[END]
Natasha Kalalisa, harus terjebak dengan permainan yang diciptakan gadis itu sendiri. Kejadian tak terduga mempertemukannya dengan laki-laki bernama Reyden Wang. Dirasa menemui seseorang yang tepat di waktu yang cenderung kepepet, muncul lah id...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Lisa, main yok!”
Suara lantang itu memecah keheningan suasana pagi hari di depan kediaman rumah Lisa. Handaru Bintang, pemuda dengan gayanya yang selalu heboh itu terlihat berdiri di depan pagar sambil menempelkan jarinya ke bel rumah, memencetnya berkali-kali dengan brutal. Suaranya nyaring bercampur dengan bunyi bel rumah yang terus-menerus berbunyi.
“Sekali aja, ege!”
Jihan yang kebetulan berdiri tepat di samping Bintang itu langsung menampol kepala belakang Bintang pelan. Sontak saja pemuda itu langsung meringis. Gerakan Jihan terjadi karena refleks, ekspresinya kesal sekaligus geli melihat ulah temannya yang tidak sabaran itu.
Sementara di belakang keduanya, Kun masih bertengger santai di atas motor yang mesinnya belum dimatikan. Pemuda itu hanya memutar bola matanya pelan, cukup malas menyaksikan dua temannya itu ribut kecil. Pemandangan seperti ini sudah terlalu biasa, seakan paket hiburan gratis setiap kali mereka bertiga bersama.
Tidak lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Lisa keluar dan membukakan pagar dengan keadaan setengah terkejut. Gadis itu terkejut lantaran beberapa menit yang lalu baru menerima pesan mereka akan datang berkunjung ke rumah, tapi ternyata ketiga temannya sudah ada di hadapannya. Lisa beranggapan kalau mereka bertiga seolah-olah baru saja melakukan teleportasi.
Bintang dengan enteng menjawab, “Pas nge-chat lo tadi, kita udah di pertigaan deket perkomplekan rumah lo sih tadi sebenernya.” Senyumnya ikutan terbit yang berhasil menenggelamkan mata sipitnya.
Lisa menghela napas pendek namun balas dengan senyum tipis. Lisa lantas mempersilakan ketiga temannya itu masuk. “Yaudah, ayo masuk.”
Bintang buru-buru mendorong motornya. Kun mematikan mesin dan ikut menuntun motornya ke dalam. Saat itulah, suara lembut seorang wanita dari dalam rumah ikut terdengar.
“Eh?! Jihan?”
Mama Tiffany muncul dari ambang pintu masuk rumah. Awalnya penasaran mendengar bel rumahnya yang ditekan secara kesetanan berkali-kali tadi. Begitu melihat tiga anak muda berdiri di depan rumahnya, senyumnya langsung merekah. Matanya berbinar ketika mengenali salah satunya, dan menebak-nebak dua sisanya karena belum pernah bertemu.
“Oh, ini Bintang sama Kun ya? Temennya Reyden, kan?” tanya Mama Tiffany begitu antusias dan kelewat ramah.
Bintang sontak berdiri lebih tegak, meski wajahnya jelas-jelas salah tingkah. Kun pun begitu. Bukan hanya karena disapa langsung, tapi juga karena Mamanya Lisa ternyata jauh lebih cantik daripada bayangan mereka.
“Hehe iya, Tante.” ucap Bintang sambil tersenyum lebar, mencoba terlihat percaya diri. “Saya Bintang, temennya Lisa juga. Yang paling ganteng sejagat raya pokoknya.” Bintang maju satu langkah untuk salim ke Mama Tiffany.