Kenangan Retak

1.6K 253 50
                                        

"Ay, sudah siang."

Bahu Arletta diguncang pelan. Hal pertama yang dilihatnya adalah senyum Sagan yang memikat. Langit-langit kamar dengan bercak cokelat bekas hujan terlalu kontras dengan sebingkai wajahnya. Gigi Sagan berkilau. Napasnya segar. Sekujur wajahnya seperti ikut tersenyum.

Ketika Arletta hendak duduk, tiba-tiba saja Sagan menyanyikan lagu ulang tahun. Kekasihnya itu memegangi black forest berdiameter sepuluh senti. Lilin berbentuk angka dua dan nol menancap di atasnya. Senyum Sagan makin cemerlang di balik lilin yang menyala.

"Selamat panjang umur dan bahagia."

Arletta menatap Sagan dengan berkaca-kaca. Air mata dan sisa belek membaur. Ia ikut merekahkah sumiran ketika Sagan mendekatkan kue ke hadapannya.

"Selamat ulang tahu, Pacarku yang Cantik," bisik Sagan sambil membantu Arletta duduk. Beberapa bantal ditaruhnya di punggung Arletta. "Make a wish sebelum tiup lilin, Ay."

Arletta memejam sejenak, merapalkan doa dalam hati, barulah mematikan api. Potongan pertama masuk bibirnya sendiri. Suapan kedua untuk Sagan.

"Hari ini kita ajak Bayik main, yuk," kata Sagan sambil mengunyah.

Arletta menyeka krim di bibi Sagan dengan ibu jari. "Nggak bimbingan?"

"Pembimbingku ubah jadwal ke besok. Kebetulan juga hari ini aku bisa cuti."

"Serius?"

"Yep." Sagan mengangguk-angguk. "Ini saat yang tepat untuk bikin Bayik senang."

"Bayik saja yang dibikin senang?"

"Nggak, dong. Mamanya juga."

Arletta menadahkan tangan. "Mana kado buat yang ultah?"

"Oh, sudah kusiapkan."

Sagan beringsut dari dipan. Berjalan mundur dengan tangan disembunyikan ke balik punggung. Sambil senyum-senyum, ia mengambil sesuatu dari saku celana. Tanpa aiueo, dia melipat kaki ke bawah, menumpu tubuh dengan lutut. Kedua tangannya mengangsurkan kotak merah beludru. Yang di tengah-tengahnya ada cincin.

"Arbaletta Sitra Kanara, ayo, kita menikah."

Arletta tertegun. Meski sebelumnya pernah membayangkan lamaran ini ——tapi tidak dalam keadaan berbadan dua—— ia cukup terkejut. Sagan melamarnya! Tanpa bisa dicegah, mata perempuan itu berkaca-kaca lagi. Bening di kedua pelupuk matanya pecah.

"Maaf, ya, baru ungkapin sekarang. Kemarin-kemarin aku butuh keberanian buat bilang ini."

*
*
*

"Ngutang pada rentenir? Cih."

Marshal bungkam sambil menelan ludah. Raut pamannya begitu dingin tapi sunggingan bibirnya mengindikasikan kebengisan. Satu-satunya makhluk yang pernah Marshal lihat dengan tatapa begini hanya serigala. Buas tanpa rasa kasihan.

Di ruang kerja ini hanya ada mereka, juga dua cangkir teh yang sudah dingin. Marshal datang untuk melaporkan hasil pengintaian. Awalnya Sulthan memberengut ketika keponakannya bilang Arletta tampak bahagia di tengah kesengsaraan. Namun, begitu dijabarkan keadaan sebenarnya, senyum Sulthan merekah.

"Kapan Om mau jemput Letta?" tanya Marshal. Tidak bermaksud menasihati, tapi tetap berharap masukannya dituruti. Tidak sampai hati Marshal melihat sepupunya sekarang.

Fisik Arletta memang tampak berubah. Bukan saja karena hamil, tapi juga wajahnya tidak sebercahaya dulu. Kelihatan sekali lingkungan telah menyerap kecantikannya. Rambutnya panjang tidak terawat. Kulitnya kusam. Matanya tidak segar. Wajahnya punya beberapa jerawat. Jika tidak meneliti secara detail, barangkali orang tidak akan sadar kalau itu Arbaletta Sitra Kanara.

Kaus Kaki yang HilangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang