[END]
Natasha Kalalisa, harus terjebak dengan permainan yang diciptakan gadis itu sendiri. Kejadian tak terduga mempertemukannya dengan laki-laki bernama Reyden Wang. Dirasa menemui seseorang yang tepat di waktu yang cenderung kepepet, muncul lah id...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lisa melangkah panjang-panjang mengikuti langkah kaki Reyden. Kepalanya menunduk namun matanya menatap lurus langkah pemuda di depannya itu. Sesekali Lisa menambah laju berjalannya jika sekiranya jarak keduanya terlalu jauh. Bahkan sangking lebarnya jangkah kaki Reyden, Lisa harus sedikit berlari agar tidak tertinggal jauh. Setelah tiba di parkiran barulah Lisa berhenti. Menunggu si pemilik motor mengenakan helm dan sarung tangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Naik." Reyden berucap setelah menyalakan mesin motornya. Memberi kode Lisa supaya segera naik.
Lisa tentu saja kikuk beberapa saat. Ada banyak hal yang terasa mengganjal di benaknya. Pertama, ini pertama kalinya Lisa naik motor sport modelan seperti milik Reyden ini. Kedua, bagaimana cara naiknya. Tidak ada pegangan dan ini sungguh tinggi sekali terlebih Lisa juga memakai rok. Ketiga, ini juga pertama kalinya Lisa pulang bersama Reyden dengan status hubungan mereka tidak sedekat itu. Rasanya sangat canggung sekali.
Ini benar-benar serius, Lisa harus pulang dengan Reyden?
"Budeg lo? Naik!"
Decakan dari mulut Reyden membuat Lisa tersentak. Gadis itu langsung berjalan mendekat saat matanya tadi tak sengaja menatap Reyden yang menatapnya kesal. Lisa tahu Reyden pasti emosi padanya karena membuat pemuda itu menunggu.
Lagi-lagi Lisa terdiam di samping motor Reyden. Memikirkan cara menaiki motor setinggi ini. Tidak lucu kalau terlalu gegabah naik begitu saja dan malah berakhir jatuh terjerembab. Pasti berakhir malu sekali.
"Emm, Rey. Gue kayaknya pulang sendiri aja deh. Gue bisa naik ojek online." akhirnya setelah sekian lama berpikir kalimat penolakan yang paling tepat, Lisa bersuara. Sungguhan Lisa tidak nyaman dengan situasi ini, sangat awkward sekali. Lisa terlalu malu dan memiliki rasa bersalah teramat tinggi ke Reyden. Hingga berdampingan seperti ini saja membuat Lisa merasa gugup sekaligus takut disaat bersamaan.
"Gue maksa."
Mata Lisa melebar sesaat, "Apa?"
"Cepetan naik!" Reyden tak kuasa untuk tidak geregetan. Helm yang membungkus kepalanya hanya mampu menampilkan bagian mata saja. Dan dari kedua mata itu saja Lisa sudah melihat tatapan yang ditunjukan padanya begitu tajam. Membuat nyali Lisa lagi-lagi menciut.