Sebenarnya ada banyak bab yang sudah selesai. Tapi, karena melihat tidak ada interaksi atau feedback dari pembaca. Jadi aku emang kurang semangat untuk segera menamatkan cerita ini. Huhu.
Mungkin cerita hari ini akan berbeda dengan apa yang Laluna harapkan, karena terbukti Bagaskara Jayvyn mampu menjelaskan dengan baik berikut dengan bukti dan juga beberapa saksi. Tentu saja, tidak ada wanita lain walau dalam perkara yang sudah terjadi adanya pemeran utama wanita di novel kehidupan seorang Bagaskara.
Sofia, di cerita Laluna dan Bagaskara kali ini hanya menjadi seorang figuran. Alur berubah, Laluna tersenyum lega. Ia bisa merubah alur tanpa membahayakan siapapun, kehadirannya di dunia novel ini membuat perubahan signifikan untuk semua tokoh.
Laluna tidak menyesal, ia sudah mengenal Sofia hari ini. Gadis cantik, sopan dan terlihat sangat tangguh yang menjadi teman sekaligus pegawai di Istana bisnis Bagaskara Jayvyn. Di tambah, seluruh dunia kembali gempar karena sebuah berita menunjukkan kedekatan Laluna Lituhayu gadis SMA yang manis dengan Pengusaha kaya raya Bagaskara Jayvyn di Rumah Sakit.
Begitulah kira-kira headline news dari beberapa berita viral, Laluna merasa menang bisa mendapatkan Bagaskara walau dia tidak mungkin menunjukkannya. Dia masih sangat mempertahankan gengsinya, dan tentu saja dia akan melihat seberapa keras seorang Jayvyn berusaha.
"Jadi? Apa sekarang aku di maafkan?" Tanya Bagaskara, begitu ia duduk di hadapan Laluna yang tampak puas dengan penjelasan keseluruhan.
"Tapi, kenapa dari awal ga bilang dulu kalau Kak Bayu berkhianat? Kan Luna bisa bantuin walaupun dikit" ujar Laluna masih dengan mempertahankan egonya yang sekecil kuku jari.
"Lalu, kamu akan terluka gara-gara aku? Oh tidak, aku tidak akan membiarkan siapapun melakukan itu" jawab Bagaskara yang membuat Laluna terdiam.
"Bukan karena Kakak berpikir kalau aku hanya anak kecil yang ga tau apa-apa dan ga bisa berbuat apa-apa kan Kak?" Pertanyaan yang tiba-tiba terbersit karena Laluna mengingat komentar netizen tentang headline news tadi, hampir semua menyudutkan Laluna.
Gadis remaja labil penggila harta, yang tidak pantas bersanding dengan Pangeran klan Jayvyn.
Jiwa insecure Laluna sering muncul akhir-akhir ini, sejak kejadian Arjunka kepercayaan dirinya pada diri sendiri dan orang lain pun ikut terkikis.
Menjadi pilihan namun tidak terpilih, ingin bahagia tapi dia ingat ini bukan hidupnya. Ingin berjuang, tapi untuk siapa dia hidup?
"Hei, kenapa melamun?" Tanya Bagaskara lembut, Laluna tersenyum masam. Bahkan, pria tampan di hadapannya yang membuat jantungnya deg deg an ini masih saja mampu membuat Laluna insecure.
Benar, apa dia harus mencari orang yang setara? Supaya apa yang ia lakukan tidak di anggap berlebihan, atau yang tidak ia lakukan pun bukan kekurangan.
"Kak, lain kali Luna juga mau di libatkan dengan apapun yang Kakak akan lakukan boleh?" Tanya Laluna akhirnya, membuat Bagaskara terdiam. Namun menjawab dengan anggukan dan belaian lembut di punggung Laluna, nyaman ia rasa.
"Bagaimana kalau sekarang kita makan siang aja? Ada Cafe baru yang katanya enak" imbuh Laluna lagi, menggandeng Bagaskara dengan senyum merekah ketika ajakan Laluna di iya kan.
Berjalan kaki di hari yang cerah, di tengah keramaian manusia lain yang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Laluna merasa aman dan terarah, dalam hati ia meminta Laluna asli tidak pernah kembali. 'Hiduplah dengan damai Laluna, biarkan aku yang menggantikanmu disini' ucap Laluna dalam hati.
Bagaskara dengan bangga menggenggam tangan Laluna, gerak gerik mereka tidak pernah luput dari kamera netizen yang mengetahui mereka.
"Kakak ga risih? Di gosipkan doyan bocil?" Tanya Laluna pada akhirnya.
"Tidak, usia hanyalah angka kan? Kalau perlu, seluruh makhluk di bumi ini tau kalau kamu punyaku" jawab Bagaskara, Laluna mencibik gemas.
"Paling bisa deh bikin aku deg deg an" jawab Laluna jujur, membuat Bagaskara berhenti melangkah. Laluna menatap Bagaskara penuh tanya.
"Jantung kamu sudah berdebar untuk aku?" Tanya Bagaskara polos, membuat Laluna salah tingkah dengan wajah memerah.
"Ih itu ga penting, yang penting Kak Bagas minta izin ke Mama Papa aku kalau mau ikut aku pindah juga" jawab Laluna keluar topik, dan sepersekian detik dia menyadari ucapannya.
"Mereka akan baik-baik saja, kita tunangan yuk sayang" ujar Bagaskara.
Laluna yang salah tingkah setengh mati menahan debaran jantungnya, memilih berjalan meninggalkan Bagasakara yang tersenyum cerah.
"Laluna, ayo kita menikah!" Seru Bagaskara di tengah keramaian, membuat Laluna sejenak menengok ke belakang melihat Bagaskara yang berdiri menjulang begitu tampan, dan Laluna menutupi wajahnya. Malu dan salah tingkah.
"Sayang, ayo menikah!" Seru Bagaskara lagi, mengejar Laluna dengan langkah lebarnya.
"Kak! Malu" seru Laluna saat Bagaskara sudah berhasil menyamai langkah kecil Laluna.
"Kenapa? Laluna ayo menikah" sekali lagi Bagaskara menanyakan hal yang sama, menggenggam tangan Laluna yang kini berhenti dan menatap Bagaskara.
"Kak?" Laluna terkesiap ketika Bagaskara mencium punggung tangan Laluna dan memeluknya.
"Jangan pikirkan apapun selain kebahagiaan kamu Laluna, aku ada untuk membuat kamu bahagia" ucap Bagaskara tulus, mendekap erat Laluna dalam pelukannya.
Sorakan beberapa orang yang entah sejak kapan mengerumun dan memotret mereka, membuat Laluna tersadar. Dia bukan lagi gadis biasa, entah kenapa jiwanya semakin ingin memiliki kehidupan yang bukan miliknya ini.
"Terima terima terima" sorakan yang ramai terdengar membuat Laluna tersenyum malu, namun dia memilih untuk menjawab sorakan itu dengan tingkah imutnya.
"Ssst, jawabannya rahasia. Tunggu kabar baiknya aja ya" jawab Laluna sopan membuat sorak sorai semakin riuh, suara lembut Laluna membuat beberapa di antara mereka heboh.
Bagaskara tersenyum, menarik kembali Laluna beriringan menuju cafe yang Laluna inginkan.
"Jadi seperti manusia biasa ga sih Kak? Jalan kaki? Nyari Cafe? Berinteraksi dengan orang asing?" Tanya Laluna.
"Bukankah selama ini kita manusia biasa?" Tanya Bagaskara mengulang. Laluna terdiam, dia salah bicara. Yang di maksud, bukan manusia biasa, tapi seperti manusia nyata yang berjalan dan melakukan semua seperti manusia nyata pada umumnya. Namun, Laluna menyunggingkan senyumnya menghilangkan kegugupannya.
"Ya, siapa tau Kak Bagas manusia super" ia alihkan dengan candaan receh seperti biasa.
"I will be, only for you" jawaban Bagaskara, menyentuh hati Laluna. Tolong, Laluna mulai serakah. Ingin memiliki semua yang Laluna asli miliki.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Antagonist's Second Chance
Fantasy(HANYA AKAN LENGKAP DI KARYAKARSA) AWAL CERITA SUDAH TERSEDIA DI KARYAKARSA Lorenza berusia 25 tahun, yang tengah menjalani the quarter of life nya. Yang merasa hidup sedang berat-beratnya, menjadi junior di kantor tidak semudah yang ia bayangkan. S...
