Pagi tiba entah mengapa hari ini cuacanya sangat dingin,jian yang sangat mengantuk namun ia juga ingin bangun kembali menarik selimut tipis untuk membungkus tubuh kurusnya.
"Errrr dingin ji"
Gumamnya gemetar kedinginan.
***
"Semua barang kamu sudah diberesin"
Tanya papa dion
"Iya sudah semua"
Jawab sion menunjuk koper koper yang ada di lantai.
"Oke sekarang kita sarapan,"
"hmm"
Setelah bi asih selesai menyajikan makanan diatas meja makan,sion dan papa dion kemudian memulai untuk makan sarapan.
20 menit sarapan,sekarang papa dion dan sion sedang santai sebentar sebelum berangkat karena sekarang baru jam 8 pagi.Sedangkat jam keberangkatan sekitar jam 10:19 pagi.
"Pah berangkat kesana nya jam berapa"
Tanya sion karena sebelumnya ia belum dikasih tau jam berapa berangkatnya.
"Jam 10 an pagi"
"oh"
Karena sekarang sudah jam 9:20 papa dion dan sion berdiri dari duduknya.
"Bi bi asih"
Panggil papa dion
"Iya tuan"
"Bawa koper anak saya kemobil"
Suruh papa dion menunjuk 3 koper disampin sofa,1 dibawa sion sedangkan 2 dibawa bi asih
"Tuan,sama aden mau kemana"
Tanya bi asih memegang dua koper sion
"Diamlah,bukan ranah kamu untuk bertanya "
Ucap papa dion
Bi asih yang merasa salah bicara meminta maaf .
"Bawa kemobil sekarang"
"Baik tuan"
Didahului papa dion kemobil dengan membawa 2 koper karena sebelumnya barang yang lain sudah dikirim kejepang beserta barang sion.
Setelah semua sudah dimasukan kedalam mobil,papa dion menatap bi asih
"Hari ini terakhir anda bekerja"
Bi asih yang mendengar itu terbelalak.
"Tuan kenapa?"
"Saya dan sion sudah tidak akan tinggal dirumah ini dan saya akan memberikan rumah ini keadik saya untuk sementara saya dijepang,dan dia akan membawa pembantu miliknya sendiri"
Jelas papa dion
"Tapi tuan bagaimana dengan ade jian"
Mendengar kada jian membuat papa dion mendatarkan wajahnya yang semula sudah datar.
"Saya tidak perduli akan dia,terserah mau anda bawa dia atau anda tunggalin.Bukan urusan saya."
"Tuan"
Ucap bi asih tidak percaya
Sion yang mendengar itu hanya diam dengan wajah tampak tidak perduli?
***
"Papa,akak,
Teriak jian saat mendengar suara sang kakak dan papanya diluar,dengan berjalan sedikit tertatih jian menggerakkan alat tongkat krkanan dan kekiri agar jian tidak tertabrak benda sekitar
Akak,papa mau kemana?"
Lanjutnya lagi dengan polos dengan kepala yang solah mencari sesuatu
Mendengar jian bertanya menghentikan langkah papa dion dan sion yang hendak masuk kedalam mobil.
"Bukan urusan kamu"
Jawab papa dion datar
"Papa ji ikut boleh jangan tinggal tinggal"
Sion yang mendengar ucapan jian melangkahkan kakinya mendekat kearah jian
"Denger,
Tekan sion datar
Lo itu bukan siapa siapa,jadi jangan menghambat gw sama bokap gw pergi"lanjutnya mendorong jian pelan.
Jian yang merasa terdorong melengkungkan bibir kebawah.
"Kenapa tidak boleh akak hiks ji nak ikut"
Ucapnya sesegukan
Papa dion dan sion hanya menatap dengan wajah dingin
"Ayo masuk kemobil sion kita hampir telat"
Ajak papa dion
"Iya"
Keduanya pun masuk ke mobil,pak supir yang merasa kedua tuannya sudah masuk menjalankan mobilnya keluar pekarangan rumah.
Jian yang merasa ditinggal terisak nyaring dan hendak berlari mengikuti mobil yang melaju,namun bi asih yang melihat itu mencoba menghentikan lari jian.
"Bibi hiks lepasin ji,ji mau susul akak sama papa hiks jangan"
Tangis jian nyaring memandangin mobil yang sudah cukup jauh didepan,jian bahkan membuang tongkatnya.
"Ji tenang ya,bibi mohon"
Bi asih yang melihat jian histeris menjatuhkan tubuhnya ketanah dengan nafas yang sesegukan tidak berani menatap jian,ia merasa kembali pada waktu keluarga itu liburan pada waktu lalu,namun saat itu jian tidak sehisteris sekarang.
"Argggg hiks l-lepas bibi ji mau akak papa ji hiks lepas tangannya jangan tahan tahan hiks."
Ucap jian berontak dipelukan bi asih dengan sapas sesegukan.
"Tenang ade ya nafasnya ade sesak nanti"
Ucap bi asih menenangkan jian yang sudah mulai melemah.
Bi asih yang hanya mendengar lirih tangis jian menatap wajah itu pelan,bi adih menatap wajah memerah layu itu sedih.Dengan nafas yang tersenggal senggal dan mata yang tertutup membuat bi asih panik
"Adek hei adek denger bi asih"
Ucap bi asih memukul pelan pipi jian,namun tidak ada tanggapan pasti dari jian.
Jian yang tidak mampu berbuat banyak hanya bisa diam,dia takut panik kenapa papa dan sang kaka pergi apakah ia berbuat salah,apakah ia nakal jadi keduanya pergi meninggalkan jian sendiri....
"Bi asih harus gimana,
Gumam bi asih pelan ia tidak bisa mengangkat tubuh jian,walaupun tubuh jian tergolong kecil untuk anak seusianya 15 tahun tapi bi asih sudah tua tulangnya keropos (bercanda).
Tunggu ya bi asih mau telphon bang fahri dulu"lanjutnya lagi mencari no fahri dihanphonnya.
10 menit menunggu akhirnya bi asih melihat fahri yang datang dengan sepedanya.
"Ibu"
"Fahri tolong ibu bawa jian kekamarnya "
Fahri yang mendengar suruhan ibunya segera mengangkat tubuh jian dan dibawa kedalam rumah untuk dibawa kekamar .
Bi asih yang didepan menunjukan letak kamar jian ke anaknya fahri,dengan menenteng tongkat ditangan kanannya.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chapter : Brothership = Happines -> Jian
Sonstiges♡ Siksaan siksaan yang didapat jian,membuat ia selalu merasa salah. Keadaan nya yang tidak terlalu baik,kelainan karena benturan keras saat dikandungan membuat ia terjebak di pemikiran anak anak,walaupun disaat umurnya bertambah dewasa Jian hanya a...
