27. I'll be by your side

2.9K 192 2
                                        

Jangan lupa vote dan comment

Keesokan paginya, Laluna sudah berada di mension keluarganya setelah semalam ia memaksa pulang dari mension super mewah milik Bagaskara. Dengab perjanjian, ketika berangkat dan pulang sekolah harus bersama Bagaskara.

Dan, disinilah mereka. Keluarga Laluna, Laluna beserta Bagaskara yang di selimuti keheningan hanya terdengar dentingan alat makan.

Waktu pun berlalu cepat, mereka sudah selesai dengan aktivitas masing-masing ketika Laluna izin untuk berangkat ke sekolah.

"Luna, sebenarnya Papa ingin memendam ini sendiri. Tapi, tidak bisa kah kamu tidak terlalu dekat dengan Bagaskara?" Tanya Papa Aro, ketika Bagaskara sudah keluar rumah terlebih dahulu.

Laluna tidak terkejut, tapi dia merasa sedih. Bagaskara sudah menyelamatkannya, bahkan kini ia bersedia menjaga Laluna. Lantas kenapa harus menjauhi? Banyaj pertanyaan di benak Laluna.

"Kenapa?" Tanya Laluna.

"Lun, keluarga mereka bukan dari keluarga biasa. Papa takut kamu kenapa-kenapa" jawab Papa Aro cemas.

"Malah, dari keluarga yang setara dengan kita pun bisa melukai aku Pa. Dan, itu pun keluarga kita ga berbuat apa-apa padahal keselamatan anaknya sedang di pertaruhkan" jawab Laluna. Tidak heran, itu sebabnya Papa Aro terlihat segan. "Yang selevel sama kita aja, Papa ga berani. Ga heran sih kalau Papa suruh jauhin Kak Bagas, tapi Luna ga setuju Pa"

Jawaban Luna membuat Papa Aro dan Mama Lani terkesiap, anaknya tidak menurut. Tidak biasanya.

"Aku harus dekat dengan Kak Bagas, karena hanya dia yang bisa jagain aku. Pasti Kak Bagas bisa, kalian harus percaya ya?" Tanya Laluna tenang, ia tidak ingin membuat orang tuanya mengatur kehidupannya. Ia ingin merdeka dengan keputusannya sendiri.

Tentu saja, orang tuanya selalu mendukungnya walaupun dalam diam dan selalu memilih untuk berdamai. Jika, yang mengetahui kejadian kemarin orang tuanya maka di pastikan Arjunka akan tetap bebas berkeliaran di sekitarnya.

Berbeda dengan apa yang di lakukan Bagaskara, ia melaporkan ke pihak berwajib atas perundungan, penganiayaan dan pelecehan seksual. Hukumannya tidak seberapa di banding trauma yang akan di alami Laluna sebagai korban, tapi bukan Bagaskara Jayvyn namanya kalau diam saja. Dia membuat strategi untuk hancurnya klan Wiratmadja, sanksi sosial yang mereka dapatkan karena tingkah laku anaknya. Tentu menjadi pukulan telak. Anak yang mereka gadang-gadang akan menjadi pewaris Wiratmadja malah berakhir di jeruji besi di usia belia, delapan belas tahun tentu sudah wajib mendapat hukuman.

Tentu, klan Wiratmadja tidak akan sembarangan membalas keluarga Laluna karena sejarah persahabatan mereka. Bahkan, Papa dan Mama Wira meminta maaf secara langsung pada Laluna dan keluarga. Mereka juga terkejut, bagaimana bisa anak manis mereka bertindak seperti itu. Walau, dalam hati mereka juga memaklumi rasa marah anaknya karena putus hubungan pertunangan. Tapi, mereka tidak mengira kalau Arjunka akan bertindak bodoh.

Laluna kini sudah berada di dalam mobil milik Bagaskara dan di supiri sendiri oleh Bagaskara. Jadi, mereka hanya berdua di dalam mobil yang lagi-lagi membuat Laluna gemetar hatinya, menyusuri kota di iringi lagu-lagu semangat di pagi hari yang Laluna tidak kenali tapi tetap saja terdengar indag di telinganya.

"Kak Bagas ke kantor jam berapa?" Tanya Laluna.

Bagaskara tampak berpikir setelah melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, "jam delapan nanti sweet heart, kenapa?" jawabnya lembut.

"Apa ga telat Kak?" Kini Laluna bertanya dengan nada cemas, dia tak enak hati membebani.

Bagaskara menggeleng, "kalaupun telat itu perusahaanku sendiri. Aku bisa datang kapanpun"

Laluna memutar matanya, "iya deh Pak boss" jawabnya, membuat Bagaskara terbahak mendengar jawaban Laluna.

"Kamu bisa bercerita apapun ke aku, My moon. Kapanpun, dan aku ingin kamu hanya akan mengandalkanku" ucap Bagaskara.

Laluna termenung, haruskah ia percaya pada orang lain di dunia ini? Ia tak mengenal siapapun, walau sering kali dia berharap pada tokoh dalam dunia fiktif ini. Tapi, ia terlalu takut untuk bergantung dengan orang lain.

"I'll try Kak, dan tau ga? Kemarin waktu kejadian Arjunka itu. Sebenarnya aku berharap kakak yang datang nyelametin aku, dan syukurnya kakak beneran datang. Dari situ, aku emang mikir kalau kakak bisa di andalkan. Bisa kan Kak?" Ucap Laluna dengan wajah polosnya, menatap Bagaskara. Dimana itu membuat Bagaskara gemas hingga mencubit pipi Laluna dan membuat Laluna terdiam salah tingkah.

"Sesuai janji aku, i'll be by your side" ucap Bagaskara, mengelus puncak kepala Laluna.

Tak terasa, obrolan dari hati ke hati di dalam mobil di tengah kesibukan mereka membuat mereka semakin dekat.

Hingga mereka berhenti di depan sekolah megah, mencuri perhatian banyak pasang mata yang berada di halaman depan sekolah. Dan, terlihat sangat terkejut saat Bagaskara yang keluar dari mobil tersebut, terlihat sangat bersinar karena wajah tampannya dan penampilannya yang tidak berlebihan.

"Ih, ngapain di bukain sih? Bisa buka sendiri aku tuh" ucap Laluna ketika Bagaskara membukakan pintu untuk Laluna, walau hanya di balas senyuman manis dari Bagaskara yang mampu membuat Laluna tersipu.

Yang menonton pun semakin terkejut, mendapati siapa yang di bukakan pintu dan keluar dari mobil mewah tersebut.

Seorang Laluna Lituhayu, sang idola sekolah yang menurut berita beredar sangat menyukai tunangannya. Kemudian, berita kembali beredar bahwa pertunangan mereka telah berakhir karena Laluna yang menghendaki putusnya mereka, sampai berita menggemparkan kembali terjadi saat Bagaskara mengakui gadis SMA tersebut. Yang terakhir, baru saja kemarin menghebohkan seluruh penghuni sekolah bahwa terjadi penculikan salah satu murid sekolah mereka yang di lakukan pula oleh murid sekolah tersebut.

Lalu, di kejutkan oleh gadis yang gencar di beritakan sedang bersama Jayvyn dan tengah tersipu malu.

"Cantik banget sih? Ga lagi nyari gebetan baru kan?" Tanya Bagaskara membuat Laluna melotot.

"Emang boleh?" Tantang Laluna.

Bagaskara tersenyum sarkastik, "Berani?" Bagaskara mendekatkan tubuhnya, membuat Laluna menahan nafasnya.

"Ih udah sana, ga di kasih uang jajan malah di godain" ucap Laluna mengalihkan pembicaraan, dia tidak akan pernah kekurangan uang jajan.

"Aku transfer ya? Aku ga bawa cash" kata Bagaskara, Laluna terkejut beberapa detik. Kemudian menggeleng, mengusir pikirannya sendiri.

"Udah udah, aku mau masuk. Jangan lupa nanti jemput ya Om" ucap Laluna, sambil menjulurkan lidahnya dan meninggalkan pria yang mematung tertinggal menatapnya, kemudian tersadar bahwa kehadirannya saat ini tengah menjadi sorotan hampir semua orang disana.

Bagaskara terkekeh, "bisa-bisanya gue sampe kaya gini karena ABG" ucapnya bermonolog, dan pergi meninggalkan halaman sekolah menuju kantornya.

Di dalam mobil, ia menghirup aroma parfum Laluna yang tertinggal. Menenangkan, aromanya harum, manis dan membuatnya tersenyum sendiri. Mood nya menjadi jauh lebih baik. Ini karena aroma parfum gadis itu, atau gadis itu sendiri?

The Antagonist's Second ChanceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang