Maafkan aku ya teman-teman, lama bangeeet update nya... tapi, yang lebih cepat update emang di Karya Karsa aku... jadi mohon dukungannya juga ya 🫶🏻
Laluna dengan kesal meninggalkan resepsionis setelah mengisi data yang di perlukan, berjalan dengan hati yang kesal menuju ruangan dimana Bagaskara sedang di tangani. Namun, langkahnya memelan sambil dia berpikir haruskah melanjutkan langkahnya? Atau ini kesempatan bagus untuk dia kabur dan mengakhiri semuanya? Mengakhiri perasaannya?
Laluna menggelengkan kepalanya, berharap dengan demikian hilang semua pemikiran-pemikiran buruknya. Mengingat dia hanya seorang diri di dunia ini, satu orang yang ada untuknya sangat berarti. Apalagi seseorang itu adalah Bagaskara Jayvyn, ia tersenyum kecut menyadari betapa tidak berpengaruh kehadirannya di dunia fiktif ini. Lalu untuk apa karakter Laluna ada?
Langkahnya berhenti, menatap pintu putih yang tertutup. Daripada masuk, Laluna memilih untuk duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruangan, merogoh isi clutch nya yang berisi ponselnya.
Pemberitahuannya masih penuh dengan pemberitaan antara Bagaskara dan Sofia, ia meringis malu. Wajahnya memerah tanpa sadar, mengingat ia sudah salah faham karena membaca cerita terlebih dahulu. Ia lupa bahwa alur bisa berubah, ia lupa bahwa apa yang ia usahakan bisa saja terwujud di dunia fiktif ini. Apa yang tidak mungkin, bisa saja terjadi. Seperti saat ini mungkin, si pemilik nyawa sembilan Bagaskara Jayvyn yang sudah berdiri di hadapan Laluna yang mendongak menatap Bagaskara yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Oh udah?" Tanya Laluna yang bersiap berdiri, namun pundaknya di tahan lembut oleh Bagaskara membuatnya mengernyit tidak paham.
"Kayanya isi kepala ini sibuk sekali, mikirin apa hm?" Tanya Bagaskara dengan jari telunjuknya berada di kening Laluna.
Laluna berdebar kembali, 'dasar jantung fiktif murahan' batinnya.
"Emang situ peduli aku mikirin apa?" Tanya Laluna, dan menjauhkan tangan Bagaskara di hadapannya. Dia menatap Bagaskara yang tetap menatapnya dalam diam. Tanpa Laluna duga, Bagaskara berlutut di hadapan Laluna yang sedang duduk. Kemudian membawa Laluna ke dalam pelukannya dengan satu tangan yang terluka.
Laluna terkesiap, namun tetap diam saja.
"Dasar ceroboh" ucap Bagaskara lembut, jantung Bagaskara berdetak cepat dan dapat di rasakan Laluna yang tengah bersandar di dadanya. Diam-diam ia tersenyum.
"Untung Kak Bagas ga mati disana" ucap Laluna pelan, membalas pelukan Bagaskara.
"Untungnya kamu ga terluka disana" ucap Bagaskara membalas ucapan Laluna yang tersirat kekhawatiran. "Lain kali, kalau ada hal seperti itu terjadi kamu harus lari menjauh sejauh mungkin, amankan diri kamu sendiri"
Laluna melepas dekapannya pada Bagaskara, namun tertahan oleh tangan Bagaskara yang mendekapnya erat "Biarin gini dulu ya? Aku cinta banget sama kamu, ga tau gimana kalau tadi kamu kenapa-kenapa disana dan kamu bikin aku takut setengah mati" ucapnya.
Laluna tidak bisa mengelak, dia tadi terlalu nekat. Pikirannya penuh dengan perandaian terburuk yang pernah ada dalam hidupnya.
"Aku ga bisa kehilangan kamu, ga akan sanggup aku lanjutin hidup tanpa kamu" lirih Bagaskara, tanpa sadar membuat Laluna meneteskan air mata.
"Ini yang ngomong bukan buaya kan?" Sambil terisak, Laluna menjawab dengan pertanyaan sarkas yang tidak membutuhkan jawaban.
"Aku serius Luna, ga pernah sekalipun aku merasa setakut itu membayangkan kamu ga ada, membayangkan kamu ga ada dalam radar pengawasanku bahkan membayangkan kamu pergi jauh seperti rencana kamu kemarin sudah bikin aku panas dingin" Bagaskara menjawab dengan lembut, berharap Laluna dapat merasakan keseriusan dalam ucapannya.
"Serius nih kita ngomonginnya disini? Di Rumah Sakit? Dan di lihatin orang yang lewat?" Tanya Laluna yang masih tidak sadar kalau seseorang dari tadi membuntutinya, diam-diam mengambil potret mereka dengan senyum senang karena jelas dia akan mendapatkan jackpot kali ini.
"Kita lanjut obrolin di tempatku aja ya? Please" jawab Bagaskara memohon, Laluna tersenyum tipis karena Laluna tidak pernah sekalipun datang ke tempat tinggal Bagaskara. Akhirnya ia mengangguk mengiyakan.
'Wahai otak fiktif murahan, tolong jangan berpikiran yang iya iya' batin Laluna bergejolak.
Dengan langkah beriringan, tangan bertautan mereka berjalan melewati koridor Rumah Sakit dan melewati Resepsionis. Dengan angkuh, Laluna melewati Perawat yang super menyebalkan tadi. Memilih untuk lebih mendekatkan tubuhnya pada Bagaskara.
Namun, sang Perawat hanya menunduk. Laluna jadi semakin kesal tidak bisa memperlihatkan kedekatannya dengan Bagaskara.
"Ga usah caper" ucap Laluna pada Bagaskara yang nampak tersenyum ramah pada beberapa pegawai yang lewat.
"Kenapa? Mereka pegawaiku, tidak ada salahnya menyapa mereka" jawab Bagaskara yang semakin membuat Mood Laluna hancur.
"Nurut aja apa susahnya sih? Pegawai dengan SDM rendah gitu? Coba Kak Bagas cek lagi para pegawainya, sopan ga sama pasien dan keluarganya" jawab Laluna yang sudah terlanjur kesal.
Bagaskara hanya mengangguk menyetujui, dan membukakan pintu mobil yang sudah menunggu di lobby Rumah Sakit.
"Langsung Ke Penthouse ya Jar" perintah Bagaskara pada supirnya.
"Baik Pak" balas Fajar, supir yang masih muda dengan seragam kebesarannya sebagai supir keluarga seterhormat Jayvyn.
Laluna menyenderkan kepalanya di pundak Jayvyn, tentunya di bagian yang tidak sakit. Sedangkan Jayvyn mengelus lembut tangan Laluna yang ada di genggamannya.
"Janji ya? Kita akan sama-sama terus?" Tanya Bagaskara.
"Tergantung presentasi kak Bagas besok gimana" jawab Laluna santai.
"Serius harus presentasi?" Tanya Bagaskara tak percaya.
"Perasaan tadi di kasih kemudahan malah minta susah, kalau ada yang susah kenapa harus yang mudah kan?" Tanya Laluna membuat Bagaskara bungkam.
Ucapan Laluna yang sedang tidak mood adalah senjata paling bahaya bagi Bagaskara, benar-benar akan menjadi malam yang panjang baginya. Sepertinya, tidak lagi-lagi Bagaskara melibatkan wanita lain dalam setiap urusannya walau itu Hagia Sofia, sahabatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Antagonist's Second Chance
Fantasy(HANYA AKAN LENGKAP DI KARYAKARSA) AWAL CERITA SUDAH TERSEDIA DI KARYAKARSA Lorenza berusia 25 tahun, yang tengah menjalani the quarter of life nya. Yang merasa hidup sedang berat-beratnya, menjadi junior di kantor tidak semudah yang ia bayangkan. S...
