“Kak Noa!! Ini dari aku, semangat ya!!”
Dari tempatnya duduk, Esha memperhatikan seorang gadis yang ia lihat pada saat pertandingan antar sekolah hari itu tengah mengulurkan satu buah botol air mineral kepada Noa. Esha tidak bergerak, hanya diam seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Padahal di sampingnya ada Anna yang sudah mencak-mencak tak jelas.
“Lo kok diem aja sih, Sha. Itu cowok lo lagi digoda loh. Sama adik kelas lagi, centil banget, idih.” Anna berujar dengan penuh emosi menatap Noa yang malah menerima botol air mineral itu dengan mudahnya. “DIH! MALAH DI TERIMA LAGI!!”
“Na, mending lo hitung satu sampai tiga daripada mencak-mencak gitu.” Balas Esha santai.
“Malah disuruh hitung, buat apaan emang?” tanya Anna kesal.
“Hitung aja.”
Dan Anna menuruti permintaan Esha meski penasaran mengapa ia malah disuruh menghitung. “Satu..”
“Dua..”
“Tiga.”
“YANG, MAU MINUM GAK?!”
Tepat saat hitungan ketiga, teriakan Noa terdengar memanggil Esha menawarkan air mineral yang ia dapat dari adik kelas tadi. Tanpa memedulikan adik kelasnya yang cemberut, Noa melangkah menghampiri Esha yang duduk di tribune barisan paling depan bersama dengan temannya, Anna.
“Boleh, mumpung gue haus.” Dengan santainya Esha meminum air mineral itu setelah Noa membukakan segelnya.
Sedangkan Noa, dia mendudukkan diri di samping Esha. Membuka tasnya sendiri lalu mengeluarkan kotak makan yang sudah Esha siapkan bersama dengan satu botol air mineral. Noa memakannya dengan lahap tanpa memedulikan Anna yang menatapnya, bahkan adik kelas yang mengikutinya hingga ke bangku tribune.
“Kok di kasih ke Kak Esha sih, kak! Aku kan beli itu buat Kak Noa!” adik kelas itu melirik kesal Esha yang sudah menghabiskan setengah air mineral yang dibelinya tadi.
Esha berdecak kagum dalam hati melihat keberanian adik kelasnya itu. Esha rasa hubungannya dengan Noa sudah diketahui oleh hampir semua orang di IHS bukan? Maka melihat ada adik kelas yang mengejar Noa secara terang-terangan, Esha patut mengapresiasinya.
Noa mendengkus, merasa terganggu. Sudah pernah dikatakan bukan, Noa tidak suka apabila ada orang yang mengganggunya dan membuatnya risi. Esha saja bisa ia marahi jika mengganggunya yang sedang tidur atau makan. Ini apalagi, adik kelas yang dengan beraninya mengganggunya bahkan mengikutinya padahal ia sudah terang-terangan memperlihatkan hubungannya dengan Esha.
“Udah gue terima, ada masalah apa lagi?” tanya Noa memberikan kotak makan itu kepada Esha, dan kini menatap kesal adik kelasnya yang tak juga pergi dari hadapannya.
Sejujurnya Noa risi. Belakangan ini adik kelas yang tidak Noa ketahui namanya itu sering sekali merecokinya, padahal Noa rasa ia sering sekali bersama dengan Esha. Dan hubungannya bersama Esha juga sudah diketahui banyak orang bukan? Lalu mengapa pula adik kelasnya ini malah mendekatinya.
“Aku kan kasih buat Kak Noa, bukan Kak Esha!!” jerit adik kelas itu merasa kesal karena pemberiannya tidak dihargai oleh Noa. Kakak kelas yang mulai menarik perhatiannya sejak pertandingan antar sekolah waktu itu.
Karena jeritannya yang cukup nyaring, beberapa orang yang tadinya sibuk sendiri mulai memusatkan perhatian menatap mereka. Termasuk Haraz dan Javier yang melipat kedua tangannya di pojok lapangan, memperhatikan apa yang akan Noa lakukan kepada adik kelasnya itu. Karena mereka tahu, Noa sebenarnya seperti Jiel yang tidak suka jika ketenangannya di usik.
Esha tertawa kecil melihatnya, tanpa peduli dengan beberapa orang yang memperhatikannya ia menyuapkan satu suap nasi beserta lauknya kepada Noa, seolah-olah di depannya itu tidak sedang terjadi drama, dan Noa pun menerimanya dengan senang hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Couple
RomantikYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
