Esha menatap bingung tumpukan dress miliknya di atas tempat tidur. Esha memang sengaja mengeluarkan semua pakaiannya, karena ia kebingungan harus mengenakan apa untuk perayaan hari ulang tahunnya bersama dengan Noa nanti malam.
Tadi, setelah Noa mengantarnya pulang ke Bandung, cowok itu mengajaknya untuk merayakan hari lahirnya di sebuah atap gedung yang katanya sudah ia sewa untuk semalam.
Noa ingin di malam saat pergantian usia, Esha bisa langsung menatap jutaan bintang di langit. Cowok itu juga mengatakan bahwa akan menjadikannya seperti ratu malam ini, Esha sih iya-iya saja. Toh, Esha hanya perlu berdandan cantik, karena semuanya sudah di atur oleh Noa.
“Ini kamar anak gadis apa kamar orang gila? Berantakan bener,” Ezra menggelengkan kepalanya melihat kamar sang Adik yang sangat amat berantakan, beberapa pakaian tersampir asal di meja belajar bahkan di standing mirror.
Jangan tanyakan berapa banyak pakaian yang dimiliki Adiknya itu, karena sekarang puluhan pakaian dengan berbagai model itu sudah menutupi hampir semua barang di kamar Esha.
“Berisik deh, Mas. Mending bantuin Esha aja pilih dress yang bagus buat ketemu Noa nanti malam.” Balas Esha menatap kesal kedatangan Ezra.
“Yaelah, ribet amat sih, dek. Si Noa juga pasti gak akan pakai baju yang keren juga, paling cuma pake kemeja hitam andalannya itu.”
Esha melotot kesal, kemeja hitam andalan apa. Menurut Esha, style Noa bagus. Yang seharusnya di juluki manusia pakai baju sama terus itu Ezra sendiri. Karena nyatanya, Kakak lelakinya itu memang tidak memiliki banyak pakaian, sekali membeli pakaian modelnya selalu sama. Maka jangan heran jika Ibunya saja menyebutnya sebagai orang yang paling tidak modis.
“Berisik, Mas. Kalau gak bantu mending keluar aja deh, Esha gak perlu dengerin ocehan gak bermutu Mas itu.” Usir Esha menatap kesal tubuh jangkung Kakaknya yang bersandar di pintu kamarnya.
“Dih, yaudah.” Ezra berbalik dan melangkah turun ke dapur di mana Ayah dan Ibunya berada.
“Bu, Esha berantakin bajunya!” adu Ezra dengan suara yang sengaja dibuat keras.
“BERISIK, MAS!!” sahut Esha dari kamarnya.
“Mas, hobi banget gangguin Adiknya. Biarin aja, kenapa sih. Sirik amat liat Adiknya mau kencan, tuh.” Ujar Rosa menepuk pelan pundak anak sulungnya itu. “Kamu juga begitu dulu.”
“Gak ya, Mas gak lebay kayak Adek. Segala keluarin semua baju yang ada di lemari.” Elak Ezra, tidak terima disamakan dengan tingkah Adiknya.
“ESHA GAK LEBAY!!” teriak Esha lagi karena ia masih mendengar suara Kakaknya yang nyaring.
Esha mendengkus, masih menatap bingung tumpukan bajunya yang ada di atas tempat tidur. Karena tidak kunjung mendapatkan pencerahan maka Esha memutuskan untuk menghubungi Anna. Sahabatnya itu pasti akan lebih membantu.
“Halo, Na. Lo bisa bantuin gue, gak?” tanya Esha langsung saat panggilannya di angkat oleh Anna.
“Boleh, kenapa emang?”
Esha menghembuskan napas kasar, “bantuin gue pilih baju dong, Na. Gue mau ketemu sama Noa nanti malam, tapi baju gue mendadak jelek semua, bingung gue.”
“Noa nyuruh lo dandan?” Esha berdehem sebagai jawaban. “Yaudah nanti sore gue ke apartemen lo, deh.”
“Masalahnya gue sekarang di Bandung.” Esha berdecak sebal. “Lagian kalau gue di apartemen, udah gue hubungi lo dari tadi kali.”
Anna terdengar menghembuskan napas, “astaga, Esha. Gimana gue bisa bantu kalau lo aja di Bandung.”
“Ayo dong, Na. Bantuin, please.” Esha merengek, dia sudah kehabisan akal untuk memilih. “Ini pertama kalinya Noa begini, makanya bantuin, ya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Couple
RomansaYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
