[END]
Natasha Kalalisa, harus terjebak dengan permainan yang diciptakan gadis itu sendiri. Kejadian tak terduga mempertemukannya dengan laki-laki bernama Reyden Wang. Dirasa menemui seseorang yang tepat di waktu yang cenderung kepepet, muncul lah id...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mereka tiba di resort sekitar pukul lima sore, tepat saat matahari mulai condong ke barat. Trip seharian penuh ke Phi Phi Island benar-benar menguras tenaga lebih dari yang mereka kira. Karena terlampau kelelahan, jadi kelimanya sepakat untuk langsung istirahat di kamar masing-masing.
Energi Bintang dan Kun sepertinya juga sudah lowbat. Begitu pintu kamar tertutup, keduanya langsung tumbang di kasur. Benar-benar langsung tidur, bahkan tidak ada sisa energi untuk sekadar mandi dan berganti pakaian. Reyden di kamarnya pun sepertinya juga sama begitu. Bedanya, Reyden masih sempat memesan layanan kamar untuk mereka makan malam. Jadi kelimanya tidak perlu keluar resort lagi untuk mencari makan.
Dan sekarang ini waktu sudah menunjuk ke pukul sembilan malam. Terbilang cukup cepat berlalu.
Lisa berada di kamar sendirian. Jihan tadi sesampainya di kamar langsung bebersih dan mengeluh badannya terasa remuk semua. Jadi Lisa menyarankan sahabatnya itu untuk tidur dan beristirahat. Kalau perlu setelah makan malam pergi ke spa saja untuk merilekskan tubuh. Dan benar saja, sekitar satu jam lalu Jihan pamit pergi ke spa yang ada di lantai dua bersama Kun. Sampai sekarang gadis itu belum juga kembali.
Lisa sendiri saat ini sedang rebahan di kasur sambil memainkan ponsel. Sibuk scroll video yang muncul di halaman fyp-nya. Beberapa kali Lisa kehilangan fokus, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiran. Sampai sebuah video dari seorang konten kreator yang sedang unboxing mesin cuci muncul di layar, barulah Lisa teringat.
"Astaga, gue lupa!" ucap Lisa memekik keras. Tangannya bahkan sampai harus menepuk dahinya sendiri karena melupakan pakaian kotor yang tadi digunakannya berenang. Lisa langsung beranjak, mengambil pakaian kotornya yang masih terongok rapi di dalam kantong plastik. Lisa akan membawanya ke fasilitas laundry coin yang tersedia di resort, mumpung ingat dan ada niat.
Lisa meraih kartu akses kamar dan keluar dari kamar, lalu menutup pintunya pelan. Tidak lupa Lisa juga menyempatkan mengabari Jihan kalau ia pergi ke tempat laundry sebentar. Jaga-jaga supaya sahabatnya itu tidak panik saat kembali dan tidak mendapati dirinya di dalam kamar. Dengan begitu Lisa juga tenang meski keluar tanpa membawa ponsel, sebab ponselnya juga sedang di-charge karena low bat.
Lisa berjalan pelan menyusuri koridor lantai enam. Bisa dibilang suasana cukup sepi sebab hari juga sudah cukup malam. Namun lampu-lampu terang yang menyala di sepanjang lorong membuat suasana tetap aman, sama sekali tidak menyeramkan. Jadi meski berjalan seorang diri pun, Lisa juga tetap tenang dan merasa aman.
Lisa memasuki lift lalu turun ke lantai satu, tempat laundry coin berada. Saat berjalan menyusuri koridor lantai enam tadi terasa sepi, lain cerita dengan di lantai satu yang justru begitu ramai. Area outdoor dipenuhi tamu yang terlihat duduk santai. Kebetulan terdapat party pool dan garden yang membuat suasana malam semakin ramai. Musik juga terdengar keras, beradu dengan tawa tamu yang saling bersahutan. Lisa hanya melihatnya sekilas, tidak berniat lama-lama karena tujuan utamanya turun hanya ingin laundry baju kotornya saja.