Hai guys. Jangan lupa votes dan comment
Boleh yuk dukung personali life aku juga sebagai konten kreator, dgn subscribe dan like YT di atas. Di tonton sambil baca ini juga boleh banget.
Lorenza, terbangun dengan kepala berat. Matanya perlahan terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk dalam ruangan ini. Aroma obat-obatan tercium kuat, Lorenza meringis melihat ruangan mewah yang ia tempati. Apa perusahaannya mampu membayar ruangan semewah ini di RS sebagai kompensasi karena ia di celakai pegawai lainnya?
Belum selesai dengan pemikirannya, usapan halus di tangannya menyadarkan Loren bahwa ini bukan dunianya.
"Kamu sudah bangun sayang? Bagaimana? Apa yang kamu rasakan sekarang?" Suara lembut wanita cantik di hadapannya ini membuatnya bingung.
"Ah, saya hanya merasa pusing dan ingin muntah" jawab Lorenza, yang membuat wanita tersebut menekan bell untuk memanggil perawat atau dokter yang sedang berjaga.
Tidak lama, perawat dan dokterpun datang. Perawat melakukan tensi dan membetulkan selang infus di tangannya.
"Rasa pusing dan mual memang wajar di alami beberapa pasien yang kena anastesi, walau operasi hanya sebentar tapi efek pusing mual hingga muntah akan tetap ada" jawab dokter setelah wanita tadi bertanya.
Diam-diam, Lorenza melirik map yang di bawa perawat.
Nama pasien yang bertuliskan Laluna Lituhayu. Tubuh Loren seakan membeku, bagaimana mungkin dia akan melupakan Laluna, si sad girl yang berakhir tragis? Laluna memperhatikan kulit putih pucatnya, dia harus segera menemukan informasi tentang alur novel ini. Laluna tidak banyak di ceritakan selain keburukannya.
"Ma? Hari ini tanggal dan tahun berapa?" Tanyanya, dia segera memposisikan dirinya sebagai Laluna. Kalaupun ini hanya mimpi yang sebentar, Laluna tidak akan melewatkan nafas yang terbuang sedikitpun.
Wanita yang ia panggil Mama tadi mengerutkan keningnya, "3 Februari 20xx. Kenapa? Kamu aneh deh sayang"
Laluna tersenyum tipis, rupanya ia belum memasuki tahun ajaran baru. Masih ada beberapa bulan untuk sang female lead masuk ke kehidupannya, masih ada kesempatan.
"Mungkin efek anastesi ma, aku jadi linglung begini" jawab Laluna.
"Mulai sekarang, ga boleh lagi makan pedas ya? Walaupun usus buntu kamu sudah di ambil, tapi Mama masih gemeteran sampai sekarang" jawab Mama Laluna.
Laluna baru menyadari, pantas saja perutnya terasa nyeri. Ternyata dia operasi usus buntu, untung saja Lorenza tidak begitu menyukai pedas. Kecuali saat menjelang tamu bulanannya, makan pedas adalah keharusan baginya.
Laluna mengambil ponsel di nakasnya, beruntungnya ponselnya dapat di buka dengan menampilkan wajahnya. Laluna membuka banyak chat dari teman-teman yang tidak ia tau, mencari nama Arjunka yang berada hampir paling bawah di aplikasi chat nya. Itu tandanya, Arjunka tidak mengiriminya pesan baru-baru ini. Entah kenapa, bahunya merosot tak suka.
Tidak di ceritakan bagaimana Arjunka sebelum bertemu Female Lead, dia tidak tau harus bagaimana kepada tunangannya itu. Yang ia tau, Laluna mencintai Arjunka teman masa kecilnya, yang di tunangkan ketika mereka kelas 2 SMP untuk sekedar mengikat keduanya.
"Arjunka kesini ma?" Tanya Laluna pada akhirnya.
Mama Laluna mengangguk "Iya, dia baru saja pulang karena ada ekskul sore ini" jawabnya.
Laluna membuka chat antara dia dan Arjunka, dia meringis ngeri melihat cara Laluna asli menulis pesannya. Apakah trend ini keren di sini? Banyak sekali emoticon dan hiks hiks huhu uwuwuw di dalam pesannya. Ia melotot tak percaya, apakah Laluna asli se lebay ini? Padahal jawaban dari Arjunka biasa saja, lebih banyak telfon masuk dari Ajunka daripada balasan pesannya. Mungkin, Arjunka tipe tidak suka bertukar pesan.
Laluna mencoba mengirimnya pesan.
Aku sudah sadar
Hanya itu, tanpa emoticon tanpa hiks hiks huhu dan ke alay an lainnya. Laluna di isi dengan jiwa Lorenza yang berusia 25 tahun, sedangkan Laluna berusia 16 tahun. Laluna tidak bisa berpura-pura menjadi ABG lagi setelah apa yang ia lewati di dunia sebelumnya.
Tak lama, panggilan masuk terdengar. Terlihat nama Arjunka 💘 di layar ponselnya.
"Halo" sapa Laluna.
"Gimana?" Tanya suara di seberang, Laluna mengernyit bingung. Suara ini seperti suara pria tampan dewasa yang bisa membuat jantung Laluna saat ini berdebar.
"Apanya yang gimana?" Tanya Laluna ulang.
"Tch"
Laluna tersenyum tipis, sepertinya menggoda tunangannya saat ini adalah hal menyenangkan baginya. Kapan lagi dia punya tunangan? Sebelum negara api menyerang, maka dia akan memanfaatkan semuanya.
"Masih nyeri, obat biusnya sudah habis, jadi yah..." helaan nafas Laluna terdengar jelas oleh Arjunka.
"Besok kalau sudah sembuh, makan pedes aja lagi yang banyak. Kan tunangan lo ga pernah merhatiin ga pernah ngurusin lo kan?" Sarkas Arjunka.
"Iya, nanti aku bakal makan sepedes mungkin biar tunanganku puas"
"Berani?" Tanya Arjunka dengan suara tegasnya.
Laluna hanya nyengir menampakkan deretan gigi putihnya, yang tak terlihat oleh Arjunka. Namun, Mamanya melihat itu semua. "Selesai ekskul, aku kesana gantian sama Mama Lani. Mau nitip apa?"
"Mm..." Laluna tampak berpikir, di dunia ini apa kulinernya juga sama dengan kuliner di dunianya? "Apa ada Mushroom Cream Soup? Aku sedang ingin sesuatu yang gurih dan creamy"
"Iya, nanti aku bawain"
"Makasih Arjunka" jawab Laluna kemudian panggilan mereka berakhir.
Laluna menahan senyumnya, yang tak luput dari perhatian mamanya.
"Nanti malam Arjunka yang jagain, mumpung besok Weekend kan?" Tanya Mama Lani pada Luna yang bersemu merah.
"Ma, kalau misalkan pertunangan Arjunka dan Luna ga bisa berlanjut. Bagaimana?" Tanya Laluna pelan, menatap Mamanya yang tampak mengernyit heran.
"Memang berakhir kenapa? Semua baik-baik aja sejauh ini, kamu dan Arjunka juga sepertinya jadi jauh lebih dekat" jawab Mama Lani.
Laluna menggigit bibir dalamnya, bukankah ungkapan 'calm before the storm' sangat tepat kali ini? Siapa yang akan tau nasibnya besok, lusa atau kapanpun? Seperti melempar dadu, Laluna hanya menunggu keberuntungan memihak padanya.
"Bukankah kami terlalu muda untuk mengenal apa itu komitmen Ma? Kita tidak pernah tau hati seseorang kan? Bisa jadi Arjunka nanti menemukan cinta sejatinya, begitu pula dengan Luna" helaan nafas terdengar pelan.
"Itu sebabnya, kami mengikat kalian berdua supaya kalian fokus dengan hubungan kalian sedari dini. Agar tidak ada kecenderungan bermain hati" jawab Mama Lani.
Andai Mama Lani tau, apa yang akan terjadi pada kehidupan Laluna mendatang. Lorenza pernah menjadi antagonist di kehidupan orang lain walaupun dia tidak berbuat jahat menurutnya, dan berakhir tragis. Dan saat ini, Laluna berusaha menghindari konflik dan akhir yang tragis. Bukankah selalu ada kesempatan kedua bagi setiap orang?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Antagonist's Second Chance
Fantasía(HANYA AKAN LENGKAP DI KARYAKARSA) AWAL CERITA SUDAH TERSEDIA DI KARYAKARSA Lorenza berusia 25 tahun, yang tengah menjalani the quarter of life nya. Yang merasa hidup sedang berat-beratnya, menjadi junior di kantor tidak semudah yang ia bayangkan. S...
