"Oh, jadi pacar lebih penting ketimbang anak?"
Sagan memijat pangkal hidung saat mendengar suara Arletta lewat ponsel. Kecemasan yang mencekam hati sejak membuka mata bertambah lagi. Bukan saja karena agenda bersama Malvi, melainkan permintaan Qwin yang disampaikan Arletta.
Sejak menjadi investor di The Kevik, aturan mengenai perjumpaan Qwin bergeser. Sagan tidak lagi dibatasi untuk menemui putrinya. Sekarang kapanpun Qwin mau bertemu, Sagan bisa langsung datang. Di rumah, sekolah, tempat les, di manapun.
Awalnya Sagan senang akan pergeseran aturan tersebut. Tapi kemudian ia sadar pembagian waktunya jadi agak berantakan. Sekarang, 24 jam rasanya masih kurang dalam sehari. Ada durasi yang tersita dan terpaksa mengorbankan hal lain.
"Qwin, kita pergi berdua." Suara Arletta di seberang sana terdengar sinis. "Papamu ada urusan sama pacarnya."
Sambungan diputus sepihak. Sagan mengembus napas sambil memasukkan ponsel ke saku. Saat berbalik, Malvi sedang melihat ke arahnya dengan tangan memangku dagu.
"Kenapa lagi dia?"
Sagan tidak menjawab. Ia mengajak Malvi berdiri dengan menggenggam tangannya. Mereka berjalan ke tempat parkir. Berpisah di kursi pengemudi dan penumpang.
Karena yang hapal jalan adalah Sagan, Malvi cuma bisa pasrah sepanjang mobil melata. Yang ia tahu, pacarnya akan mengajaknya bertemu Bapak——ayah Sagan. Malvi menganggap hal ini sebagai progres yang baik. Sebab bagaimanapun, selama ini Sagan tidak pernah membicarakan keluarganya secara detail. Dia cuma bilang ibunya meninggal saat lulus SMA, sementara sang ayah membiarkannya hidup mandiri.
Satu jam kemudian mobil mereka berhenti. Malvi melihat Sagan tengah mengatur napas.
"Kok, malah kamu yang lebih nervous, Mas?"
"Kelihatan, ya?"
"Tangan Mas gemetaran gitu."
Sagan menggaruk tengkuk. Ia menarik senyum tapi sumiran itu justru kelihatan kaku. Tidak bisa ditampik kalau ia gelisah sejak bangun tidur. Sepanjang jalan tangannya dingin dan jantungnya berdebar-debar.
Ini rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari, tapi baru sekarang Sagan merealisasikannya. Selain karena kesibukan yang menyita, ia butuh tekad yang bulat. Padahal kalau dipikir-pikir, apa susahnya anak yang ingin menemui ayah?
Tapi begitulah. Hubungan Sagan dengan sang ayah agak rumit. Lebih banyak hal buruk yang Sagan ingat mengenai si pemberang itu. Dulu, ia pernah berkelahi dengan anak Pak RT. Alih-alih dibela, atau diberi nasihat, ia justru lanjut dipukuli. Cara ayahnya memelotot sambil menyeret kerah bajunya, kemudian melepas ikat pinggang, dan disusul cambukan di punggung, momen-momen itu masih membekas di benak Sagan. Kalau tidak dihalangi mendiang ibunya, Sagan yakin sudah game over hari itu juga.
"Mas."Malvi menyadarkan Sagan dari lamunan. Sorot mata gadis itu memancarkankekhawatiran. "Kalau belum siap nggak usah dipaksain."
Malvi meremas tangan Sagan, lelaki itu mengatur napas lagi. Setelah darahnya mengalir lebih tenang, ia terlihat lebih siap. Malvi membuntuti ketika lelaki itu keluar mobil.
Bangunan di hadapan mereka terdiri dari satu lantai. Warnanya didominasi putih. Ada taman kolam ikan di depan, bersebelahan dengan lahan parkir yang saat ini dihinggapi kijang jadul.
Sagan membuka pagar, derit besi karatan terdengar nyaring. Sambil menggenggam tangan Malvi, ia berjalan ke arah pintu. Jantungnya semakin berdebar ketika mengetuk pintu.
"Pak?"
Bunyi kunci diputar terdengar dari dalam. Tanpa sadar genggaman tangan Sagan tambah erat. Ketika pintu dibuka, sesosok pria paruh baya muncul. Sagan meneguk ludah satu kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaus Kaki yang Hilang
RomanceBagi Malvi, menjalani hubungan dengan Sagan bukanlah sesuatu yang mudah. Lelaki itu bukan cuma sudah punya anak, Malvi pun merasa kekasihnya itu belum menyelesaikan masa lalunya. Setiap hari dirinya mengumpulkan alasan untuk mempertahankan hubungan...
