BAGIAN DUA PULUH ENAM

92K 3.8K 153
                                        

Pagi yang cerah ini Gevano sengaja berangkat lebih awal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi yang cerah ini Gevano sengaja berangkat lebih awal. Dia memang ada niat membawa Shazana untuk sarapan bubur terlebih dahulu, seperti janjinya saat sambungan telepon malam tadi.

Semenjak menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, telfonan dimalam hari seperti rutinitas bagi keduanya.

"Masih ngantuk?" Gevano usap kepala Shazana yang berada dipundaknya.

"Dikit."

"Semalem tidurnya kemaleman emang?"

"Iyalah kamu yang minta temenin main game sampe tengah malem!" Shazana cubit kecil perut Gevano.

Sementara Gevano terkekeh kecil. Dia masih belum biasa denger Shazana ubah panggilan jadi aku-kamu. Gevano itu masih sering salting, kadang gak percaya kalo sekarang Shazana jadi pacarnya.

"Hari ini aku mau dikuncir, soalnya hari ini olahraga."

Gevano mengangguk. "Iya nanti dikuncirin."

Shazana tersenyum senang. Semenjak pacaran sama si cupang, Shazana jadi malas kuncir rambut sendiri. Dia lebih suka Gevano yang kuncirin, soalnya kadang Gevano punya banyak ide buat kuncirin rambutnya biar gak gitu-gitu aja.

"Makasih mang." Ucap keduanya bersamaan setelah mamang bubur mengantarkan pesanan mereka.

Shazana tegakan tubuhnya. Bahunya merosot ketika melihat bubur miliknya malah diberi daun bawang, sedangkan tadi Shazana sudah berpesan agar tak usah dipakaikan daun bawang.

"Mamangnya lupa kali ya? Mau aku pesenin lagi?" Gevano usap pipi Shazana.

"Nanti yang ini gimana? Masa dibuang, mubazir dong."

Gevano terkekeh, "ini aku aja yang makan. Kamu aku pesenin lagi ya?"

Shazana diam beberapa saat. Kemudian menggelengkan kepalanya. "Gak usah, aku makan ini aja gak apa-apa."

Gevano mana tega melihat itu. Dia tahu Shazana paling anti dengan daun bawang. Jadi Gevano tarik mangkuk bubur Shazana, menyingkirkan daun bawang dan memindahkannya pada mangkuk bubur miliknya.

Shazana lihat bagaimana Gevano dengan telaten memindahkan satu persatu potongan daun bawang itu. Sudut bibirnya mengembang sempurna.

Setelah Gevano pastikan sudah tidak ada lagi daun bawang dalam mangkuk bubur Shazana, dia kembalikan lagi pada pemiliknya.

"Makasih ya."

Gevano mengangguk, mengusak rambut Shazana gemas. Lalu keduanya memakan bubur sambil sesekali bercerita. Shazana lebih banyak bercerita, Gevano bagian mendengarkan.

Keduanya selesai bersama. Shazana menyerahkan kunciran berwarna merah muda pada Gevano.

"Kuncir biasa aja ya? Nanti rambutnya kusut kalo kuncirnya aneh-aneh, kamu banyak gerak soalnya nanti."

GEVANO [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang