BAGIAN DUA BELAS

98.6K 3.9K 88
                                        

Gevano berlari dengan cepat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gevano berlari dengan cepat. Tawanya mengudara dengan keempat temannya yang lain.


"Warbeh di jaga Pak Ipul anjing." Panik Janu.

"Taman cok taman." Athala berteriak memanggil empat temannya yang kini bingung harus ngumpet dimana.

Jika yang lain ikut Athala untuk ngumpet ditaman, lain dengan Gevano yang malah belok ke perpustakaan. Dia capek banget, makanya nyari tempat adem.

Kayaknya udah nggak bisa dihitung berapa banyak dosa yang dibuat Gevano beserta komplotannya. Satu hari nggak ngulah kayanya meriang mereka.

Tadi Gevano dan empat temannya mengendap-endap mengambil sendal swallow kesayangan Pak Mudi. Beliau emang terkenal galak bukan main. Karena kesal tiap hari kena marah Pak Mudi, si komplotan biang onar balas dendam dengan cara ngambil sendal kesayangan Pak Mudi lalu mereka taruh di samping pot bunga dekat koperasi. Jarak dari ruang guru ke koperasi lumayan jauh makanya biar sekalian aja ngerjain si Mudi kalo kata Glen.

Sembari mengatur nafasnya Gevano tutup kembali pintu perpustakaan. Pandangannya mengedar. Ternyata perpustakaan SMA Sky lumayan luas dan Gevano baru menyadari itu. Dia pandangi tempat yang nyaris tak pernah ia kunjungi ini.

Gevano memang pintar, tapi temannya bukan perpustakaan. Gevano juga tak terlalu suka membaca. Katanya jika terus-terusan melihat tulisan dibuku membuatnya mengantuk, makanya Gevano tak begitu suka membaca.

Ia melangkah menelusuri tiap rak besar yang isinya cuma buku-buku. Gevano nggak minat buat ngambil salah satunya. Karena niatnya kesini bukan buat baca.

"Azab kubur. Apa-apaan anjing buku begituan." Gevano bergedik setelah membaca judul di salah satu buku yang dia lihat.

"Bang tumben." Itu suara Damian, adik kelas Gevano yang cukup akrab dengannya.

"Ngadem gue."

"Ngadem apa ngadem Lo bang?"

Gevano tertawa. "Biasa."

"Siapa yang Lo jailin kali ini?"

"Si Mudi."

"Anying bener-bener dah." Damian geleng kepala.

"Nyari apaan lu disini? Kaga ada cewe disini Dam."

Damian meninju lengan atas Gevano. "Buset kaga anying bang. Disuruh nyari buku ini ni sama Pak Heru." Damian mengangkat dua buku ditangannya.

"Noh Kak Nana." Tunjuk Damian pada perempuan yang kesusahan mengambil buku yang letaknya lumayan tinggi.

Senyum Gevano mengembang. Menepuk dua kali pundak Damian, setelah itu pergi menghampiri Shazana.

"Tinggi banget sih!." Keluh Shazana. Kakinya berjinjit agar bisa sampai.

Jika kalian pikir adegannya seperti di novel-novel pada umumnya, oh tidak. Gevano hanya diam memperhatikan Shazana dari belakang.

"Jangan pendek-pendek makanya Lo."

Shazana terlonjak kaget ketika suara Gevano masuk indra pendengarannya. Ia berbalik badan mendapat Gevano bersidekap dada dengan senyum miringnya.

"Berisik!"

Gevano terkekeh. Kemudian duduk dibangku yang tersedia disana. Dari sini ia masih bisa melihat Shazana yang kesusahan mengambil buku.

"Mau gue ambilin nggak?"

Shazana tak menggubris. Kenapa harus bertanya? Kan jika ada niat membantu harusnya langsung saja. Shazana mendumel kesal.

"Eaaaa." Sorak gembira Gevano kala Shazana melompat tapi masih tak sampai.

"Kurang tinggi Na."

Shazana melirik sinis. Kembali berjinjit, berharap kali ini bukunya berhasil didapatkan.

"Jinjit ampe gemeteran gitu."

Alih-alih membantu. Si cupang malah menjadi komentator dadakan. Tawanya terhenti kala lelaki jangkung menghampiri Shazana.

"Maaf, perlu dibantu kak?"

Gevano berjalan cepat. Menghampiri Shazana dengan tatapan tajam mengarah pada adik kelas yang kini berniat membantu Shazana.

"Gak perlu. Pergi Lo kadal!" Dengan kasar Gevano dorong pundaknya dengan kencang.

Shazana membolakan matanya. Ia meringis tak enak pada adik kelas baik yang tadi niat membantunya. "Maaf ya. Tadi niatnya kalo boleh gue minta tolong ambilin buku itu."

Alis Gevano menukik. Kenapa Shazana malah meminta bantuan pada kadal ini?

"Oh boleh kak."

Baru selangkah maju ingin mengambil buku yang tadi ditunjuk Shazana, kakinya lebih dulu ditendang Gevano membuat tubuhnya oleng.

"Lo apaansih!" Marah Shazana. Ia mencoba membantu lelaki yang kini jatuh membentur lantai.

Melihatnya semakin membuat Gevano jengkel. "Anjing." Desis Gevano menginjak tangan adik kelas yang baru ketahui namanya Ferdi, melihat bet di baju seragamnya.

"Gevano!" Shazana memukuli lengan Gevano brutal agar lelaki itu berhenti menginjak lengan Ferdi.

"Kalo lo minggir, si kadal ini gue lepasin."

Walaupun masih kesal tapi Shazana memilih mundur selangkah. Menatap tak enak pada Ferdi yang kini juga menatapnya.

"Bangun." Titah Gevano menarik kerah baju seragam Ferdi. Memaksanya berdiri.

"Gue cuma niat bantu kak--"

"Gak peduli anjing. Jangan coba-coba lagi Lo deketin sama Shazana kalo gak mau gue hajar abis-abisan!"

Setelah Ferdi meminta maaf, Gevano lepaskan anak kadal itu. Menatap kesal pada Ferdi yang kalang kabut berlari meninggalkan perpustakaan.

"Gila." Shazana menggeleng tak habis pikir. Kesal sudah pasti. Gevano ini jadi seenaknya. Mentang-mentang akhir-akhir ini hubungan keduanya sudah mulai membaik tapi bukan berarti Gevano bisa seenaknya begini.

Bukan sekali dua kali Gevano berlaku kasar pada orang yang terang-terangan mendekati Shazana. Cowok itu seakan mengklaim bahwa Shazana adalah miliknya, jangan coba-coba mendekat jika tak mau babak belur nantinya.

Shazana duduk ditempat yang tadi Gevano tempati. Moodnya benar=benar tak bagus saat ini. Ia buka kasar lembaran buku tulis bahasa Indonesia. Mulai mengerjakan tugas dengan suasana hati yang tak bagus.

Gevano menghampiri, memberikan buku yang tadi Shazana butuhkan. Ditariknya satu kursi untuk dia duduki.

"Na."

Shazana hanya melirik sekilas, kembali fokus pada tugasnya. Sedangkan Gevano memilih menaruhnya dihadapan Shazana.

"Liat gue dulu sini." Gevano tarik pelan pundak Shazana.

"Lo bisa pergi gak? Ganggu banget!"

Gevano tunjukkan smirknya ketika mendengar ucapan Shazana barusan. Pedes juga omong si bocil kalo lagi marah.

BERSAMBUNG

Sesekali berantem 😀

GEVANO [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang