31. Permohonan Laluna

2.5K 126 4
                                        

Maafin, atas keterlambatan update nya. Karena di sibukan oleh dunia nyata dan perkontenan duniawi. Mohon untuk ttp dukung cerita ini yaaaa.

Kinldy, please support aku juga untuk berkonten di YT dgn subscribe dan komen ya. Pingin tau, siapa aja yg udah subscribe???



Di tengah keraguan Laluna akan alur yang masih tetap berjalan atau sudah keluar dari alur yang seharusnya, Arjunka mengusap pelan ujung kepala Laluna membuat refleks tubuh Laluna merespon dengan memundurkan tubuhnya, dan menabrak seseorang di belakangnya hingga terdengar suara pecahan dan pekikan beberapa orang yang terkejut. Begitu pula dengan Laluna yang merasa punggungnya panas terbakar, segera meringis kesakitan hingga ia tidak menyadari bahwa sang tokoh utama yang ia tabrak kini tengah menatap Laluna tidak terima.


Arjunka membantu Laluna yang tampak kesakitan, mengesampingkan perempuan yang sudah berwajah muram.


"Bagus sekali, gue yang di tabrak. Siapa yang di tolongin?" Sindir Arumi menyadarkan Laluna yang akhirnya menatapnya, tapi ada yang aneh karena seharusnya ini adalah chapter satu dan Laluna akan marah-marah karena punggungnya tersiram kuah panas. Dalam kebimbangan, Laluna ingin menciptakan skenario tersebut atau menghindari skenario dengan menciptakan alur yang baru.


"Ayo ke UKS, sepertinya punggungmu melepuh karena kuah panas" ucap Arjunka, Laluna mengangguk namun sebelum ia pergi. Laluna menatap Arumi.


"Maaf ya, gue kurang hati-hati. Tapi gue juga kena kuah panas makanan yang lo pesen. Gue gantiin makanan lo, lo bisa pesen lagi" ucap Laluna dengan nada tenangnya tanpa meremehkan sedikitpun. Ia harap, walau cerita tetap berjalan tapi dia tidak ingin menjadi antagonist. Dia cukup menjadi Protagonis di kehidupan Laluna sendiri saja sudah cukup.


Dia masih sedikit berharap, Laluna yang sebenarnya akan kembali dan kelak berterimakasih padanya karena menciptakan alur yang indah dalam hidup mereka.


Ngomong-ngomong, Laluna baru menyadari bahwa pergelangan tangannya di genggam erat oleh Arjunka. Dengan cepat Laluna melepaskannya, "Gue bisa jalan sendiri Arjunka, mending lo panggilin temen gue buat ambilin gue baju ganti di locker" ucap Laluna kemudian melenggang pergi meninggalkan Arjunka yang tersenyum miring dalam ketenangan.


Laluna bergidik ngeri, Arjunka definisi antagonist yang sebenarnya. Kenapa dia jadu Protagonist di Novel yang ia baca dulu, dan itu menyebalkan karena ia sempat menyukai karakter Arjunka yang tidak mudah menyerah.


Arjunka menghubungi Galuh dan memberi tahu gadis itu tentang apa yang di ucapkan Laluna, dia tetap menunggu di depan UKS sambil sesekali mencuri dengar ringisan kesakitan Laluna ketika di beri salep pada punggungnya.


Sambil mengetuk kakinya pada lantai, Arjunka diam-diam mencari informasi tentang seseorang yang menabraknya. Matanya fokus membaca segala informasi yang dia dapatkan dari informan kepercayaannya, mengangguk seakan sudah paham akan melakukan apa kemudian mengetikkan sesuatu pada gawai di genggamannya.


Galuh dan beberapa temannya mendatangi Arjunka dengan acuh, "gue aja yang masuk, ngapain lo masih disini?" Ucap Galuh kemudian masuk dalam UKS tanpa jawaban dari Arjunka.


Galuh adalah orang pertama yang kesal setengah mati dengan Arjunka dan drama yang ia buat di kantin tadi, salahkan Arjunka jika dia kali ini menjadi antagonist di mata Laluna dan teman-temannya. Apalagi sejak kegilaan Arjunka yang menghebohkan seluruh penjuru Sekolah.


"Lo tuh ya! Bucin aja sok sok an ga mau sama Arjunka, di gandeng juga diem aja!" Seru Jihan begitu mendapati Laluna meringis menahan sakit.


"Lo ga liat gue kesakitan? Mana sempet gue nolak bantuan orang kan?" Walau ia sedang membela diri, namun Laluna juga merutuki dirinya sendiri.


"Ya lo tuh ga usah banyak omong kalo sama si brengsek itu, udah tinggal aja beres ga usah di ladenin" sanggah Galuh cepat. Laluna tidak bisa menjawab, karena sungguh ia juga tidak ingin banyak bertemu apalagi berinteraksi dengan Arjunka. Tapi, sepertinya Arjunka sukses membuat inner child nya meronta.


Tidak ingin merasa di salahkan, tidak ingin merasa di intimidasi apalagi di buat seperti tidak mampu. Laluna ingin mengungkapkan perasaan dan alasannya, walau sebetulnya itu tidak perlu. Laluna hanya perlu diam dan tinggalkan, seharusnya begitu. Dan kini ia merutuki dirinya sendiri.


"Yaudah emang dasarnya Luna bucin sama si Junka, inget Lun ada Kak Bagas sekarang yang sah jadi cowok lo" ucap Galuh kemudian, membuat Laluna berpikir.


Apa harus Laluna tanya bagaimana bisa Arjunka tetap bebas? Dan keluarga Laluna menerima damai begitu saja, apa tidak ada yang memikirkan kesehatan mental Laluna? Sekalipun kedua kakak laki-lakinya yang tampak biasa saja.


Laluna tak bergeming setelah mengganti seragamnya dengan seragam cadangannya, menyemprotkan parfum yang beraroma manis dan segar. Walau tatapannya kosong, menerawang segala pemikirannya.


"Kesambet tau rasa lo! Nglamun mulu" Galuh membuyarkan lamunan Laluna.


Laluna menatap Galuh serius "selama gue libur kemarin, ada gosip apa di Sekolah? Tentang gue?" Tanyanya sedikit ragu di akhir kalimat.


Galuh dan Jihan bertatapan sejenak, Jihan membuka ponselnya dan menunjukkan artikel ketika Laluna dan Bagaskara berlibur, atau saat mereka tiba-tiba ke wahana bermain dengan Bagaskara menjemputnya menggunakan hellicopter. Menciptakan huru-hara di Sekolah, banyak yang tidak percaya Laluna sudah move on secepat itu. Namun, mereka menyetujui kata-kata move on itu jika pria itu adalah si Sempurna Bagaskara.


Laluna menghela nafasnya, seperti akan percuma saja jika di memberikan kabar ke Bagaskara dan berusaha mati-matian menjauhi Arjunka kalau Laluna tidak bisa keluar dari pertokohan dan merusak alur. Rasanya, Laluna ingin pulang saja ke dunianya sebagai Lorenza. Tidak apa-apa deh di tindas dan di bunuh, tapi dia tidak sendirian. Ada keluarga yang sesungguhnya. Jika disini, ia merasa tetap sendirian di tengah keluarga yang terlihat baik-baik saja tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Yah Lun, kok lo nangis sih" ucap Galuh terkejut melihat Lalun tiba-tiba menangis dan menutupi wajah cantiknya, Laluna sungguh lelah dengan kehidupannya disini. Dia bahagia, tapi menyadari kenyataan bahwa dia tidak untuk siapapun itu menyakitkan.


"Gue harus gimana dong Luh? Ji?" Tanya Laluna di sela isakannya.


Sebelum mendapat jawaban, Arjunka masuk dengan sebelah tangannya masuk ke dalam saku celana sekolahnya. Laluna menggigit bibir dalamnya, "ayo aku antar pulang" ucap Arjunka.


Laluna menggeleng, "ga perlu, gue masih mau di sekolah" jawab Laluna dengan cepat menghapus air matanya.


"Kalian bisa pergi" ucap Arjunka, Jihan dan Galuh berdiri ketika mendapat anggukan dari Laluna. Dia harus menyelesaikan dengan kepala dingin. "Kenapa?" Tanyanya mendekati Laluna.


"Jun, gue tau lo ga secinta itu sama gue. Kita udahan ya Jun. Kali ini gue mohon sama lo, kita benar-benar ga bisa bersama" ucap Laluna.


Arjunka terdiam dan menatap dalam mata Laluna, duduk di hadapannya. "Kenapa? Bukannya aku bilang kalau kita ga akan pernah berakhir?"


"Gue takut sama lo, bukan lagi benci Arjunk. Tapi-" Laluna memukul dadanya, "disini sesak dan sakit banget inget hari itu, gue ga bisa"


Tatapan Arjunka bergetar, membuka bibirnya namun menutupnya kembali seakan tidak bisa menjawab ucapan Laluna.


"Bukan ini yang gue mau untuk hubungan kita, sekalipun gue udah maafin lo. Tapi, tubuh ini ga bisa bohong. Gue bener-bener ga bisa barang sebentar liat lo di deket gue, tubuh gue merespon dengan buruknya" terang Laluna.


"Aku minta maaf" ucap Arjunka pelan.


"Gue udah maafin lo, walaupun gue benci banget sama lo. Tapi gue udah maafin lo, gue tau itu terjadi karena ke impulsifan lo tapi gue mohon Jun. Kita hentikan ini, gue ga bisa" ucap Laluna dengan tubuh gemetar menahan sesuatu dalam tubuhnya yang seakan ingin meledak meraung mencakar Arjunka.


"Terus gue gimana kalo ga sama lo Laluna?" Lirih Arjunka.

The Antagonist's Second ChanceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang