XVIII

2K 237 62
                                        

Siang itu Jihoon disibukkan oleh beberapa tangkai bunga segar yang sedang ia rangkai dan diikat dengan pita. Bunga-bunga kecil penuh warna itu menyegarkan mata dengan aromanya yang juga harum. Setelah selesai menyusun bunganya, Jihoon lantas bangkit berdiri untuk mengikat bunga tersebut ke gaunnya.

Kedua tangannya terulur ke belakang berusaha mengikat tali pita tersebut di melingkari pinggangnya. Namun kemudian ia dibuat terkejut saat ada tangan lain yang menyentuh tangannya. Jihoon reflek membalikkan badan dengan mata terbelalak, hampir teriak memarahi siapa pun yang sudah berani masuk ke kamarnya tanpa izin. Namun bibirnya kemudian justru bungkam begitu dapati bahwa Junkyulah yang kini berdiri di hadapannya.

Bibirnya berdecak. "Mengagetkan saja, kukira siapa," ucapnya sebal kemudian kembali membelakangi Junkyu. "Tolong ikat yang benar ya," ucapnya lagi malah memerintah. Junkyu tentu tak akan memprotes dan justru turuti perintah Jihoon.

"Tumben sekali ya, Yang Mulia datang kemari siang-siang begini, apakah ada sesuatu yang sangat penting?"

"Apakah ingin bertemu dengan istriku sendiri tidak cukup jadi alasan yang penting?"

Kalimat pendek tersebut berhasil undang senyumnya kembali mengembang. Aliran nadinya terus desirkan sebuah perasaan yang ciptakan banyak letupan menyenangkan dalam perut dan degup jantungnya. Usai Mengikat pita tersebut kedua tangannya justru melingkari pinggang Jihoon, netranya menatap pantulan wajah cantik Jihoon di cermin sementara Jihoon justru hanya fokus memperhatikan gaun hijaunya yang kini berpadu manis dengan rangkaian bunganya.

"Oh, Yang Mulia," Jihoon langsung memutar tubuhnya menghadap pada Junkyu, buat Junkyu otomatis lepaskan pelukannya dan mengangkat kepala.

"Kamu ingat soal gelang yang pernah diberikan Pangeran Yoshi padaku dulu itu? Aku selalu lupa untuk menanyakan ini, apakah aku boleh memakainya?"

Junkyu mengerutkan wajah, dan dari munculnya kerutan di kening Junkyu saja Jihoon sudah dapat menebak bahwa suaminya itu akan kembali melarangnya jadi sebelum Junkyu sempat menjawab, Jihoon sudah lebih dulu berkata, "Di gelang itu ternyata ada sihirnya tahu, dan Pangeran Yoshi bilang gelang itu bisa menyembuhkan luka, bolehkah aku memakainya? Untuk jaga-jaga jika aku terluka lagi jadi aku tidak perlu pergi jauh sampai ke kota untuk menemui Ibuku."

Jihoon mengatupkan kedua tangannya, dalam hati berharap agar Junkyu langsung saja berikan izin padanya setelah mendengar penjelasannya. Namun ia justru melihat suaminya itu semakin tautkan alis.

"Apa hanya itu solusinya? Haruskah kamu memakai barang pemberian lelaki lain, saat kamu sendiri bilang padaku bahwa kamu tidak suka memakai perhiasan dan menolak saat aku ingin memebelikan satu untukmu?"

Lengkungan bibirnya semakin turun. "Eum, baiklah..., lagipula Pangeran Yoshi bilang dia akan kirimkan lagi gelangnya kemari sebagai hadiah dari Kerajaan Iceland, jadi gelang itu tidak akan diberikan atas namanya sendiri melainkan atas nama Kerajaannya, jika seperti itu, maka aku boleh memakainya kan?"

Junkyu dibuat makin bungkam. Dari sini saja ia sudah tahu jelas apa motif utama Yoshi mau melakukan semua hal tersebut. "Apa perlu sampai sejauh itu? Hanya demi memberimu sebuah hadiah kacil?" ucapnya lagi masih dengan nada tak sukanya.

"Ya, Pangeran Yoshi bilang, mungkin kami bisa berteman?"

Junkyu mendelik. Makin merasa aneh dengan tujuan di putra bungsu Kerajaan berselimut salju tersebut. "Dia pasti punya tujuan lain kenapa sampai mau melakukan semua itu."

"Iya aku tahu," jawab Jihoon. "Dia kan ingin berteman denganku, jadi ya ini sebagai hadiah pertemanan saja," lanjutnya begitu saja buat Junkyu kehilangan kata.

Junkyu memalingkan wajah. Ia tak akan berhasil menolak permintaan Jihoon tapi juga tidak ingin memberi izin begitu saja. Sedangkan Jihoon kemudian justru meraih wajah Junkyu dan membawanya kembali menatapnya. Jemarinya bergerak melepas cadar yang menutup wajah masam Junkyu.

Cadar [ kyuhoon ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang