Tahun-tahun kembali berlalu. Di kehidupan keempatnya Jihoon berhasil mendapatkan seluruh kekuatan yang dijanjikan dan seluruh kutukan pada bumi telah dimusnahkan. Begitu menginjak usia dua puluh, Jihoon meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya. Masa remajanya usai begitu saja dengan berbagai macam rencana yang ia susun untuk mencari takdirnya.
Dalam perjalanan pertamanya Jihoon menuju Pavana, kembali ke tanah airnya. Di tengah dunia yang terus berkembang dan bertambah modern, Jihoon berusaha membaur agar tak terlihat mencolok. Seluruh ingatannya terkumpul kembali, dan bagaimana kisah kehidupannya yang kemarin kini tersimpan baik dalam memorinya.
Makam kerajaan Pavana adalah yang dituju, bukan lagi untuk menabur bunga pada nisan sang raja tetapi untuk letakkan sebuah kata terima kasih pada salah satu istri raja makamnya berada tepat di samping kirinya. Sebuket bunga tulip di letakkan di atas tanah kering yang rumputnya lebat di depan nisan dengan nama Karina terukir di atasnya.
"Karina, maaf karena Aeri yang terpaksa memantuku, kamu jadi kesulitan di kehidupan terakhirmu. Harusnya hari itu aku mati, tapi Aeri menjual jiwamu untuk membantuku hidup. Terima kasih, karenamu aku mendapat kesempatan membesarkan anakku."
Jihoon menoleh ke samping, pada baru nisan Junghwan yang masih berdiri sendirian.
"Andai saja Aeri punya makamnya sendiri, aku juga mau berterima kasih padanya. Dia juga telah menjaga putraku."
Setangkai tulip turut ia tinggalkan di makam Junghwan, lalu berlalu pergi dari sana sebelum langit sore semakin mendung.
Tujuan hidupnya tak lagi penting. Di usianya yang tak akan bertambah tua, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu sambil memastikan bahwa tak ada lagi keserakahan yang berakibat buruk bagi umat manusia. Ia bukan penjaga kedamaian, tapi ia harus memastikan bahwa Sang Dewi tak akan dapatkan perlakuan yang sama lagi.
Di kehidupannya yang sekarang, sebenarnya ia tak harus mencari atau menjaga Junkyu tapi, sama seperti yang dilakukan Aeri dulu, Jihoon juga akan pergi mencari Junkyu untuk berjaga-jaga.
Cinta? Tentunya Jihoon masih memiliki cinta tersebut walau ratusan tahun telah berlalu, dan walaupun di kehidupan sebelumnya ia tidak berakhir bersama Junkyu, tapi cintanya tetap ada dan bertahan.
𝓣𝓱𝓮 𝓮𝓷𝓭 𝓸𝓯 𝓒𝓪𝓭𝓪𝓻
"Menurutmu bagus yang ini atau yang itu."
Di bawah terik sinar mentari, di tengah keramaian pasar, juga tekanan rasa lapar dan haus, Junkyu harus menahan emosinya. Dua dua jam ia berkeliling tanpa istirahat bahkan sejenak, tanpa rasa kemanusiaan dipaksa terus berdiri menunggu tanpa kepastian kapan penderitaan ini akan berakhir. Junkyu hanya bisa menangis dalam diam.
"Junkyu!"
"Hah?"
Junkyu terkejut. Saat ia menoleh, ia sudah disuguhi wajah cemberut Minjeong yang rasanya ingin ia pukul saat itu juga. "Apa, maaf aku gak denger," tanyanya dengan lembut berusaha menahan emosinya.
"Yaudah lah kamu gak dengerin aku juga, aku ambil ini kamu bayar."
Junkyu berdecak sebal tapi tetap membayar apa yang dibeli Minjeong. Ia hanya bisa meringis saat melihat isi dompetnya yang kian tipis karena seharian dipakai untuk membelanjakan semua kemauan Minjeong. Rasanya mau marah saja, tapi ia tidak bisa karena toh nanti ibunya akan mengganti semua uangnya.
"Bisa gak kita berhenti dulu, aku capek jalan terus dari tadi," tak tahan juga, akhirnya Junkyu suarakan keluhan yang syukurnya langsung didengar dan dituruti oleh Minjeong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cadar [ kyuhoon ]
FanfictionB O Y S L O V E [ COMPLETED ] Sang Pangeran dari Pavana yang tak pernah tampakkan wajahnya. Rumor-rumor gila dibiarkan berkeliaran di seluruh negeri tentang Sang Pangeran yang dianggap memiliki paras cacat dan terkutuk. Sihir hitam dipercayai telah...
![Cadar [ kyuhoon ]](https://img.wattpad.com/cover/352550454-64-k220915.jpg)