Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

054 || Kebahagiaan yang Utuh

791 32 0
                                        

Noa tersenyum tipis menatap riuhnya rumah yang dulu tidak diizinkan untuk ia injak. Suasana rumah menjadi ramai setelah ia mengundang beberapa orang terdekatnya untuk bersama merayakan kepindahan orang tuanya dan syukuran kembali untuk rumah lamanya yang beberapa tahun tidak di huni.

Noa menarik senyum semakin jelas lagi kala netranya bertubrukan dengan netra cerah milik kekasihnya sendiri, Esha. Gadisnya itu sedang berjalan menghampirinya, tidak ada yang spesial dari penampilan Esha, tetapi entah mengapa Noa malah dibuat terpesona.

“Kenapa, gue cantik, ya?” tanya Esha iseng ketika melihat Noa yang tidak berkedip ketika menatapnya. Namun jawaban yang ia terima dari Noa malah membuat pipinya jadi menghangat, dan dapat Esha pastikan bahwa pipinya itu kini tengah bersemu.

“Selalu, lo selalu cantik, Shey.”

Akhir-akhir ini, Noa tidak lagi memanggilnya Esha, melainkan Shea, nama depannya. Entah alasannya apa. Namun jika boleh jujur Esha menyukainya.

“Lo gak papa, kan? Ayah gak mukul, lo?” tanya Esha kala mengingat bahwa hari ini adalah pertemuan pertama antara Noa dan Johan, Ayahnya. Setelah insiden Noa meninggalkannya sendirian di rooftop kafe.

Esha ingat, terakhir kali Ayahnya itu sangat marah kepada Noa. Esha takut Ayahnya akan menghajar Noa seperti halnya Ezra yang memukul Noa beberapa hari yang lalu.

Noa menggeleng, dia menunduk menyejajarkan wajahnya dengan Esha. Membiarkan Esha melihat sendiri wajahnya. “Gak ada luka yang baru, kan?”

Kali ini Esha yang mengangguk, memang tidak ada luka yang baru. Luka di wajah Noa hanya bekas luka dari Ezra yang belum sepenuhnya hilang. Wajah Noa juga sudah mendingan, tidak sejelek saat wajahnya babak belur.

“Seneng deh, liat Ayah Ibu akur sama Mama dan Papa lo.” Seru Esha mengalihkan perhatiannya kepada Ayah dan Ibunya yang sedang bercengkerama dengan kedua orang tua Noa.

Awalnya Esha kira kedua orang tuanya akan menjadi canggung dengan kedua orang tua Noa. Ternyata pikirannya salah, keempat orang dewasa itu malah jauh lebih akrab dari yang ia kira.

Bicara tentang orang tuanya, Esha jadi teringat dengan tangisan Ibunya saat Ezra memberi tahu alasan mengapa Noa meninggalkannya sendirian malam itu. Ibunya langsung menangis seraya menunjuk-nunjuk Ayahnya. Yang Esha ingat Ibunya itu berkata seperti ini, “tuh, apa Ibu bilang. Noa gak mungkin tega ninggalin Esha secara sengaja.”

Yang pada akhirnya membuat Ezra dan Ayahnya tidak mendapatkan jatah makan, sederhananya Ibunya itu ngambek.

“Kita udah dapat restu, jadi kapan mau serius?” bisik Noa tepat di samping telinga Esha, gadis itu kini tak lagi menghadapnya melainkan memunggunginya. Jadi, Noa bisa leluasa berbisik di telinga Esha.

Bukannya tersipu, Esha malah memberikan Noa hadiah berupa pukulan di tangan nakalnya yang sudah memeluk lehernya tanpa tahu tempat. “Lepasin tangan lo!” desis Esha.

Esha akan merasa biasa saja jika pelukan itu lembut, tapi Noa bukannya memeluk lembut. Cowok itu seperti berusaha membunuhnya, karena pelukannya sangat erat sekali, jatuhnya seperti mencekik.

Tidak memedulikan protes sang kekasih, Noa malah menarik Esha menjauh dari kerumunan orang-orang. Noa menarik Esha hingga ke gazebo di halaman belakang rumahnya.

“Gue punya sesuatu buat lo,” katanya seraya melepaskan tangannya.

Esha mendengkus, tak ayal dia juga bertanya seraya menyentuh lehernya yang sedikit panas karena ulah Noa tadi. “Apa?”

Esha tidak bisa untuk tidak tersenyum kala sebuah kalung berwarna silver dengan liontin bunga matahari menggantung tepat di depan matanya. “Cantik banget.”

Hidden Couple Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang