Tujuh belas tahun yang lalu, saat malaikat kecil berwujud bayi mungil itu lahir, Natami menangis haru. Menangis karena rasa bahagia atas kesempatan yang Tuhan berikan kepadanya untuk melahirkan seorang anak lagi dalam keadaan yang sehat dan utuh.
Tangis Natami pernah keluar dengan begitu deras kala telinganya mendengar tangisan bayi mungil untuk pertama kalinya. Jantungnya berdegup sangat kencang kala bayi itu diletakkan di atas dadanya. Hangat, rasa hangat itu langsung menjalar dari kulit ke hatinya.
Dan kali ini Natami merasakan hal yang sama lagi setelah sekian lama, hangat yang menjalar dari kulit hingga ke hatinya itu terasa saat Noa, bayi mungil yang sudah beranjak dewasa itu memeluknya kembali. Menyembuhkan rasa rindu yang selama ini selalu ia tepis dengan begitu angkuhnya.
Hari ini semua rasa itu kembali. Rasa rindu, menyesal, senang, sedih menguar dengan begitu kuat seiring dengan sapuan halus anak laki-lakinya yang sudah bertumbuh jauh lebih tinggi darinya terasa di pipinya.
“Mama, gak perlu minta maaf. Noa gak papa, Noa paham keadaan Mama. Noa gak marah, tapi wajar kan kalau Noa sedikit merasa kecewa.” Noa berucap dengan hati-hati dengan tangan yang tidak berhenti mengelus pipi sang Ibu.
Ramalan Esha benar. Gadisnya benar, hari ini Ibunya kembali seperti sedia kala. Memeluknya dan memohon maaf kepadanya. Tanpa memikirkan apa pun lagi, Noa langsung menyambut permohonan maaf itu dengan senang hati.
Karena sejak dulu, Noa tak pernah marah kepada Ibunya. Ia hanya kecewa, hanya takut, dan juga merasa bersalah. Esha memang benar, ia bukan penyebab Nauni celaka. Tapi karena kecerobohannya dan dirinya yang terlambat berpikir, Nauni jadi harus mengalami hal tragis itu bahkan saat ia baru saja menginjak usia delapan tahun.
“Abang. Panggil diri kamu Abang,” balas Natami dengan suara yang serak karena terlalu lama menangis.
“Iya, sudah. Abang gak papa, Mama jangan kebanyakan nangis, nanti wajahnya bengkak kayak Esha.”
Noa terkekeh dalam hati, mungkin jika gadis itu ada di sampingnya sekarang, Esha akan berkacak pinggang dan melotot kepadanya, tidak terima diejek.
“Setelah apa yang Mama lakukan sama Abang, Abang masih bisa maafin Mama semudah ini?” tanya Natami lirih, ia masih duduk di sofa ruangan rawat Nauni.
Sementara Nauni sudah tertidur, gadis itu tertidur setelah cukup lama menangis mendengar semua pengakuan dosa orang tuanya kepada Kakak laki-lakinya.
“Gak mudah, Ma. Abang harus berperang dengan kewarasan, Abang harus berperang dengan pikiran dan hati yang gak sinkron. Tapi Abang bisa memaafkan Mama karena sejak dulu, Abang tidak pernah marah sama Mama dan Papa. Abang tau, Mama dan Papa hanya memerlukan waktu untuk sekedar mencerna situasi yang sulit.” Balas Noa penuh pengertian.
Untuk mendapatkan sebuah permohonan maaf sederhana ini, Noa harus mengorbankan banyak hal, termasuk kewarasannya. Maka jika ada yang mengatakan bahwa Noa terlalu lemah dan mudah memaafkan, semua itu tidaklah benar.
Noa harus berperang dengan kewarasan, harus berperang dengan pikiran dan hatinya, harus berperang dengan tubuhnya sendiri. Tapi, jika untuk hasil yang membahagiakan seperti ini Noa tidak pernah menyesal.
Noa tidak menyesal karena dulu sempat ingin bunuh diri. Mengapa? Karena jika bukan aksi nekatnya hari itu, ia tak akan pernah bertemu dengan teman-temannya bahkan Esha. Mungkin dulu ia akan pergi dengan hati yang belum sepenuhnya sembuh, dan pergi dengan menambahkan luka baru untuk keluarganya.
Hari ini, semua itu berbuah manis. Noa sudah mendapatkan semua kebahagiaannya lagi. Meskipun ia dulu harus tertatih-tatih sendirian.
“Esha pernah bilang sama Abang, sebaik atau bahkan seburuk apa pun hasilnya nanti, Abang dilarang untuk menyerah. Dan sekarang Abang senang, karena semua hal yang sudah Abang lewati itu berbuah manis. Abang bisa mendapatkan keluarga Abang kembali.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Couple
RomanceYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
