Aku membuka mata secara perlahan setelah dia membuka ikatan yang menutup mataku tadi. Spontan aku menutup mulut, terkejut kala melihat diriku sendiri di setiap dinding ruangan. Tunggu, itu benar-benar aku?
Ku tatap seseorang yang sejak tadi berdiri di hadapanku, senyumnya jika diartikan mungkin akan terdengar seperti ini, keren kan.
Ya, aku tak perlu heran karena dia memang sangat percaya diri.
Tetapi bukan itu poinnya sekarang, aku ingin tahu sejak kapan lukisan-lukisan itu dibuat. “Kapan kamu lukis semua ini?”
Dia tersenyum, senyum yang masih sama menawannya sejak dulu. “Dari SMA, saat pertama kali kita kencan di bangunan kosong.”
Hah, selama itu? Bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu?
Padahal sejak dulu dia selalu bersamaku, bahkan lebih sering berada di apartemenku ketimbang apartemennya sendiri. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menghasilkan lukisan sebanyak ini?
“Jangan bohong, Mas.” Ujarku penuh penekanan, aku tidak percaya begitu saja.
Dia malah terkekeh kecil, “aku gak bohong, kalau gak percaya tanya aja sama haji Thoriq.”
“Mas..” desisku kesal karena dia yang masih bercanda padahal aku bertanya serius.
“Bener, sayang. Kapan sih aku bohong sama kamu? Dari dulu gak percayaan amat perasaan.” Dia memutar bola matanya malas, mungkin kesal karena aku masih tidak percaya kepadanya.
“Tanya sama Jiel sana, kalau gak percaya sama aku.”
Aku mengulum senyum, bibirnya yang mencebik masih mengingatkanku dengan anak bebek. Tidak ada yang berubah darinya, hanya tinggi badan dan rupa wajahnya saja yang bertambah tegas. Semuanya masih sama, tengilnya masih sama, apalagi manjanya yang malah kian bertambah.
“Serius, Mas..”
Aku bisa mendengarnya mendengkus kesal, tangannya yang sejak tadi tersimpan di saku celana kini terulur menangkup pipiku yang kata dia tak pernah tirus. “Kenapa gak percaya banget sih, heran. Perlu aku hubungi Jiel sekarang biar kamu percaya, heh?”
Aku terkekeh, menggelengkan kepalaku pelan, “gak perlu.”
Dia melepaskan tangannya dari pipiku, lantas menarik lembut lenganku untuk melihat lebih jelas lukisan-lukisan yang katanya sudah ia lukis sejak saat pertama kali kami kencan.
Kaki kami terhenti, tepat di sebuah lukisan di mana aku sedang membelakanginya sembari menghadap langit yang bertabur bintang. “Ini adalah lukisan kedua yang aku buat tentang kamu, tapi menjadi lukisan pertama yang berhasil aku selesaikan.” Tanpa di minta dia menjelaskan.
“Yang pertama memang apa?” tanyaku penasaran.
Dia tersenyum, dapat aku rasakan bahwa tubuhnya mendekat dan melayangkan kecupan di atas puncak kepalaku sekilas. “Yang aku kasih ke kamu sebagai hadiah, itu yang pertama.”
“Katanya kamu baru menyelesaikannya waktu itu.” Ujarku tak mengerti, jika memang yang pertama kenapa saat itu dia mengatakan bahwa dia baru saja menyelesaikan lukisannya.
“Aku cuma buat sketsa, baru aku kasih warna saat ulang tahun kamu waktu itu.”
Aku mengangguk paham, ternyata seperti itu. Aku kira itu memang satu-satunya lukisan tentangku yang dia buat. Ternyata tidak, aku salah besar, karena nyatanya di ruangan ini terdapat banyak sekali lukisan wajahku dengan berbagai ekspresi. Ada aku yang tengah tersenyum, aku yang marah, bahkan aku yang menangis pun ada.
“Kalau yang ini, aku buat saat terakhir kali kita bertemu.” Jari telunjuknya yang cantik itu menunjuk lukisan di mana aku sedang duduk di atas rerumputan dengan backround langit yang masih sama seperti tadi.
Aku ingat ini, pasti ini adalah lukisan saat malam terakhir kami di Bukit Bintang sebelum dia memutuskan untuk melanjutkan study-nya di Jepang. Mengejar mimpinya sebagai seorang seniman di negara di mana ia lahir.
“Waktu kamu putusin aku,” tambahku.
“Sayang, kan aku udah bilang-"
“Kalau kamu mau kita fokus belajar dan mengejar mimpi dulu. Iya, tau Mas. Aku udah ribuan kali denger itu.” Aku meneruskan ucapannya, dengan ucapan yang sama saat dia memutuskan hubungan kami di malam itu.
Dia kembali mengerucutkan bibirnya, merajuk lagi. Huh, akhir-akhir ini dia memang sering sekali merajuk. Padahal seingatku, dulu dia lah yang sering membuatku marah, bahkan lebih menyebalkan dari sikapnya yang sekarang. Tetapi kini, dia malah terasa lebih manja, mudah merajuk, meski tengilnya masih sama.
Beberapa tahun sudah berlalu, tetapi rasanya semua masih tetap sama. Perasaan yang aku miliki untuknya masih sama seperti dulu, seperti saat pertama kali aku menyadari bahwa aku jatuh hati padanya. Perasaan itu tidak berubah, malah semakin bertambah kuat seiring dengan berjalannya waktu.
Aku menarik senyum lembut saat lengannya kini memeluk erat tubuhku yang berada di depannya. Kepalanya bertumpu di bahu kananku, hingga aku bisa merasakan deru napasnya yang berembus di sekitar leherku.
“Makasih udah nunggu aku, tanpa berpaling kepada siapa pun.” Suaranya yang rendah sempat membuat bulu-bulu halus di sekitar leherku terangkat, aku merinding mendengar suara rendahnya.
Tanganku yang terbebas ku angkat untuk menyentuh leher yang masih terdapat kalung pemberiannya. Kalung liontin bunga matahari itu tidak pernah ku lepas meski sekali. Aku selalu memakainya sepanjang waktu, dan saat dia pergi kalung inilah yang selalu menemaniku.
Ketika dia pergi, aku tidak pernah merasa sendiri, karena kalung pemberiannya itu selalu mengingatkanku dengan kehadirannya. Seolah-olah tubuhnya yang tinggi itu tidak pernah benar-benar meninggalkanku sendirian.
“Aku yang harusnya berterima kasih. Terima kasih karena kamu masih menjadikan aku satu-satunya dari dulu, terima kasih karena kamu masih bertahan, dan terima kasih untuk segala waktu yang kamu berikan untuk aku.”
Selesai dengan kalimat ku, dia kini melonggarkan pelukannya, menarik tubuhku agar kembali menghadapnya. Jemarinya yang panjang itu mengelus lembut puncak kepalaku, “jangan pernah bosan sama aku ya. Kita bangun rumah sama-sama, rumah yang sebenar-benarnya rumah.”
Aku tersenyum, menghambur masuk ke dalam pelukannya yang hangat. “Tentu.”
Tentu saja, aku akan selalu bersamanya hingga ujung waktu, membangun sebuah rumah yang sebenar-benarnya rumah. Rumah yang di dalamnya berisi kebahagiaan saja, karena aku tidak ingin di dalam rumah itu terdapat kesedihan apalagi tangisan. Biarkan kebahagiaan saja yang memenuhi rumah yang kami buat itu.
Terima kasih Kazuhiko Noa, sudah bersedia menjadi rumah tempatku pulang. Terima kasih Noa Azarel, sudah menemani masa remajaku.
Terima kasih semesta, sudah membiarkan laki-laki hebat ini masuk ke dalam kisah hidupku.
🌻🌻🌻
Dan, selesai.
Epilog nya cuma sampai sini, semoga kalian suka dengan ending yang aku buat. Karena cerita ini sudah aku rangkai dengan baik, semoga tidak mengecewakan ya.
Lagi, aku mau berterima kasih buat kalian yang berkenan membaca cerita ini sampai selesai. Tak lupa aku juga mau ngingetin kalian buat selalu vote cerita ini, karena satu vote dari kalian sangat berarti buat aku.
Selalu dukung aku ya, mari kawal bersama series IHS ini hingga selesai.
Terima kasih semua. Aku sangat-sangat berterima kasih. Sayang-sayangnyaa Noa, tungguin juga series kedua setelah ini yaa!!
Love banyak dari pacar Heeseung
Sa
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Couple
RomanceYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
