34. Gusar

1.7K 101 0
                                        

Vote dulu.
Jangan lupa add Channel Trnndht di Telegram, untuk baca karyaku secara offline. Dan, yg mau baca seluruhnya dgn versi lengkap lebih dulu ada di Karyakarsa dgn user yg sama trnndht. Atau bisa chat via TG Taranindht, untuk ngobrol atau minta invite ke channel. See you there.

Keesokan harinya, suasana mension yang biasanya ramai karena kesibukan para maid. Pagi ini terasa berbeda, ternyata pagi ini Papa Laluna ingin memiliki pagi berkualitas dengan mengobrol santai dengan anak dan istrinya.


Walau, yang menyiapkan sarapan tetap maid tapi saat sudah siap mereka kembali ke paviliun.


Alhasil, kini Laluna duduk dengan tenang di meja makan.


"Kata Mama, kamu mau lanjut Sekolah di Luar? Blison, Kalravia?" Tanya Papa Laluna tanpa kata pembuka.


Laluna mengangguk, "Ya Pa, dengan atau tanpa izin Luna akan tetap berangkat" jawab Laluna, membuat Papa Aro terkekeh.


"Sebagai orang tua, Papa rasa kamu terlalu berlebihan menyikapi masalahmu Lun. Dengar, berjauhan dengan keluarga itu tidak enak, hidup sendiri di negara orang apalagi dengan uang pas-pas an. Kamu kira itu enak?" Pertanyaan Papa Aro membuat Laluna semakin miris hati.


"Kalau Papa tidak ingin membiayai Laluna, saya bisa" ucap Leo cepat, membuat Laluna menoleh cepat tak percaya apa yang ia dengar.


"Lane juga bisa kok Pa, tenang aja. Lane ga akan pakai uang dari perusahaan sedikitpun jika Papa khawatir" tepukan lembut di puncak kepala Laluna terasa, matanya mendadak panas. Sungguh Laluna ingin menangis mendengar jawaban kedua kakaknya.


"Kalian mendukung adik kalian kabur dari masalah?" Tanya Aro.


"Pa, Luna ga kabur dari masalah. Bukankah masalah sudah selesai? Arjunka bebas atas pelecehan seksual yang dia lakukan ke Luna? Dia masih bisa melanjutkan masa depannya seperti yang Mama bilang, begitu pula dengan Luna" jawab Laluna dengan tenang.


"Ya apa bedanya? Bukannya mencoba mendekatkan diri malah menjauh?" Tanya Aro sekali lagi.


"Sudah pernah Laluna bilang kan Pa? Luna ga mau menjadi Tante Widya ke dua, menikah tanpa cinta seharusnya Papa sudah paham betul. Apalagi dengan sejarah pelecehan seksual, Arjunka hampir perkosa Laluna! Gimana bisa Laluna bisa berdiri tegap di hadapannya? Kalau dia mendekat saja, tubuh Laluna sudah bereaksi?" Ke empat orang di dekatnya kini, hanya diam.


Laluna sama sekali tidak berselera menikmati sarapan di hadapannya, yang ada ia hanya memainkan sendok dan garpu di kedua tangannya.


"Daripada Papa dan Mama mengkhawatirkan masa depan anak orang lain, seharusnya Papa dan Mama lebih khawatir akan masa depan Laluna sebagai anak kalian" ucap Leo kini, dengan tenang dia kembali bersuara.


"Apa bedanya Papa dengan Kakek yang memaksa anaknya menikah untuk kepentingan bisnis? Oh ga bisa juga sih di sebut pernikahan bisnis, karena perusahaan pun ga sengaruh itu" imbuh Lane.


"Adik kalian sendiri yang merengek minta ke Mama dan Papa untuk mengikat Arjunka, kalau kamu lupa Lane bagaimana keras kepala nya adik kamu dan betapa itu sangat memalukan. Biar dia bertanggung jawab dengan keinginannya sendiri" ujar Papa Aro.


Laluna sudah mengumpati Laluna yang asli dalam hati, semua berawal dari obsesi Laluna. Dan kini, dia yang merasakan akibatnya. Sial.


"Tentu saja itu terjadi jauh sebelum Arjunka lebih milih sahabatnya" jawab Laluna pelan.


"Seharusnya kamu juga paham dong Lun, masa ga boleh dia temenan sama temen ceweknya? Dan lagi, harusnya kamu juga mikir kenapa sampai Arjunka lebih milih temennya itu daripada tunangannya sendiri" jawab Mama Lani, membuat Laluna membuka matanya lebar karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Benar-benar orang tua toxic.


The Antagonist's Second ChanceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang