BAGIAN LIMA PULUH SATU

60.4K 2.6K 22
                                        

Selepas pulang sekolah Gevano langsung membawa Shazana ke apartemennya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selepas pulang sekolah Gevano langsung membawa Shazana ke apartemennya. Apalagi jika tidak menuntut penjelasan soal kuliah Shazana diluar negeri.

"Belajarnya istirahat sebentar ya Na." Pintanya.

Gevano pinta Shazana untuk beristirahat sebentar dari belajarnya karena dia butuh penjelasan perempuan itu.

Shazana anggukan kepalanya pelan. Tatap Gevano yang berinya tatapan menutut penjelasan. Shazana tahu ini akan terjadi, dari jauh hari sebelumnya dia sudah banyak memikirkan.

"Ngobrolnya pake kepala dingin ya? Aku gak mau abis ini kita malah berantem. Bisa ya cupang?"

Gevano mengangguk ragu. "Bisa."

Tangan Gevano dia bawa kepangkuan, mengusapnya pelan berikan rasa nyaman untuk sang empunya.

"Aku udah lama ngobrolin masalah ini sama orang rumah, bahkan jauh sebelum aku deket sama kamu."

Baru awal Gevano sudah dibuat bungkam. Shazana sudah pikirkan ini jauh sebelum keduanya dekat, tandanya ini memang sudah matang menjadi bagian dari masa depannya.

"Dimana?"

Shazana mengulas senyum. "Melbourne Australia."

Pundak Gevano turun. Helaan nafas gusar terdengar. "Anna."

"Impianku Gev, bahkan jauh sebelum aku kenal kamu. Hampir satu tahun aku coba bujuk Ayah buat kasih izin aku kuliah diluar negeri, sampai akhirnya Ayah kasih izin. Aku juga belajar dari malem ketemu pagi. Itu semua gak gampang Gev." Lirih Shazana.

"Universitas terbaik di Indonesia memang banyak, tapi yang aku mau bukan disini."

Shazana tahu Gevano sulit menerima keputusannya. Tapi keputusannya untuk berkuliah diluar negeri sudah bulat. Restu Ayah sudah ia dapat, tak ada lagi halangan untuknya berangkat mengejar impian.

"Kamu tau aku paling gak bisa LDR Na."

Shazana anggukan kepalanya. Bergeser agar semakin dekat dengan Gevano. Tangannya terangkat usap rahang tegas yang kini menegang.

"Iya aku tau. Tapi tolong dukung impianku Gev." Ucapnya pelan. Shazana mau Gevano mengerti.

Sementara Gevano masih perang lawan egonya. Disatu sisi ia sangat mendukung impian kekasihnya, tapi disisi lain Gevano tak mau ditinggal.

Gevano ini sudah jatuh pada Shazana. Rasanya ingin selalu bersama kekasihnya. Gevano tak mau ditinggal apalagi berjauhan dengan jarak sejauh itu.

"Aku ikut. Aku bisa bilang Daddy buat daftar dikampus yang sama kaya kamu."

Shazana pejamkan mata. Dia lupa akan Gevano dan keras kepalanya yang harus dia hadapi.

"Gev, bisa gak jadi dewasa buat kali ini aja?"

"Menurut kamu kekanakan kah?"

Shazana sunggingkan senyum miringnya. "Jelas. Aku cuma minta kamu dukung impian aku. Aku pun sebaliknya bakal dukung impian kamu."

GEVANO [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang