"Semua orang sudah pelgi bibi hiks,bibi jangan tinggalin ji ya"
Tangis ji sesaat sampai didalam kamar jian
Bi asih yang mendengar itu hanya terdiam
"Maaf jian bibi sudah dipecat sama tuan,bibi tidak bisa menemani jian lagi"
Jian yang mendapati jawaban dari bi asih kembali menangis kencang.
"Kenapa tinggal tinggal ji telus hiks ,ji nakal ya pukul ji aja tapi jangan pelgi bibi"
Ucap jian mencari cari tangan bi asih untuk digenggam dan memukul mukul kepalanya
Bi asih yang mendapati jian seperti itu menghentikan dan menarik tangannya sendiri biar tidak dipakai jian untuk memukul kepalanya.
"Ji tidak salah,ji juga tidak nakal jadi jangan pukul pukul ya, nanti kepalanya sakit"
"Tapi jangan pelgi hiks"
"Maaf jian bibi harus pergi,abang fahri dapat beasiswa dibandung jadi bibi akan ikut kesana"
Jelas bi asih pelan pelan agar jian mengerti
"tidak mau hiks kenapa tidak abang fahli sendili aja bibi disini"
Tawar jian sesegukan memegang tangan bi asih erat
Bi asih dan fahri hanya saling pandang mereka sedih melihat keadaan jian yang tidak ingin ditinggal.
Mata jian yang kosong menatap kearah samping fahri yang duduk di depan jian
"Ji bibi harus ikut soalnya disini bibi sudah tidak punya apa apa,bibi sudah beli rumah disana biar bibi bisa tinggal dan lebih dengan dengan abang fahri."
Jian yang mendengar penjelasan itu tetap tidak mengerti,dia hanya paham kalau dia akan ditiggal lagi seperti kaka dan papa yang meninggalkannya dirumah besar ini.
"Jia boleh ikut tidak,ji tidak ingin sendili ji takut"
Ucap jian menatap wajah bi asih dan fahri sedih,
ji pengen lihat wajah bibi sama bang fahri batin jian menangis
Fahri yang mendengar itu terdiam,ia menatap ibunya yang ikut terdiam ,
ia sedikit iba dengan jian karena tidak ada yang menyayangi anak spesial seperti jian.
"Ibu bolehkan kita bawa jian,aku enggak mau dia sendiri dirumah besar ini apalagi tidak ada yang menyayanginya"
Ucap fahri
Bi asih yang mendengar itu mempertimbangkan usulan anak laki lakinya itu,sebenarnya ia sudah memikirkan itu apalagi ia ingat ucapan tuannya kalau ia boleh membawa jian.
"Baiklah jian boleh ikut sama bibi"
Ucap bi asih
"Benelan bi hiks "
Bi asih yang dipeluk jian menatap fahri yang tersenyum,bi asih yang melihat fahri tersenyum ikut tersenyum.Semoga aja ini keputusan yang tepat
"Bibi telimaksih bibi ji senang kalena masih ada yang sayang ji,ji sayang bibi sama bang fahli"
Ungkap nya mengusap wajah yang ada air mata dipipi dan pelupuk matanya.
"Sama sama sayang,yaudah sekarang kita beres beres yuk"
"Ayok"
Fahri yang melihat jian kembali semangat dengan mengangkat tangangnya tertawa pelan,ia merasa lucu melihat tinggal polos itu.
"abang fahli teltawa kenapa"
Tanya jian memiringkan kepalanya bingung dengan tatapan kosong polos miliknya
"kenapa tertawa sayang,bukan tertawa kenapa hahaha"
Ucap bi asih membenarkan sembari tertawa pelan
"Jiji salah ya bibi hiiiiii"
Ucap jian cekikikan menutup mulutnya malu.
Bi asih serta fahri kembali tertawa melihat ulah jian yang kelihatan lucu bagi mereka.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chapter : Brothership = Happines -> Jian
Random♡ Siksaan siksaan yang didapat jian,membuat ia selalu merasa salah. Keadaan nya yang tidak terlalu baik,kelainan karena benturan keras saat dikandungan membuat ia terjebak di pemikiran anak anak,walaupun disaat umurnya bertambah dewasa Jian hanya a...
