"Lalala hali ini ji senang sekali hehe,
Cengir jian seraya membersihkan kamarnya
Ji hari ini papa ji pulang,senang sekali ji.Oh iya ji harus beres beres bial nanti papa pulang senang lumahnya belsih"lanjutnya lagi setelah selesai membersihkan kamarnya.
Sekarang jian sedang membersihkan lantai dengan menyapu dang mengepel.
Walaupun ada bi asih dan sudah dibersihkan juga,namun tetap aja pikiran polos jian yang sangat ingin membuat senang sang ayah.
Beberapa lama jian pun selesai memberasihkan itu semua.
"Emmm,ada yang kulang deh,
Ucap jian mengingat ngingat sesuatu
Aha iya ji lupa meja meja sama guci guci belum di belsihin,aduh ji paboya"
Lanjutnya lagi dengan lucunya memukul pelan dahinya.
"Cucucucucu wing gom cucucucucu cucu"
Terdengar suara nyanyian dari mulut kecil jian,
Prang
"Apa apa an ini"
Teriak papa dion saat melihat jian yang tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu yang ada dilemari
Deg
"P-papa"
Mendengar teriakan dari sang papa jian merasakan takut,jian merasa kaget dan gemetar.
Plak
"Dasar anak bod*h,kamu apakan guci kesayangan istri saya HAH"
Papa dion dengan kasar menampat pipi tirus itu kencang dan membentaknya dengan kasar
"Ampun papa ji hiks"
Tangis jian memegang sebelah pipi bekas tamparan sang papa
"Dasar tidak berguna,
Tekan papa dion mencengkram bahu kecil jian keras
"Am-ampun papa ji sakit hiks "
Jerit jian mencoba melepas cengkraman kuat papa dion
Papa dion yang melihat itu tidak perduli,ia semakin mengencangkan cengkramannya tanpa merasa kasihan
"Diam"
"Papa hiks sakit"
Lirih jian lagi
"Saya bilang diam sial*n,
Ucap papa dion kencang seraya mengguncang tubuh jian.
Dengerin saya,kamu itu sekarang buta, jadi saya harap jangan banyak tingkah.Asal kamu tau saya bisa saja ngembuang kamu saat ini,Paham kamu"lanjut papa dion lagi tanpa perduli wajah jian yang sudah ketakutan.
"Papa jangan buang ji hiks,ji minta maaf,ji tidak akan ulang ulang hiks papa"
Jerit jian
Papa dion tetap papa dion orang yang berhati keras,ia bahkan hanya memasang wajah datar mendengar jeritan memilukan itu.
Ia tidak perduli saat melihat tubuh kecil itu jatuh meraung gemetar.
"Bi,bi asih"
Teriak papa dion
Bi asih yang dari tadi mengintip dari awal hanya bisa terdiam,karena demi apapun ia tidak bisa membantu seperti dulu.
"Bi asih"
Teriak papa dion lagi lebih keras.
Bi asih yang mendengar teriakan kedua dari tuannya itu segera mungkin menemui tuannya.
"Iya tuan besar ada yang bisa saya bantu"
"Bersihin kekacawan ini,saya mau istirahat
Perintah papa dion
Dan ingat jangan biarkan tangan samp*h itu menyentuh barang barang yang ada dirumah ini"lanjutnya lagi seraya menunjuk jian yang masih sesegukan dilantai.
Setelah memberi perintah kepada bi asih papa dion berlalu kekamarnya untuk istirahat.
Bi asih yang melihat tuan besarnya berlalu segera membersihkan kekakacawan yang dibuat jian.
Setelah selesai memberaihkan semua itu ,bi asih segera menemui jian yang masih terduduk dengan isak lirih
"dede udah ya,ayok kita kekamar "
Ajak bi asih
"Bi hiks ji salah maaf ji nakal hancul hancul balang hiks"
Gumam jian pelan
Bi asih yang mendengar gumaman itu merasa sedih
"Dedek tidak papa bi asih sudah beraihin kok,jadi tuan tidak marah lagi"
Ucap bi asih
(mungkin) lanjut bi asih didalam hati
Setelah jian mulai tenang,bi asih membantu jian untung bangkit dari duduknya,bi asih juga membantu memgambilkan tongkat yang tergeletak disudut lemari.
Setelah sampai dikamar,bi asih segera membantu jian duduk dan memberi dia air minum yang ada atas dinakas dekat tempat tidur
"Nah sekarang jian istirahat ya,maaf bibi tidak bisa lama lama"
"Iya bi ndak papa ji"
Jawab jian polos dengan mata kosong yang menatap lurus kedepan.
"Yaudah bibi keluar ya,bibi bakalan tutup pintunya"
"Iya bibi telimakasih"
Ucap jian
"Sama sama"
Setelah itu bi asih menutup pintu kamar jian pepan dan kembali kedapur untuk membereskan area dapur kotor setelah selesai bi asih kembali pulang kerumahnya.
.
.
.
-------------------
Yes im back😏
KAMU SEDANG MEMBACA
Chapter : Brothership = Happines -> Jian
Acak♡ Siksaan siksaan yang didapat jian,membuat ia selalu merasa salah. Keadaan nya yang tidak terlalu baik,kelainan karena benturan keras saat dikandungan membuat ia terjebak di pemikiran anak anak,walaupun disaat umurnya bertambah dewasa Jian hanya a...
