Akuarium

1.4K 264 94
                                        

Arletta memasuki area wisata sambil memijat bahunya yang sakit. Banyak sekali manusia di sini. Mulai dari rombongan anak sekolah, hingga pasangan sejoli. Tidak ada yang berjalan sendiri seperti dirinya. Apalagi celangak-celinguk macam anak hilang.

Ketika pencariannya tidak menemukan hasil, Arletta menyambungkan panggilan ke ponsel Sagan. Belum sempat mendengar deringan, dia langsung mematikannya. Ia baru ingat ponsel Sagan masih di dashboard.

Sepuluh menit berlalu. Masih belum ditemukannya Qwin maupun Sagan. Cuma seliweran orang, juga rombongan ikan-ikan di balik kaca. Ia sempat salah terka hingga dua kali, mengira anak kecil beransel my little pony adalah putrinya. Beberapa menit kemudian bahunya minta ampun. Sejak kecelakaan, bagian itu memang mudah sekali linu. Ia duduk pada salah satu bangku sambil memijat bahu. Kepalanya tetap berusaha mencari.

"Capek nggak, Sayang?"

Dua sosok itu muncul dengan sendirinya. Arletta mengerjap beberapa kali untuk memastikan. Qwin dan Sagan tampak membelakangi dari jarak sekian meter. Pantas saja! Gerutunya dalam hati. Dari tadi ia fokus pada anak-anak beransel. Ternyata punggung Qwin justru kosong, malah Sagan yang memakai tas my little pony.

Dan, apa itu di kepalanya? Sagan tampak menggelikan dengan bando duyung kelap-kelip. Beberapa anak di sekitarnya terkekeh. Satu-dua merengek minta dibelikan yang sama persis pada ibunya.

Arletta beringsut. Baru berjalan lima langkah, niatnya menghampiri mendadak terurung. Ia memelankan pergerakan, memerhatikan mereka dari jarak sekian meter.

"Aku mau itu, Pa."

Arletta mendongak ke arah yang ditunjuk Qwin. Awalnya ia jengkel lantaran Sagan tidak memberi penolakan padahal hal ini sudah diinfokan berkali-kali. Qwin nggak boleh jajan sembarangan, apalagi es krim. Tapi kejengkelannya berangsur turun. Selain geli melihat bando duyung kelap-kelip di kepala Sagan, yang disaksikannya agak mengusik isi hati.

"Dipanggil Bayik nggak mau, tapi minum es krim masih belepotan," Sagan berujar seraya geleng-geleng kepala.

Qwin nyengir, sementara Sagan berjongkok. Dia melepas ransel my little pony lalu mengambil tisu basah dan air mineral di dalamnya. Ia membantu Qwin minum, menadahkan tangan agar tetesan air tidak jatuh.

Setelah Qwin minum, Sagan mulai membersihkan bekas es krim. Dengan telaten ia mengelap bibir anaknya yang belepotan cokelat. Tidak lupa membersihkan jari-jarinya juga.

"Lihat jempolnya. Ih, jelek banget," kata Sagan sambil mengelap ibu jari Qwin. "Kapan, sih, mau berhenti isap jari sebelum tidur? Dasar Bayik!"

"I'm not Bayik. I'm Qwin."

Sagan kembali geleng-geleng kepala. Ia lanjut mengelap pelipis anaknya yang berkeringat, mencolek kotoran di sudut mata menggunakan kelingking, dan merapikan rambut Qwin.

Arletta menyimak semua percakapan mereka. Entah kenapa semakin lama ia merasa semakin kerdil. Qwin terlihat sangat menikmati waktunya bersama Sagan. Tidak sedikitpun rengekan, keluhan, atau omelan keluar. Qwin juga tidak ingat padanya. Anak itu tidak menyebut namanya satu kalipun. Cuma Papa, Papa, dan Papa.

"Lho, itu Mommy? Mommy!"

Arletta terkejut saat anak itu tahu-tahu menyahut.

Sagan mendongak ke arah yang ditunjuk Qwin. Arletta melambai singkat, lalu berjalan ke tempat mereka. Sebelum kakinya sampai, Sagan melepas bando kelap-kelipnya lalu berdiri.

"Did you finish your work, Mommy?"

"Yep."

Qwin mengepalkan kedua tangan dan berkata, "Yes, kita bisa continue!"

Kaus Kaki yang HilangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang