BAGIAN TIGA PULUH EMPAT

80.6K 3.6K 264
                                        

"Denger aku dulu!" Suaranya meninggi buat sang lawan bicara tersentak kaget

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Denger aku dulu!" Suaranya meninggi buat sang lawan bicara tersentak kaget.

Gevano dan emosinya menguasai saat ini. Dia bawa Shazana ke apartemennya untuk jelaskan semuanya. Luruskan kesalahpahaman yang terjadi.

"Apa yang mau kamu jelasin apa? Alasan kamu lupa jemput aku karena keasikan main? Atau kamu yang lebih milih nemuin dia dan ninggalin aku dilapangan basket waktu itu? Oh, atau masalah hotel kemarin malam?"

Shazana hapus kasar air matanya yang terus mengalir deras. Dia balas tatapan Gevano tak kalah tajam.

"Yang mana? Yang mana yang mau kamu jelasin ke aku?"

Tangannya yang Gevano genggam dia remat. Shazana ini emosi, marah, kecewa, sedih. Semuanya campur aduk.

Sementara Gevano tatap Shazana yang terlihat sangat kacau. Semua karena dirinya, Gevano akui.

"Aku gak masalah kamu gak bisa jemput aku waktu itu. At least kabarin. Aku gak maksa kamu jemput aku kalo emang kamu gak bisa."

"Aku ketakutan, aku sendirian. Dan parahnya lagi aku tau kalo alasan kamu gak jemput aku itu karena lupa."

"Aku benci banget——kenapa aku se-menyedihkan itu..."

Shazana gemetar. Tak kuasa menahan sesak di dadanya.

"Masalah kita belum selesai, kamu belum jelasin apapun ke aku. Tapi kamu lebih milih nemuin dia daripada jelasin masalah kita sebelumnya."

"Aku udah sempet ajak kamu Na———"

"Ngapain aku ikut kamu buat ketemu dia yang jelas-jelas buat kita jadi berantakan gini?"

"Bukannya udah keliatan jelas? Aku kalah Gev, aku gak sepenting itu buat kamu."

Kepala Gevano dengan cepat menggeleng. Menyanggah ucapan Shazana barusan. "Nggak sayang, nggak."

"Nggak nggak tapi kelakuanmu berbanding terbalik."

"Maaf."

Shazana tersenyum getir. "Maaf kamu sekarang gak akan merubah kejadian kemarin. Marahku belum ilang, kecewaku masih kerasa."

Gevano mengangguk mengerti. Terlambat atau tidak yang namanya berbuat salah harus meminta maaf kan? Jadi Gevano tetap lontarkan beribu maaf pada Shazana yang hatinya sudah dia lukai.

Shazana dia tarik mendekat. Dia tatap lekat mata indah itu yang dari tadi mengeluarkan air mata.

"Maaf sayang. Maaf gak jemput kamu waktu itu, buat kamu ketakutan sendirian. Maaf." Gevano berucap pelan.

"Maaf karena buat kamu ngerasa kalah karena aku lebih milih nemuin Clara waktu itu dan ninggalin kamu. Kamu gak pernah kalah Na, sampai kapanpun gak akan pernah."

Gevano jeda ucapannya. Tatap lekat Shazana yang masih menangis. Ah, baru kali ini Gevano merasa dirinya se-brengsek ini.

"Kamu gak lagi bersaing sama siapapun Na. Dan kamu gak akan pernah kalah sayang, nggak akan."

GEVANO [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang