Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

030 || Ujian Akhir Semester

830 72 4
                                        

Hari ini adalah hari di mana semua pembelajaran itu akan berakhir atau lebih tepatnya satu minggu ini adalah puncaknya. Hari di mana semua orang akan mulai bersaing saling mempertahankan nilai bahkan menyontek untuk mendapatkan nilai yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Inpramta High School tengah mengadakan ujian akhir. Satu minggu semua pelajar akan terfokus dengan itu. Ujian akhir yang akan menentukan nilai di semester sekarang.

Jantung Esha berdegup kencang, kala Pak Fery pengawas ujian mulai membagikan lembar jawaban beserta soal-soalnya. Hari Senin pertama dan langsung disuguhkan dengan matematika. Yang satu ini mungkin hanya ada di IHS, sebab sekolah lain biasanya akan mendahulukan pelajaran yang lebih mudah seperti Ppkn atau bahkan soal keagamaan.

Tapi IHS beda, baru hari pertama langsung diberikan matematika. Mungkin jika dapat bersuara, masing-masing dari mereka akan mual melihat banyaknya barisan angka yang berjejer di setiap soal. Termasuk Esha, kepalanya pening bukan main, padahal ia sudah belajar semalaman bersama dengan Noa.

“Langsung kerjakan. Dan satu lagi jika sampai Bapak lihat kalian menolehkan kepala hingga menimbulkan kebisingan, Bapak akan robek lembar jawaban kalian.” Tegas Pak Fery, guru bahasa Inggris di kelas dua belas yang terkenal killer.

Esha mendesah berat, mulai mengerjakan satu persatu soal dengan teliti. Dari ekor matanya ia melirik Noa yang duduk paling depan karena absen cowok itu. Noa duduk bersama dengan seorang adik kelas perempuan.

Sistem ujian akhir di IHS memang seperti itu. Satu kelas yang biasanya terdiri dari 30 sampai 35 murid akan di pecah menjadi dua kelas sesuai urutan absen. Lalu mereka akan di satukan dalam satu kelas bersama dengan angkatan yang berbeda, misalnya adik kelas atau bahkan kakak kelas. Tidak akan di satukan bila satu angkatan untuk menghindari kecurangan. Dan kelas 11 IPA 3 harus bersatu di dalam kelas yang sama bersama dengan kelas 10 IPA 4.

Esha berusaha konsentrasi, mengubur dalam-dalam rasa kesalnya melihat Noa yang duduk bersanding dengan seorang adik kelas di depan sana.

Terhitung satu setengah jam, Esha baru bisa menyelesaikan semua soal-soal rumit di depannya. Setelah memeriksa ulang hasil kerja tangannya, Esha mulai menopang dagu menunggu pergantian jam pelajaran yang akan berbunyi tiga puluh menit mendatang.

Kelas benar-benar hening, tak ada yang berani bersuara bahkan menolehkan pandangan. Pak Fery sejak tadi tidak diam, ia bergerak mengelilingi kelas memperhatikan satu persatu siswa-siswi di kelas itu.

Untuk mengusir rasa bosan Esha memilih mencoret asal kertas buram yang memang diberikan untuk keperluan menghitung.

“Rushea Esha.”

Tubuh Esha spontan menjadi tegak saat suara horor Pak Fery terdengar memanggil namanya. Esha menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke samping di mana Pak Fery berdiri.

Pria paruh baya itu menatapnya dengan sorot tajam, wajahnya yang tegas sempat membuat Esha teringat dengan Jiel, karena Jiel mempunyai garis wajah yang sama tegasnya.

“Iya, Pak?” tanya Esha pelan.

Esha mengepalkan tangannya menahan rasa takut sekaligus gugup. Cukup merasa malu karena setelah namanya di panggil, semua orang jadi memperhatikannya yang duduk di meja paling belakang bersama dengan seorang adik kelas bernama Zion, termasuk Noa yang juga menoleh menatapnya.

“Sudah selesai?” tanya Pak Fery masih dengan suara yang terdengar sama tegasnya seperti saat memanggil namanya.

Esha mengangguk pelan, rambutnya yang terurai ikut bergerak. “Sudah, Pak.”

“Bagus. Lain kali rambutnya diikat, saya risi melihatnya.”

Esha mengangguk patuh mendengar pesan Pak Fery sebelum kembali melangkah ke depan memperhatikan yang lain.

Hidden Couple Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang