23. Chapter One

3.3K 224 0
                                        

Cerita ini hanya akan tamat di Karya Karsa. Wattpad hanya sebagai media promosi, silahkan follow Karya Karsa Trnndht untuk membaca part yang lebih banyak.

(IG : Trnndht)

Jangan lupa Votes dan Comment, bantu sy untuk menaikkan rating. Silent reader go away.

Pelajaranpun di mulai ketika Laluna mendengar desas desus murid baru di kelas Arjunka, dan di mulailah cerita mereka tanpa lagi melibatkan Laluna di dalamnya.

Dengan kesadaran penuh, Laluna mencoba menarik diri dari mencuri dengar temannya yang sedang bercerita. Walau ia cukup penasaran, namun ia cukup tau diri bahwa itu bukan lagi urusannya. Perlahan, ia menghembuskan nafas lega.

Semoga saja pertengkarannya tadi pagi dengan Arjunka tidak terjadi efek domino, Laluna bukanlah Laluna yang asli, yang akan tetap mengejar dan menuntut cinta Arjunka. Laki-laki bukan hanya Arjunka seorang.

Tidak terasa bel istirahatpun berbunyi, membuat kelegaan para siswa karena pelajaran berakhir.

"Gila! Bosen banget gue sama pelajaran Pak Haris" ucap Laili, gadis berkuncir kuda yang terdengar oleh Laluna. Ucapannya yang cukup kencang, di setujui beberapa teman di dalam kelasnya.

Hampir semua kini berhambur menuju kantin sekolah, tak terkecuali Laluna yang kini berjalan bersama sahabat-sahabatnya, Jihan dan Galuh.

Laluna berjalan cepat menuju meja kosong, ketika dua temannya sedang memesan minum dan makanan mereka. Mereka memang punya tugas masing-masing, Laluna yang mencari bangku, Galuh memesan minum dan Jihan memesan makan. Laluna mencari keberadaan teman-temannya untuk sekedar memberi kode dimana ia duduk, namun bukan temannya. Ia menemukan wajah baru yang manis dan terlihat menyenangkan, dari cirinya ia bisa menyimpulkan bahwa gadis tersebut adalah protagonis wanita dalam novel She is My Lover.

'Selamat datang ke chapter one!' Seru Laluna dalam hati.

Mungkin adegan pertama, pertemuan antara protagonis pria dan wanita sudah terjadi ketika di kelas. Seharusnya, adegan selanjutnya adalah protagonis pria yang sedang merasa risih dan tidak nyaman karena antagonis wanita tengah menempelinya dan mengekang dirinya. Tentu saja, itu tidak akan terjadi sekarang. Karena dengan sadar, Laluna sudah menghindari kemungkinan kecil masuk dalam plot.

"Nih makanan dan minumannya tuan putri" ucap Galuh sambil membawa nampan pesanan mereka.

"Mana ada tuan putri di suruh perang nyari tempat duduk?" Tanya Laluna, mengambil makanan dan minumannya, kemudian menikmatinya.

"Itu murid baru di kelas tunangan lo Lun?" Tanya Jihan.

"Em em" Laluna menggeleng, menggoyangkan telunjuknya seolah mengatakan tidak. "Not anymore ya, mantan" ucapnya

"Elah, habis ini juga bakal ada berita kalian balikan. Eh sebentar gue lupa nanya karena ga enak nanyain ini waktu kita ga ketemu" ujar Jihan

Laluna hanya mengedikkan bahunya, berusaha acuh atas pertanyaan Jihan. "Waktu kita liburan lo kemana? Gimana sampai ada berita lo liburan sama Pangeran Jayvyn?!" Jihan tampak antusias menanyakan hal tersebut, karena saat mereka sedang berlibur ke Luar Negeri mendapatkan gosip internasional tentang kedekatan Pangeran Jayvyn dengan Putri dari keluarga Aro. Tidak ada angin, tidak ada api tiba-tiba saja berita itu merebak begitu saja dan yang di beritakan masih menikmati liburan mereka tanpa tahu apapun.

"Iya Lun, gila! Gue sama Jihan ga habis pikir, jadi itu alasan lo mutusin pertunangan lo sama Arjunka?" Kini giliran Galuh yang bertanya, setelah menikmati makan siangnya.

Laluna menggeleng "lo tentu tau kan alasan gue ga mau lagi bertahan sama dia? Gimana bisa gue bertahan, tapi dia nya ga mau di pertahankan. Menegaskan gue bukan dunianya, gue cuma pilihan yang harusnya dia utamakan. No no, hidup gue terlalu berharga"

Jihan dan Galuh melongo menatap Laluna, "seharusnya lo sadar dari dulu Lun. Lo tuh ga ada apa-apanya di bandingin siapa tuh sahabatnya dia? Udah bagus lah, nyari yang anggap lo segalanya di dunia ini" ucap Galuh menggebu.

Laluna dan Jihan mengangguk serempak. Hingga mereka menyadari bahwa yang di bicarakan sedang berjalan ke arah mereka "For goodness sake, gue lagi ga mau ngerusak mood makan lo. Tapi, tunangan lo ga tau malu mau kesini" Jihan mencoba berbicara tanpa terlihat mencolok.

Laluna menegakkan punggungnya, dalam cerita. Laluna lah yang mendekati, lalu ini apa? Apa berubahnya Laluna juga membuat alur berubah?

Arjunka duduk begitu saja di sebelah Laluna, tanpa izin dan tanpa mendapatkan izin dari ketiganya. Laluna menghela nafasnya malas, menaruh alat makannya.

"Gue udah ga mood makan, gue balik dulu ya?" Tanya Laluna pada akhirnya, bagaimana bisa dia pura-pura baik-baik saja ketika baru tadi pagi mereka bertengkar.

"Luna, aku mau ngomong. Duduk" ucap Arjunka tegas.

Laluna hanya meliriknya sekilas "Siapa lo ngatur gue?" Ia berniat pergi dari sana, namun cekalan pada lengannya membuat ia berhenti.

"Selagi aku ngomong baik-baik sama kamu Laluna, duduk" perintah Arjunka. Laluna berdecih, berusaha melepas lengannya dari Arjunka.

"Gue ga peduli!" Sentak Laluna, baru beberapa langkah dari mejanya. Terdengar suara gebrakan meja, membuat Laluna melonjak kaget hingga dirinya di tarik kasar oleh Arjunka.

Laluna meronta, kini mereka menjadi perhatian murid-murid lainnya. "Diem Laluna" suara Arjunka menahan emosi.

Laluna ingin menangis, menahan sakit di tangannya dan ketakutan dalam hatinya. Dia sudah berusaha tidak masuk ke dalam alur cerita, kenapa Arjunka mempersulit semuanya?

"Masuk!" Ucap Arjunka membuka pintu mobilnya, menyuruh Laluna masuk.

"Engga! Gue ga mau! Gue dan lo udah selesai Arjunka, ga perlu bahas apapun lagi!" Teriak Laluna, air matanya meleleh keluar pada akhirnya.

Arjunka dengan kasar mendorong tubuh Laluna, memasangkan seat belt nya. "Jangan berani keluar" ucap Arjunka, Laluna menelan salivanya. Namun, air matanya tetap keluar. Dia hanya terdiam, sedangkan Arjunka fokus mengendarai mobilnya dalam diam.

Laluna hanya memandangi pemandangan kota di luar jendela, tidak berniat membuka pembicaraan sekalipun. Ponsel dan tas nya pun masih di sekolah, Laluna berharap teman-temannya akan gerak cepat melaporkan pada keluarganya. Kalau tidak, Laluna takut mati muda di tangan pria sebelahnya ini.

"Turun" ujar Arjunka, Laluna menyadari ia memasuki basement dimana appartment Arjunka berada.

"Engga!" Seru Laluna.

"Selagi aku minta baik-baik Laluna, turun" Arjunka tampak menahan emosinya.

Laluna menggeleng kuat, "Balik ke sekolah Arjun. Lo mau ngapain? Ga ada pengaruhnya lo begini ke gue? Yang ada gue makin benci sama lo" ucap Laluna.

Arjunka turun dari mobil, menutup pintu dengan kasar dan menarik Laluna keluar dari mobilnya. Laluna tentu saja memberontak, dia ingin lepas dari Arjunka yang saat ini terlihat menyeramkan.

Arjunka membawa Laluna dalam gendongannya, seperti menggendong sebuah karung. "Lepasin Arjun!" Laluna teriak histeris. Kenapa tidak ada seorang pun yang menolongnya? Kemana semua orang yang punya hati nurani?

Arjunka menurunkan Laluna di atas sofa, dan menatap Laluna nyalang.

"Aku udah bilang sama kamu Laluna, selagi aku masih bersikap baik" ujar Arjunka, Laluna berdecih. Dia takut, tapi dia memberanikan dirinya sendiri.

"Sekalipun lo baik sama gue, tapi gue ga sudi balik sama lo lagi! Lo cowok paling brengsek yang gue kenal!" Seru Laluna, Lorenza memang memiliki sumbu pendek. Sangat berbeda dengan Laluna yang anggun dan tidak mudah marah. Mungkin, ini juga yang membuat Arjunka marah. Karena, Laluna sangat berbeda.

"Kamu tau kan aku paling ga suka penolakan?" Tanya Arjunka.

"Dan lo tau kan gue paling anti sama orang pemaksa?!" Laluna tak gentar, dia merasa tidak salah. Dia akan mempertahankan keselamatannya sendiri. Jika tidak ada seorangpun yang menolongnya, maka Laluna akan berusaha sekuat mungkin untuk bertahan.

Takdirnya tidak akan sependek ini disini kan?

The Antagonist's Second ChanceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang