BAGIAN EMPAT PULUH SATU

71.9K 2.9K 57
                                        

Pintu cokelat muda yang memiliki gantungan bertuliskan Ruang Musik  itu diketuk dua kali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pintu cokelat muda yang memiliki gantungan bertuliskan Ruang Musik itu diketuk dua kali. Karena yakin orang didalamnya tak akan menyahut, Shazana lebih dulu membukanya pelan.

Kepalanya lebih dulu menyembul. Dapat ia lihat Samudra sudah ada di dalam. Lelaki jangkung itu seakan tak perduli akan kehadirannya, dan tetap terfokus pada ponselnya.

Shazana mendekat. Memilih duduk disamping Samudra yang terlampau fokus pada ponsel digenggaman tangannya.

Shazana dia harus apa sekarang. Rasanya canggung sekali berada di dalam satu ruangan dengan Samudra. Keduanya tak pernah ada dalam posisi ini sebelumnya.

"Mau mulai sekarang gak Sam latihannya?"

Yang lelaki mengangguk. Menaruh ponselnya diatas meja. Kemudian tatapannya terfokus pada Shazana. Perempuan dengan rambut panjang yang selalu dihiasi dengan aksesoris berbeda tiap harinya.

Lucu.

"Sam?"

Buyar lamunannya. "Hm?"

"Play aja lagunya. Kita latihan sekarang aja, biar gak kelamaan."

Setelah itu keduanya mulai berlatih untuk pensi nanti. Mungkin nanti keduanya akan lebih sering berinteraksi setelah ini.

Suara merdu dari kedua remaja berbeda jenis itu mampu buat ruang musik yang tadinya sunyi menjadi lebih hidup.

"Kurang tinggi atau pas nadanya?"

Samudra tarik sedikit sudut bibirnya, hanya sedikit. Kemudian ia beri gelengan kepala.

"Geleng tuh apa maksudnya?"

"Udah oke."

Shazana hela nafas. Mencoba sabar menghadapi patung yang sialnya harus dia hadapi untuk seminggu kedepan. Mungkin dalam seminggu ini waktunya banyak dihabiskan dengan Samudra si irit bicara.

"Susah banget buat ngomong ya Sam Kenapa sih?"

"Gak biasa."

"Makanya dibiasain Sam. Ngomong tuh gratis kok. Lo gak harus bayar, nggak. Minimal ngomong buat hal yang penting aja deh gak apa-apa. Lo tuh kadang hal penting aja gak ngomong, lo cuma geleng atau ngangguk doang. Kaya tadi deh contohnya, gue nanya pendapat lo cuma geleng. Kan kalo gitu mana gue ngerti, Samudra."

Shazana tak sadar saat berucap panjang lebar ada sepasang mata yang tak berkedip melihatnya. Tubuh Samudra bersandar, tangannya dilipat dikedua dada. Matanya fokus perhatikan Shazana yang bicara panjang lebar.

"Eh?----" Shazana bingung saat dengan tiba-tiba Samudra menjentikkan jari dihadapannya.

"Berisik."

"Gue tuh ngasih tau biar lo--"

GEVANO [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang