37. Oke, deal Om!

3.6K 444 229
                                        

"Lo bertiga ngapain di sini?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo bertiga ngapain di sini?"

Ucapan spontan itu keluar dari bibir Reyden, mengejutkan lima pasang mata yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Sontak saja kelima pasang mata yang berada di ruang tengah itu serentak menoleh. Keterkejutan mereka bukan hanya karena presensi Reyden yang datang secara tiba-tiba, tapi juga karena gaya masuknya yang tidak ada sopan-sopannya.

"Anjing! Ngagetin, bangsat!" pekik Bintang yang benar-benar kaget, lalu reflek menutup mulut saat sadar ada Papa Dion di sana. Posisi duduk Bintang memang paling dekat dengan posisi Reyden berada, jadi dialah yang paling terkejut.

"Salam woi, salam! Masuk rumah orang itu samlekom dulu. Nggak ada sopan-sopannya nih anak, nyelonong masuk gitu aja!" lanjutnya. Jari telunjuknya menunjuk wajah Reyden, sementara mulut dan matanya mengadu ke Papa Dion akan tingkah Reyden yang diluar nalar itu. "Om, liat Om! Ngeselin banget kan, Om!"

Dari tempatnya duduk, Papa Dion melipat korannya perlahanㅡmelirik ke arah sekumpulan bocah itu dengan tatapan lelah. Dari tadi Papa Dion sudah cukup pusing menghadapi keriuhan anak-anak muda yang begitu heboh itu. Dan kini bertambah lagi satu makhluk hidup yang jauh lebih membuat kepala Papa Dion pusing tujuh keliling. Kalau ketiga teman Lisa tadi mulutnya yang berisik, nah yang satu ini perangainya yang membuat Papa Dion refleks menyebut berkali-kali.

Alih-alih menanggapi Bintang, Reyden memilih melangkah tenang melewati ketiganya yang duduk lesehan di atas karpet. Reyden tidak ambil pusing pada tatapan kaget atau ocehan mereka. Fokusnya tertuju pada sosok Papa Dion yang duduk di sofa ujung sana dengan wibawa khas seorang perwira sekaligus seorang Ayah.

Tanpa ragu, Reyden menghampiri lalu membungkuk sedikit sambil mengulurkan tangan. "Pa..." sapanya lirih.

Papa Dion menghela napas, namun uluran tangan itu tetap disambut. Jemari besar dan hangatnya meremas pelan jemari Reyden, sebelum bergerak pelan menabok bibir Reyden yang sedang mencium punggung tangannya. Balasan salam yang singkat namun penuh arti, alias Papa Dion jengkel. "Nggak sopan banget masuk rumah orang. Jangan gitu kalo namu ke rumah orang lain!" tegurnya datar. Seolah ingin menegaskan bahwa Papa Dion sudah terbiasa dengan kelakuan bocah freak satu ini. Padahal juga baru bertemu sekali, itupun dua hari yang lalu. Tetapi seperti sudah dekat sekali saja kelihatannya.

"Aiden mana, Pa?" tanya Reyden setelah bergabung duduk di sofa dekat Papa Dion. Sofa di ruang tengah itu berbentuk letter L, Papa Dion duduk di ujung dan Reyden di ujung satunya lagi. Reyden lekas menggeser tubuhnya untuk bisa menyenderkan punggung. "Mama mana, Pa?" lanjutnya bertanya sambil mengedarkan pandangan, mencari sosok yang Reyden maksud. Walau aslinya mata legam itu mencuri-curi pandang ke tempat duduk anak gadis si pemilik rumah.

"Ngapain nyariin istri Papa?!"

Bintang, Kun, dan Jihan yang tadi sibuk dengan buku catatan masing-masing di lingkaran meja bundar sana, kini terdiam. Mereka saling melirik dengan mata memincing. Ekspresi mereka seperti orang yang baru saja melihat kejadian paling aneh sedunia. Reyden yang masuk ke rumah Lisa dengan begitu santai, dan tiba-tiba sudah duduk senyaman itu di samping sang kepala keluarga. Nyatanya masih membuat mereka bertiga terheran-heran. Terlebih kata panggilan 'Papa' dan 'Mama' yang Reyden ucapkan.

FAKE BOYFRIENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang