye bajingan."
Keempat temannya mengangguk. Setelah kepergian Gevano keempatnya baru bisa bernafas lega. Mereka disini sudah dari sore hanya untuk menemani Gevano yang sedang dilanda kegelisahan.
Gevano mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Malam ini Gevano cerah sekali, sinarnya melebihi cerahnya rembulan malam ini. Semoga nanti sinar yang cerah itu tidak redup ya.
Dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, dan celana jeans hitam yang robek di bagian dengkul menjadi perpaduan yang pas ditubuh atletisnya.
Mungkin ini akan menjadi pengalaman pertama untuk Gevano, maka dari itu Gevano gelisah bukan main. Sudah seminggu lebih dia bercerita pada Zola baiknya seperti apa, langkah yang harus dia ambil seperti apa. Karena hanya pada Mommy Gevano nyaman untuk bercerita tentang banyak hal.
Senyumnya mengembang sempurna mengingat ucapan terkahir Arkana sebelum sambungan telepon mereka berakhir.
"Saya titip hati anak saya ya Gevano?"
Ah, mungkin itu menjadi alasan terkuat senyum Gevano tidak luntur sejak tadi.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit untuk sampai dirumah Shazana. Dari kejauhan Gevano sudah lihat Shazana berdiri didepan gerbang rumahnya.
"Kok nunggu diluar?"
Shazana mengangguk, senyumnya merekah ketika Gevano menuntunnya masuk kedalam mobil.
"Biar gak kelamaan berangkatnya."
Gevano pakaikan Shazana seatbelt. Setelah memastikan Shazana nyaman dengan duduknya, baru dia kembali menancap gas.
"Mau ke bukit ya cupang?" Kepala Shazana menoleh kesamping.
Gevano menganggukan kepalanya. Shazana menatapnya bingung, tumben pikirnya si cupang diam saja malam ini.
Mendengar Gevano hembuskan nafas berat Shazana tatap lagi lelaki disampingnya itu. Sebenarnya Gevano ini kenapa sih? Shazana rasa dirinya tak buat salah, tapi kenapa Gevano seakan mendiaminya malam ini?
"Cupang."
"Hm?"
Shazana tak palingkan pandangannya ke arah lain. Ia tatap wajah Gevano yang datar aja sedari tadi. Jakun lelaki itu naik turun membuat Shazana salah fokus.