051 || Hilang Tanpa Kabar

773 45 6
                                        

Pukul setengah sebelas malam, Esha sudah menunggu satu setengah jam di rooftop itu. Menunggu kedatangan Noa yang tak jua menunjukkan batang hidungnya. Padahal Noa sudah berjanji akan datang tepat waktu.

Esha sudah menunggu sedari tadi, memeluk lutut dan tubuhnya sendiri, menghalau dinginnya udara malam. “Noa, lo udah janji sama gue. Jadi cepat datang.” Gumam Esha di sela-sela desisannya.

Tubuh Esha sangat rentan dengan udara malam, tapi ia memaksakan untuk tetap tinggal menunggu kedatangan Noa. Esha kembali melihat ponselnya, pesan-pesan yang ia kirimkan kepada Noa belum ada yang berbalas. Pikiran Esha mulai kalut, takut terjadi suatu hal yang buruk kepada Noa.

Esha menarik napas lalu menghembuskannya pelan, berusaha menghalau pikiran-pikiran buruknya. “Noa, gue percaya lo pasti datang. Jadi, gue gak bakalan pergi sebelum lo datang.”

Detik hingga detik silih berganti, beberapa gedung sudah mematikan lampunya. Rumah-rumah yang berada di belakang kafe tempatnya menunggu juga sudah mulai padam penerangan. Artinya hari sudah larut, lewat tengah malam. Suasana jadi jauh lebih gelap.

Esha mendesis kedinginan lagi, semakin erat memeluk boneka bebek yang tersimpan di sana. Boneka bebek yang seharusnya menghantarkan hangat itu kini sudah terkontaminasi dengan udara malam yang dingin. Bulu-bulu halusnya tidak mampu menghantarkan hangat yang sama seperti pertama kali Esha memeluknya. Esha masih kedinginan.

“Noa, lo ke mana?” gumam Esha pelan sebelum gelap mengambil alih raganya. Esha, gadis manis itu jatuh pingsan di antara gelapnya malam.

🌻🌻🌻

“BANGSAT!! ANGKAT ANJING!!”

Ezra mengumpat kasar kala sambungan teleponnya tak juga di angkat. Entah ke mana Noa, yang jelas Ezra marah sekarang. Marah karena Noa melanggar janjinya sendiri, Noa menyakiti Adiknya. Dan sebagai seorang Kakak Ezra tidak terima.

Walau pun ia cukup dekat dengan Noa, tetapi kemarahannya tak pandang bulu. Noa tetaplah salah karena melanggar janji untuk tidak menyakiti Esha.

“Mas, udahlah biarkan Noa. Kita fokus dengan Adek dulu.” Rosa mendekat berusaha menenangkan anak sulungnya yang sedang tersulut emosi.

“Tapi, Bu-"

“Mas,”

Ezra langsung mengangguk menuruti permintaan Ibunya, sekarang kesehatan Adiknya memang jauh lebih penting.

Satu jam sebelumnya, saat jam menunjukkan pukul satu malam, mendapati Adiknya belum juga pulang ke rumah. Ezra langsung bergegas ke tempat Esha berada. Karena ia pikir Esha terlalu asyik berduaan sampai lupa waktu.

Sayangnya bukannya kebucinan yang ia lihat, melainkan tubuh Adiknya yang tergeletak tanpa daya di atas karpet berbulu. Tidak ada Noa, dan dapat Ezra artikan bahwa cowok itu tidak datang menemui Esha.

Esha terserang demam tinggi karena duduk berjam-jam di tengah dinginnya udara malam. Saat pertama kali Ezra membawa Esha ke rumah sakit, demamnya mencapai tiga puluh delapan derajat.

Tangan Esha juga dingin, kulitnya pucat seperti kulit mayat. Kakinya lecet karena terlalu lama memakai flatshoes.

Ezra tidak bisa menahan amarah melihat keadaan Adiknya yang memprihatinkan, Ia langsung menghubungi Noa saat itu juga.

Sayangnya Noa tidak bisa di hubungi, nomor cowok itu tidak aktif. Puluhan kali Ezra hubungi, tetapi yang memberi jawaban hanya operator bukan Noa. Cowok itu menghilang tanpa kabar, membuat Ezra semakin merasa marah.

“Awas lo, Noa.” Desis Ezra menatap marah ponselnya yang masih memperlihatkan sebaris angka-angka nomor Noa.

🌻🌻🌻

Hidden Couple Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang