Noa menarik sebuah senyum tipis kala ukiran nama Esha ada di antara celah-celah liontin bunga matahari yang ia request langsung kepada pembuatnya. Satu bulan lagi adalah hari ulang tahun Esha, dan Noa sengaja membeli hadiah kalung itu dari jauh-jauh hari.
Jika ada seseorang yang bertanya mengapa ia memilih liontin bunga matahari, akan Noa jawab dengan sederhana. Karena bunga matahari selalu mengingatkannya dengan Esha, bunga matahari selalu bersinar dengan indah setiap kali dia mekar. Dan Esha selalu bersinar setiap kali dia tersenyum.
Rushea Esha, nama yang cantik, secantik rupanya.
Sejujurnya Noa tidak pernah menyangka bahwa ia akan berakhir jatuh cinta sedalam ini kepada Esha. Ia kira perasaannya hanya sementara, ternyata tidak. Bahkan Noa rasa, perasaannya semakin bertambah kuat setiap kali ia melihat Esha, melihat senyum menawan gadisnya.
Noa bahkan ingat dengan jelas malam yang membuatnya tersenyum tanpa henti, malam di mana Esha menerimanya sebagai kekasihnya. Anggukan pelan dan balasan rasa sayang dari Esha masih terekam jelas di kepalanya.
Wajahnya yang cantik, semakin terlihat cantik di bawah cahaya rembulan. Netranya yang selalu berbinar itu tak berani menatap kepadanya. Jawaban sederhana yang Esha paparkan kala itu mampu membuat Noa diserang rasa bahagia tiada tara. Dan Noa berani bersumpah, kala itu adalah pertama kalinya Noa tersenyum lepas lagi setelah sekian lama.
"Sha, menurut lo cinta monyet itu apa?" tanya Noa, kala netra matanya tak sengaja menatap netra cerah Esha, si tetangga cerewet yang kini berhasil merebut hatinya.
"Cinta monyet? Ya cinta sesama spesies monyet lah." Jawaban asal itu malah membuat Noa kesal. Maka tanpa peduli tujuan awalnya bertanya, Noa malah melayangkan sentilan di pelipis Esha.
"Kok di sentil, sih. Kan emang bener cinta monyet itu adalah cinta antara monyet dan monyet."
Noa memutar bola matanya, "seterah! Nanya sama lo emang gak bakalan dapat jawaban yang bener, otaknya aja miring pasti jawabannya juga miring."
Kali ini Esha yang melayangkan pukulan di lengan Noa, tidak terima di ejek seperti itu. "Sembarangan. Nih, otak gue masih utuh, agak penyok aja dikit tadi kan habis di sentil lo."
"Bodo, Sha. Sekalian aja benerin tuh yang penyoknya, kalau bisa di cuci juga biar bersih tanpa noda."
Esha tertawa keras, merasa puas setelah menjahili cowok pelit di sampingnya itu. Keduanya memang sedang berada di rooftop sebuah gedung terbengkalai, tadi Noa lah yang mengajaknya ke tempat ini, entah untuk apa. Tetapi sejujurnya Esha sempat merasa takut, takut Noa sebenarnya menyimpan dendam kepadanya lalu berniat mendorongnya dari lantai paling atas gedung ini.
"Sewot amat sih, lo. Lagian tumben amat nanya begitu, aneh banget."
Noa berdecak kesal, "sesekali serius, Sha."
"Dih, memangnya mau nikah serius-serius segala."
"Emang lo mau nikah sama gue?" tanya Noa tiba-tiba membuat Esha spontan terbatuk, tersedak air liurnya sendiri.
"SMA aja baru beberapa bulan yang lalu, main ngajak nikah anak orang aja lo." Meski pun nyatanya terkejut, tetapi Esha membalasnya dengan santai seolah tidak terpengaruh. Padahal dalam hati ia bertanya-tanya maksud dari ucapan Noa itu.
"Yaudah pacaran aja dulu." Ajak Noa dengan santainya. Ia tidak mempunyai cara lain lagi selain ini. Habisnya rencana menembak romantis sudah ia rencanakan dikacaukan oleh Esha sendiri.
Perihal bertanya soal cinta monyet itu sebenarnya sengaja Noa tanyakan untuk memancing Esha membahas perasaan, nyatanya rencana itu sudah lebih dulu di gagalkan. Noa tidak bisa berpikir apa pun lagi selain ini, memang tidak romantis tetapi yang terpenting niatnya sama, menjadikan Esha sebagai kekasihnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Couple
RomansaYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
