"Jian hei"
Jian yang merasa tubuhnya diguncang pelan sontak terbangun dari tidurnya.
Dengan mata yang yang sedikit kabur jian meliat seseorang samar samar.
Deg
Jii bisa lihat...?
Benelan...! Ini ji sangat senang .....
Dengan memusatkan pandangannya jian sontak membuka matanya lebar melihat keberadaan papa dan kakaknya sion.
"K-kakak pa-papa"
Ucap jian terbata bata kembi mengusap matanya keras.
"Hei matanya jangan diusap,nanti sakit loh"
Ucap sang ayah menahan tangan jian
B-beneran kah ini...?
"Adik kakak kenapa melamun.?"
Jian yang tadi melamun tersentak kaget kala sion berucap seraya mengusap kepalanya lembut.
"Kakak ji.."
Ucap jian tidak percaya.
"Iya ini kakak, kamu kenapa hmmm.."
Tanya sion lembut.
"Tidak ji ,tidak apa apa heheheh"
Ucap jian tersenyum senang.
Kakak sayang jii..? Waaah
"Ah sukurlah,kakak pikir kamu kenapa.."
"Ji sayang kalian,ji sayang akak sama papa"
Ucap jian tersenyum manis sehingga matanya berbentuk bulan sabit .
"Hahah,kamu ini ada ada saja kami juga sayang kamu.."
Ucap papa dion mengacak rambut jian
"hahah"
"Jian bangun...."
Ucap pelan sion
Byur
Arrrggggg
Jian yang terlelap berteriak histeris saat merasaka air dingin ditubuhnya yang membuat jian gemeter.
"Bagus,.. Dasar anak si*l"
Bentak angel menatap tubuh jian tajam
"Ny-nyonya"
"Jam 8 pagi lo baru bangun,lo tau masih banyak pekerjaan yang harus lo selesain.
Lo itu disini jadi pembantu buka majikan jadi jangan banyak tingkah."
Tekan angel
"M-ma___
"Berisik,siap siap sekarang dan bantu bi ana di taman,dasar menyusahkan"
Bruk
Angel yang marah melempar ember kesamping tubuh jian keras,yang membuat jian tersentak ketakutan
"Hiks m-maaf ji "
Ji yang ketakutan menangis dengan memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya dilutut
Angel yang sebenarnya masih di deoan pintu menatap jian datar.
Brak
Arrrrgggg
Sentak jian kaget
"Sudah nangisnya,sekarang keluar dan samperin bi ana"
Setelah berucap angel menjalankan kakinya meninggalkan jian yang masih sesegukan
Dengan pelan jian bangkit dari kasurnya yang sedikit basah,berganti pakaian dengan yang kering setelag selesai jian menjalankan kakinya ketaman menemui bi ana.
Sejujurnya jian sudah mengerti lingkup daerah rumah milik sang papa,berkat ingatan jian sebelum kehilangan penglihatannya.Namun jian masih memerlukan tongkat untuk meminimilasir terjadinya jian tersandung atau terhantup dinding.
Ditaman jian sedikit berteriak mencari dimana bi ana berada.
"Ah berisik lo"
Bentak bi ana
Mendengar bentakan dari bi ana,jian menunduk merasa bersalah membuat bi ana marah.
Mendekati bi ana dengan instingnya
"M-maaf bibi"
"Ck ngapain lo disini"
Ucap kasar bi ana.
"Ny-nyonya nyuluh ji bantu bantu"
Jawab jian polos.
Mendengar jawaban jian bi ana berdecak kesal.
Dih mau bantu apa,! ngerecokin iya....
Haaah,males banget gw..
Entar kalau ada masalah gimana yang ada malah kerja dua kali nanti,iya sih kalaupun ada masalah bukan gw yang dimarahin,tapi tetap aja...
"Bibi ana jii bisa tolong apa..?
"Ck bantu doa aja gih lo"
Ketus bi ana.
"T-tapi nyonya nanti malah sama ji,ji tatut bibi"
"Dih egepe,emang gw peduli."
Ucap bi ana acuh
Jian yang mendengar hanya terdiam lesu,
Ji halus apa...! Ji nyusahin telus kah..? Makanya bibi ana malah malah...
ji pusing sekali..
"Ngapain masih disini,sana bersihin bekas bekas potong potongan kertas dibawah."
Ucap bi ana keras.
"I-iya bibi"
Dengan meraba raba jian segera menjalankan tugas dari bi ana,jian penasaran ada acara apa jadi banyak kertas kertas.
"Bibi ji tanya boleh, bibi ada acala apa..?"
"Ulang tahun"
Ucap datar bi ana
"Ulang tahun..? Ulang tahun siapa..?
Tanyanya lagi.
"Ulang tahun den theo.."
"Den theo siapa..?"
Tanya jian semakin penasaran.
Sedangkan bi ana berdecak sebal dan menatap jian yang lagi beres beres dengan tajam.
"Berisik lo,kerjain aja tugas lo ngapa si banyak tanya banget.
Kesel gw"
Bentak bi ana.
Jian yang dibentak tersentak kaget.
"M-maaf jii salah,jii minta maaf.
Pungkasnya terbata bata.
"Cih"
KAMU SEDANG MEMBACA
Chapter : Brothership = Happines -> Jian
De Todo♡ Siksaan siksaan yang didapat jian,membuat ia selalu merasa salah. Keadaan nya yang tidak terlalu baik,kelainan karena benturan keras saat dikandungan membuat ia terjebak di pemikiran anak anak,walaupun disaat umurnya bertambah dewasa Jian hanya a...
