8. Leo

11K 816 23
                                        

Budayakan klik vote sebelum baca
Ketik komentar setelah membaca.




Laluna melangkahkan kaki dengan gontai, matanya sembab. Sepanjang perjalanan di taxi, dia menangis. Bagaimana bisa Arjunka dengan gamlang bilang kalau Laluna bukan dunianya, tidak bisakah Arjunka menyenangkan hatinya sedikit saja. Laluna mulai berharap banyak, seharusnya tidak perlu.

Laluna yang akan memasuki kamarnya, terhalang oleh tubuh yang berdiri menjulang di hadapannya. Laluna menatap orang tersebut yang tengah memperhatikannya, keningnya mengkerut tapi ia hanya diam saja.

Laluna menghela nafas "Abang ga nanyain Laluna kenapa?" Tanya Laluna pada Leo yang berada di hadapannya.

"Kamu kenapa?" Pada akhirnya, seseorang bertanya. Itupun Laluna yang meminta.

Laluna melangkahkan kaki, "Laluna butuh pelukan, boleh?" Tanyanya. Tidak perduli Laluna baru bertemu atau tidak, menurutnya Laluna disini hanya punya mereka, beban yang is pikul sungguh menyesakkan. Mati terbunuh, kemudian mengetahui alur hidupnya yang berakhir mati terbunuh juga.

Pelukan hangat sangat ia butuhkan "Tidak apa-apa Laluna, semua baik-baik saja" ucapan hangat Leo dengan usapan di puncak kepalanya membuat Laluna sedikit merasa ringan.

Jika tidak ada orang lain yang memeluknya, Laluna tidak keberatan untuk memeluk diri sendiri.

"Aku mau udahan aja sama Arjunka, tapi-" aku inget perjuangan Laluna yang asli mempertahankan semuanya, rasanya terlalu egois untuk mengakhiri tapi aku juga ga mau melanjutkan semua di saat aku tau kemana semua akan berakhir. Lanjutnya dalam hati.

"Tapi?" Tanya Leo dengan sabar.

"Tapi, Laluna sayang banget sama dia. Padahal dia udah bilang kalo dunia dia bukan Luna aja, sedangkan Luna nganggap dia tuh dunia Luna. Bisa ga sih Luna egois dia cuma buat Luna aja? Ga bisa kan? Makanya Luna sedih, marah, kesel semuanya jadi satu. Karena ga bisa" jawab Laluna meraung menangis dan menjelaskan.

Leo mencoba menenangkan Laluna yang semakin meraung, Leo memiliki adik perempuan dari Ibunya tapi adiknya terlihat lebih dewasa daripada Laluna. Laluna ini terlihat rapuh namun kuat sekaligus, rasa ingin melindungi secara alami keluar begitu saja. Leo tersenyum hangat, adiknya membutuhkan dia. Walau baru beberapa kali ketemu, tapi sifat hangat Laluna menjalar ke hatinya.

Laluna tumbuh di lingkungan penuh cinta yang mencintai dia, Lorenza tumbuh di lingkungan yang membuat dia harus percaya dengan dirinya sendiri. Dan, terbentuklah Laluna sekarang.

"Berarti dia bukan yang terbaik buat kamu, lagi pula cowok kan bukan cuma dia aja?" Tanya Leo, mencoba menghibur Laluna.

'Iya, bukan dia aja. Tapi gengsi dong kalo putusnya gara-gara masalah cewek lain' jawab Laluna dalam hati.

"Masalahnya, selain Luna bukan dunia Arjunka. Dia juga susah milih antara Luna atau sahabatnya, sesusah itu lho Bang dia milih? Padahal hubungan Luna sama dia udah official, ih sebel ah udah Luna mau mandi terus makan enak. Abang mau ikut?" Tanya Laluna, dia tidak akan bisa sedih seorang diri. Harus ada teman ngobrol biar dia ga sedih lagi, biar dia lupa dengan segala yang ada di pikirannya.

"Iya, nanti Abang temenin" suara Leo begitu penuh perhatian, rasanya Laluna terbang melayang merasakan perhatian seorang kakak yang dari dulu ia inginkan.

Lorenza di kehidupannya yang dulu adalah anak sulung, memiliki adik yang berusia sepuluh tahun. Anak sulung perempuan adalah makhluk terkuat, gempuran tuntutan orang tuanya, gempuran menjadi sempurna yang selalu menerjangnya untuk memberi contoh yang baik bagi saudaranya. Lima belas tahun ia hidup sendiri, menjadi poros kedua orang tuanya. Kemudian adiknya lahir, dan terjadilah drama 'kamu itu seorang kakak, ngalah demi adiknya' satu dua kali tak masalah, namun berulang kali akhirnya membuat dia tidak percaya siapapun kecuali dirinya sendiri. Egonya terluka, dia menyayangi adiknya, sangat. Tapi, hormon remaja menerjang. Dia tidak bisa tidak melewatinya.

Lorenza yang kini berada di raga Laluna, menjadi anak bungsu dengan dua kakak laki-laki yang ia harapkan bisa menyelamatkan dia dari maut. Dari sang Male Lead yang nantinya akan berusaha membuatnya menderita. Laluna bergidik ngeri.

Sambil membersihkan diri di bawah shower, Laluna kembali mengingat memori indah di kehidupannya yang lalu. Walaupun masa remajanya tidak sempurna, tapi dia mengakui kalau beauty privilege yang ia dapatkan sangat berpengaruh di kehidupannya. Lorenza gadis yang sangat cantik, memiliki tubuh ideal dan supel. Kalau orang bilang, dia easy going. Tapi, dengan sifatnya yang terlalu ramah, dia tidak mudah mendapatkan pujaan hatinya. Semua bilang 'karena kamu terlalu baik' tak lama dari itu, mereka mempunyai pasangan baru yang mungkin tidak bisa di sebut saingan oleh Lorenza.

Tapi, kali ini ia hidup di tubuh Laluna. Gadis cantik dan sempurna di mata Lorenza. Namun kepribadiannya yang anggun, dingin dan seakan tak tersentuh membuat dia gemetaran. Masalahnya, Laluna yang sekarang jauh dari kata itu. Walau sama-sama anggun dan tenang. Tapi, Lorenza bukan gadis dingin yang tidak peka. Dia menjadi sangat peka dan sensitive.

Lorenza yang ada di tubuh Laluna dapat beradaptasi dengan sangat baik, dia merasa asing dengan semuanya. Tapi, itu lebih baik karena mendapat kesempatan hidup kembali dan merasakan kenikmatan ini.

Laluna melenggang menuju walk in closet nya, mencari pakaian yang cocok ia pakai untuk ngedate bersama abangnya, Leo. Pertama kali Laluna pergi berdua bersama seorang pria di dunia ini, dan itu adalah abangnya. Yang ikut andil dalam kesengsaraan Laluna sesuai novel yang ia baca.

Tapi, Laluna tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak satupun yang bisa membuat dia sengsara, ingat! Laluna adalah mantan budak korporat yang sengsara karena menjadi junior, masalah laki-laki bukan apa-apa baginya. Karena persaingan di dunia kerja, sekalipun sudah mendapatkan Pangeran impian, rival dunia kerja tetap ada dan berlangsung lama.

Tapi, Laluna menempati raga remaja yang hormon pubernya sedang naik. Patah hati, jatuh hati itu adalah normal. Tapi, hati yang tidak menentu milik Laluna atau milik Lorenza inilah yang membuat sesak.

Laluna mematut dirinya, dress selutut berwarna putih dengan bunga rajut berwarna biru dan kuning. Sangat cerah, berbeda dengan hatinya yang sedang gundah gulana.

"Abang" panggil Laluna ketika dia sudah sampai di depan kamar Leo.

Leo dengan setelan jeans dan kaos warna putih polos, menyilaukan mata Laluna. Terlalu sempurna.

"Wah Abang ganteng banget" ucap Luna, kemudian mengapit lengan Leo dan berjalan bersamaan.

Keduanya mencuri perhatian Papa Aro dan Mama Lani yang sedang duduk menonton televisi di ruang keluarga yang megah ini.

"Luna mau ngajakin abang ke Cafe tante Rosey ya Ma? Mau ngenalin cake terenak seluruh dunia ke abang" ucap Laluna, kemudian memeluk Mama dan Papanya bergantian.

Leo yang memperhatikan itu merasa tidak enak "ih Abang jangan diem aja, salim sama Mama dan Papa" ucap Laluna. Laluna harus membuat Leo merasa nyaman bersama keluarganya, Leo harus bisa menjaga keluarganya bukan sebaliknya.

Leo dan Laluna menaiki mobil milik Laluna, dengan nyaman Laluna duduk di kursi samping kursi kemudi.

Laluna bersenandung mengikuti lagu yang berputar, aneh. Dia tidak tau lagu yang ada di dunia ini, tapi dia bisa hafal hampir seluruh lagu yang ia dengar.

"Abang jangan merasa asing ya? Kita kan keluarga" ucap Laluna dengan senyum manisnya.

Leo mengangguk dengan senyum tipisnya.

"Kapan-kapan kalau Lea datang ke Indo, kenalin ke Luna ya? Luna juga pingin ngrasain punya kakak cewek.

Leo dapat melihat ketulusan dari Laluna, sejak awal keluarga Ayahnya yang tidak pernah ia temui ini menyambut hangat dirinya. Walau di awal, Laluna adalah satu-satunya yang tidak menerima. Pasti berat untuknya, untuk mereka semua. Tapi, sekarang baik-baik saja.

'Ini awal yang baik' batin Leo.


- T B C -
7 September 2023

The Antagonist's Second ChanceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang