II

2.9K 363 48
                                        

Selama ritual pernikahan, umumnya kedua mempelai tidak akan dipertemukan sampai seluruh upacara selesai. Keduanya baru akan bertemu saat malam hari, tepatnya pada saat malam pertamanya. Dan selama seharian penuh itu Jihoon harus mengikuti serangkaian upacara dan doa. Jaehyuk juga ikut serta bersama kedua orang tuanya.

Gaun besarnya ini merepotkan dan Jaehyuk lah yang berjasa membantunya. Entah bagaimana harinya akan berlalu jika tak ada Jaehyuk yang rela menemaninya untuk yang terakhir kalinya. Kepalanya berat oleh perhiasan rambut yang terbuat dari emas dan berlian. Sepatunya juga merepotkan karena ukurannya kurang pas. Benar-benar hari yang melelahkan untuknya.

Dari satu kuil ke kuil lain. Pangeran yang lebih dulu mendatangi kuil untuk berdoa, yang kemudian disusul oleh Jihoon setelah pangeran selesai. Selama perjalanan itu ia dibawa oleh sebuah kereta kuda dan ia memaksa agar Jaehyuk diizinkan ikut duduk di dalam kereta bersamanya karena ia tahu ia akak mati bosan jika tidak ada teman. Seluruh permintaan pengantin akan dikabulkan, itulah sisi baiknya.

"Ini yang terakhir, setelah ini aku akan turun di depan gerbang istana. Selamat atas pernikahanmu," Jaehyuk berucap begitu akhirnya mereka kembali ke kereta setelah selesaikan doa di kuil terakhirnya.

"Jangan bicara begitu, bukankah itu berarti aku akan mati sebentar lagi," Jihoon berucap sendu, hampir menangis.

"Hei, jangan menangis lagi," Jaehyuk menggeser duduknya, lalu usap setetes air mata yang lolos dari pelupuk mata Jihoon. "Ingat saja, kamu punya takdir yang indah, iya kan? Kamu pasti akan tetap hidup, percayalah," ucapnya seraya meraih tangan Jihoon dan menggenggamnya dengan erat. Dalam lubuk hatinya, ia juga ingin menangis tapi ia harus tetap tersenyum agar Jihoon tidak semakin bersedih.

Kereta kudanya berhenti di depan gerbang istana. Jaehyuk segera keluar. Dari jendela keretanya Jihoon menatap keluar menatap kedua orang tuanya yang tersenyum bahagia ke arahnya, yang juga ia tahu bahwa seluruh senyum itu adalah palsu. Mereka harus relakan satu-satunya putranya menuju gerbang antara hidup dan mati.

Malam bertambah larut. Jihoon duduk sendirian di atas ranjang, di dalam kamar pengantin, seorang diri dengan hanya berteman kegugupan. Ia harusnya mengenakan penutup wajah dan baru boleh dilepas setelah suaminya sendiri yang melepasnya, tapi Jihoon sudah melepasnya lebih dulu setelah satu jam ia menunggu dengan bosan. Pandangan matanya mengedar jelajahi isi kamar yang hanya disinari cahaya tamaram lampu ditambah sinar rembulan yang sedang purnama.

Jihoon bangkit, gaunnya ia angkat naik agar kakinya ridak terserempet saat berjalan karena jujur saja selama seharian ini sudah tak terhitung berapa kali ia hampir jatuh tersandung gaunnya sendiri. Merepotkan, dan ingin rasanya ia segera melepas gaun cantiknya ini tapi ia tak bisa karena suaminya belum datang menemuinya.

Langkah kakinya dibawa menuju dinding di ujung ruangan. Matanya melebar begitu melihat apa yang memenuhi dinding tersebut. Sebuah lukisan. Lukisan setiap wajah cantik para wanita yang pernah dinikahi pangeran. Jihoon jelas mengenali setiap wajah itu, terutama lukisan yang ada di urutan paling bawah di ujung kiri. Yeji, wanita yang dinikahi pangeran sebelum dirinya.

Hatinya kembali risau. Ketakutan merayapi jiwanya saat melihat bagaimana setiap wajah cantik itu tersenyum manis dalam lukisan. Namun dalam kesunyian, ia bagai dapat mendengar tangisan memilukan dari setiap wajah di sana. Perlahan kakinya melangkah mundur.

"Yang Mulia Pangeran Kim Junkyu telah tiba."

"Hah?" Jihoon terkejut ketika suara pengawal yang menjaga di depan pintu terdengar beritahukan kedatangan suaminya. "Tunggu sebentar, aku-AW!"

Brakk!

Jihoon terburu-buru melangkah, yang mana justru membuatnya tersandung dan jatuh mencium lantai kayu. Rintihannya terdengar hampir menangis. Jihoon bangkit duduk sambil mengusap kepalanya yang nyeri karena terbentur.

Cadar [ kyuhoon ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang