"Nanti aku mau take a picture di depan ikan-ikan!"
"Okey."
"Not only one, Papa. Tapi banyak."
"Siap."
"Terus ——"
"Qwin, he's driving. Let him be focused, okay?"
Alih-alih menuruti nasihat wanita di kursi belakang, Qwin kembali asyik berceloteh. Ia yang duduk di sebelah Sagan kembali mengajak ayahnya bicara. Sambil mendengarkan, Sagan melirik spion atas. Tenang saja. Mungkin begitu maksud tatapannya.
Mereka dalam perjalanan menuju wisata akuarium raksasa. Tadinya seperti rencana awal, hanya Qwin dan Arletta. Tapi pada akhirnya si Panah Runcing menyetujui rengekan Qwin.
Biasanya Arletta tidak mau ikut jika ada Sagan. Mungkin demi melihat senyum anaknya, juga membayar "utang" kebersamaan sebelumnya, ia lantas setuju. Untuk mengantisipasi beberapa hal, Arletta sengaja menjaga jarak. Ia duduk di kursi belakangan, hanya bicara jika diperlukan, dan membawa tablet elektronik berisi tugas kantor untuk menyibukkan diri.
"Kok, masih panggil Kancil? Emangnya dia nggak marah kamu panggil begitu?"
Pertanyaan Sagan terinterupsi oleh dering ponselnya. Sambil tetap menjaga fokus pada jalan, ia memeriksa benda pipih itu. Nama Malvi tertera di sana. Belum sempat ia buka suara, Qwin sudah berceloteh lagi.
"No calling while driving, Papa!"
"Cuma sebentar," kata Sagan. Terhadap Malvi di sambungan telepon ia berkata, "Iya, Na."
Arletta mengatur napas, tangannya berpegangan erat pada sabuk. Dalam hati ia berharap anaknya kembali menegur soal no calling while driving. Bagaimanapun, kecelakaan malam itu membuatnya sedikit trauma. Makanya sampai sekarang ia belum berani nyetir sendiri.
"Mas lagi di jalan." Sagan berhenti bicara sejenak. "Iya. Tadi pas ngecek emang macet."
Walau laju mobil berkurangan, Arletta tetap mengencangkan cengkeraman.
"Mobil, dong. Kalau naik motor mana bisa?"
Arletta mencolek bahu Qwin, anak itu mendongak. Ia mengisyaratkan no calling while driving. Qwin mengangguk paham.
"Papa, calling while driving itu bahaya," kata Qwin sambil merebut benda pipih di tangan Sagan. Anak itu bicara pada ponsel, "Tante Malvi, please call Papa nanti. He's driving now."
Qwin menekan sesuatu di layar. Sambungan lantas terputus. Setelahnya, anak itu menaruh ponsel di dashboard.
"Papa pura-pura lupa aku sama Mommy almost die karena car accident, ya?"
"Maafin Papa, ya. Lain kali nggak diulangi."
Sagan merasa tidak enak karena celotehan Qwin tidak terdengar lagi di sisa perjalanan. Ketika melirik ke sisi kiri, anak itu tampak cemberut. Sagan melihat ke spion atas, tapi wanita di bangku belakang cuma melirik sekilas. Baiklah, sepertinya Sagan harus berusaha sendiri.
"Qwin, jangan marah, dong."
Sagan hendak mendaratkan usapan ke puncak kepala Qwin, tapi anak itu menepisnya.
"Aku nggak mau ngomong!" dengus Qwin seraya melipat tangan di dada.
"Yah, masa nanti diam-diaman?"
Qwin malah semakin merajuk. Ia menggeser badan ke sisi jendela.
"Qwin Sayang. Anak cantik. Kesayangan Papa."
"Just be quite and continue driving!"
Sagan mengembus napas. Ia tidak pernah hapal isi hati perempuan, tapi yang ia tahu, apa yang diucapkan mereka selalu kontradiktif dengan kemauan. Sikap Qwin begini mengingatkannya pada seseorang. Bilangnya jangan chat atau telepon lagi, tapi giliran dituruti malah uring-uringan. Bilangnya nggak pernah cemburu, tapi minta semua password media sosial. Bilangnya no sex before marriage, tapi selalu milih tempat sepi untuk kencan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaus Kaki yang Hilang
RomanceBagi Malvi, menjalani hubungan dengan Sagan bukanlah sesuatu yang mudah. Lelaki itu bukan cuma sudah punya anak, Malvi pun merasa kekasihnya itu belum menyelesaikan masa lalunya. Setiap hari dirinya mengumpulkan alasan untuk mempertahankan hubungan...
