Noa menenggelamkan wajahnya semakin dalam ke lipatan tangan, tidak ia pedulikan suara nyaring Bu Feni guru sejarah yang sedang menerangkan sejarah Indonesia dengan begitu rinci, padahal sebenarnya materi yang diterangkan sudah tertulis lengkap di buku paket.
Tidak hanya Noa, teman-teman lainnya pun seperti itu. Pelajaran sejarah itu membosankan bagi Noa, karena materinya hanya itu-itu saja sejak jaman SMP dulu, mungkin ditambahkan beberapa bagian saja.
Tidur Noa semakin terasa pulas karena suara halus Bu Feni sangat menenangkan untuk di dengar, rasanya seperti ada yang sedang membacakan dongeng. Poin yang paling pentingnya Bu Feni adalah salah satu guru wanita yang sangat baik, ia tak pernah sekali marah, meskipun setiap kali ia mengajar selalu saja ada yang tertidur pulas. Mungkin bagi Bu Feni lebih baik mereka tertidur di kelas daripada membolos dari pelajarannya.
Di sampingnya Adrian juga sama, dia menutup wajahnya dengan buku paket yang sengaja dibuat berdiri. Adrian memang ketua kelas, tetapi kelakuannya tak jauh berbeda dari Noa dan teman kelasnya yang lain.
Di depan Noa pun sama, Bayu dan Wahyu terlelap saling berhadapan hanya terhalang buku paket yang digunakan untuk menutupi wajah Bayu. Saka, Agan apalagi, dua gila di kelas IPA 3 itu bahkan tidur saling memeluk lengan.
Yang tidak terlelap hanya cewek-cewek saja, ada cowok juga itu pun bagian siswa-siswa yang memang benar-benar berniat belajar.
Hingga suara bel istirahat berbunyi pun tak berhasil membangunkan yang terlelap.
Di depan sana Bu Feni menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, tangannya lantas bergerak mencatat nama-nama yang hari ini mendengarkan penjelasannya. Ya, meskipun ia membiarkan anak-anak didiknya yang tertidur, bukan berarti ia juga akan memberikan nilai secara cuma-cuma. Anak-anak didik yang ia catat namanya-lah yang akan mendapatkan nilai lebih baik.
“Ya sudah, Ibu cukupkan sampai di sini. Nanti minggu depan kita sambung, jangan lupa untuk mengerjakan tugasnya juga, ya. Beri tahu teman-teman yang lain juga.” Setelah mendapatkan balasan baru Bu Feni melangkah keluar dari ruang kelas.
“WOY!!” Alika, gadis bermata sipit itu menggebrak meja menggunakan garis panjang yang memang sengaja di simpan Erin di meja mereka.
Beberapa orang terbangun karena terkejut, termasuk Adrian. Si Ketua kelas itu lantas mengerjapkan mata menyesuaikan pencahayaan. “Apaan, Lika?”
Erin berdiri setelah berterima kasih kepada Alika, berhubung suara Erin yang hari ini sedang serak jadi ia meminta Alika untuk berteriak menggantikannya. Ada pengumuman yang harus ia berikan kepada teman-teman sekelasnya itu. “Yan, Esha sini lo berdua."
Walau pun tidak tahu tujuan Erin memanggilnya, Esha tetap beranjak dari duduknya menuju ke depan kelas di mana Erin berdiri sekarang. “Apa, Rin?”
Adrian juga menghampiri dua cewek itu dengan langkahnya yang sempoyongan. “Apaan?” tanyanya juga seraya menguap lebar.
“Tutup mulut lo, Yan. Bau jogging!!” canda Esha seraya menutup hidungnya.
“Jigong, Sha. Jogging mah lari!” timpal Alika yang sudah duduk kembali di tempatnya.
“Iya, itu maksud gue.”
Adrian memutar bola matanya malas, “sembarang.”
“Udah, gue lagi gak kuat buat ladeni lo berdua. Nih, mending baca.” Erin melerai sembari menyerahkan ponselnya kepada Adrian dan Esha. Di ponsel itu ada isi pesannya bersama dengan Bu Karin, sang wali kelas.
“Ke Bogor?” tanya Esha. Isi pesan yang ia lihat di ponsel Erin bersama dengan Bu Karin itu adalah pembahasan perihal liburan kelas yang sudah Bu Karin janjikan semester yang lalu saat mereka menghasilkan banyak uang di bazar sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Couple
Storie d'AmoreYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
